Change

Change
39.



"Kami teman dekat sejak lama, pak."


"Benarkah?!"


"Y, ya pak. Begitulah. Haha."


"Sejak kapan?! Kenapa kau tak pernah mengatakan itu pada kami?! Wow, ini sungguh fakta baru yang menakjubkan."


Lam masih mempertahankan senyum anehnya sambil mengelus lehernya yang akhirnya dilepaskan oleh Elly. Tak yakin jawaban seperti apa yang harus dilontarkannya.


"Mungkin ia malu. Dari dulu dia seperti itu."


Sontak Lam menoleh dan menatap tajam, memperingatkan Elly yang justru sedang tertawa renyah, disusul pak Anda yang juga tertawa.


"Benarkah? Itu mengejutkan. Kupikir ia adalah seorang pria berharga diri tinggi yang terkadang arogan dan melupakan sopan santunnya."


"Oh tidak, tidak. Itu hanyalah kulit luarnya. Terlihat seperti lelucon untukku yang telah mengenalnya lama. la bahkan tidak mengakui ketika menyukai seorang gadis."


"Hahahaha."


Lam gemetar menahan amarahnya. Kenapa pula jadi seperti ini? 2 manusia menyebalkan di depannya ini benar benar menggoda untuk ditonjok satu persatu.


Darahnya semakin mendidih saat matanya bertemu dengan mata Elly, tapi wanita itu justru tersenyum miring padanya. Deklarasi perang.


Ini tidak dapat diterima. la harus menyerang balik. Siapa bilang ia tidak bisa menyalurkan amarahnya dengan cara elegan?


"Tunggu dulu, pak Ando. Anda tidak akan tertawa jika mendengar alasanku tidak mengakuinya."


Oh? Elly bersiul dalam hati. Jadi pria ini menyambut tantangannya dan berencana


menyerangnya balik. Benar benar tipe pria pendendam yang tidak ingin kalah. Kita lihat apa yang bisa ia lakukan, batin Elly.


"Apa itu, Lam?"


"Sebagai pria, pasti anda juga tahu. Kita lebih menyukai gadis manis, seksi mungkin, lemah lembut, pemalu, dan cenderung manja. Pribadi yang membuat kita ingin melindungi mereka sepenuhnya."


Elly hampir tersedak karena menahan tawanya. Dari mana pula datangnya kata kata puitis itu. Ia tidak bisa mempercayai kalau semua itu keluar murni dari kepala Lam yang ia kira hanya berisi kata kata umpatan.


Pak Ando tesenyum geli. Cerita klasik milik dua orang yang tidak pernah disangkanya ini membuatnya tertarik.


"Ya, kau benar," tanggapnya singkat. Lebih menunggu Lam melanjutkan perkataannya.


"Sayangnya aku menyukai gadis yang perilakunya terbalik dengan semua kriteria sempurna itu. Dia gadis yang kasar, entah itu dari perilaku ataupun kata katanya. Ia suka sekali menarik kerahku saat ia marah. Penampilannya jauh dari kata manis atau seksi. Dan dia memiliki kekuatan lebih untuk dapat melindungi dirinya sendiri. Kurasa."


"Hahahaha." Tawa pak Ando pecah karena membayangkan gadis cintanya Lam. Elly mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Lihat. Bahkan anda tertawa. Karena inilah aku tidak pernah ingin mengakuinya pada siapapun."


"Aku benar benar ingin melihatnya," ujar pak Ando setelah menghentikan tawanya. Lam menyeringai. Ini yang ia tunggu. İa akan memenangkan perang ini.


"Dia ada disini, pak."


Deg!


Jantung Elly berdebar kencang bersamaan dengan diangkatnya wajahnya. Tatapannya bertemu dengan mata Lam.


la seharusnya tahu ini perang! la seharusnya tahu ia sedang dipojokkan! Tapi senyum sialan milik Lam sukses membungkamnya. Belum pernah pria itu menunjukkan senyum ini padanya. Sejak kapan pria ini tahu caranya membentuk otot pipinya menjadi senyuman itu?!


Siulan milik pak Ando menariknya kembali ke dunia nyata. Ia harus mengatakan sesuatu! Susah payah ia gerakkan bibirnya dan,


"Ma, maksudmu?"


Kenapa pula pertanyaan bodoh itu yang keluar?! teriaknya frustasi dalam hatinya diikuti umpatan berkali kali saat melihat senyum itu telah berubah kembali menjadi seringai yang menyebalkan. Sepertinya ini sesuai skenario yang dipikirkan bajingan ini, sialan, umpatnya.


Lam meraih tangannya, menggenggamnya erat sembari menatapnya dalam. Elly terkunci, tersedot dalam giok hitam Lam. İa tahu ia dalam bahaya, sekarang. Diliriknyo pak Ando yang justru terlihat menikmati drama yang mereka suguhkan.


Remasan ia rasakan di tangannya.


"Lihat aku."


Kenapa pola suara Lam terdengar lebih berat dari biasanya?!


"Itu kau, Elly."


Elly benar benar merasa seperti orang bodoh sekarang. Wajahnya panas bagai demam tinggi. Tubuhnya lemas. Pria ini bajingan, bajingan! unpatnya berkali kali mengingatkan dirinya untuk tidak terbuai. Tapi itu tadi pertama kalinya Lam menyebut namanya, dan sialan, itu terlalu...


Yah, pokoknya ia tidak tahu kalau namanya bisa terdengar seindah itu.


Lam terlihat menarik nafas seakan mengumpulkan kekuatannya yang tersisa.


"Walau kau jauh dari kata manis dan seksi, kekuatan supermu yang menakjubkan, kata kata dan perilakumu yang sama sekali tidak anggun ataupun feminim, itu semua adalah jati dirimu yang sebenarnya. Sisi dirimu yang hanya kau perlihatkan padaku. Dirimu yang kusukai."


Jelas sekali maksud pria ini adalah mempermalukannya. Elly salah perhitungan. Pria ini aktor hebat. İa pasti akan sukses jika berada di jurusan akting. Elly harus bergerak. İa harus dapat menangkis semua serangan ini.


Tapi belum sempat ia melakukan apapun, Lam sudah melepas tangannya cepat dan menggaruk belakang kepalanya sambil tertawa pelan, memasang raut mendung yang menakjubkan.


"Yah. tapi itu hanya masa lalu, pak. Sekarang tidak ada lagi perasaan itu. Lebih baik kita membicarakan persoalan kita saat ini."


Pak Ando yang tadi sempat terkesima dengan pernyataan Lam segera berdeham, lantas tersenyum bijak sambil mengangguk mengerti.


"İni menyentuhku. Tapi kau benar, Lam. Lebih baik kita tidak membahas masa lalu."


"Tetap saja, fakta bahwa nona Elly adalah gadis seperti yang Lam bicarakan terlalu mengejutkan."


"Hentikan, pak. la bisa memukulku dengan keras nanti," ujar Lam dengan nada takut yang dibuat buat. Elly menggertakkan giginya saat pak Ando tak lagi kuat menahan tawanya.


Lam meliriknya sekilas dan tersenyum miring, menggerakkan bibirnya pelan untuk mengatakan sesuatu saat mata Elly tertuju padanya.


"I'm win."


Elly mengepalkan tangannya, berniat melayangkannya pada Lam tak peduli apa pun konsekuensinya. Toh, pak Ando sudah tahu dirinya yang sebenarnya.


"Jadi apa yang mau kalian bicarakan?"


Oke, untuk sekarang pria sialan ini selamat. Tapi tidak nanti. Ia sudah membuang banyak waktu.


Elly berdeham. Mengembalikan ekspresinya yang biasa.


"Begini, pak. Seperti yang saya katakan, kami teman sejak lama. Kami selalu berbagi cerita saat menemui suatu kesulitan. Hari inipun


sama."


Lam menyenderkan tubuhnya. Tak berniat ikut campur sama sekali. Mereka sudah membicarakan ini saat makan tadi. Yang akan berbicara sepenuhnya adalah sang nona manager.


"Hari ini saya bercerita padanya kalau saya sedang mencari seorang model pendamping amatir dengan kriteria begini dan begitu. Klien


baru kami membutuhkannya."


"Mengapa harus model amatir?"


"Karena ini hanyalah percobaan. Yang artinya tanpa bayaran. Mereka ingin mencoba sesuatu yang belum tentu akan berjalan mulus. Bagi model pro, ini akan melukai harga diri mereka. Tapi bagi amatir, ini adalah kesempatan yang bagus untuk unjuk gigi."


Hebat, batin Lam. Wanita ini benar benar ahli negosiasi sejati. Entah dari mana ia mendapat ide 'percobaan klien' ini.


"Hmm." Pak Ando mengangguk nggangguk mengerti sebelum bertanya,


"Jadi, apakah anda telah menemukannya?"


Ellh menjentikkan jarinya.


"Disinilah intinya, pak. Saat saya mengatakan ini pada Lam, dia mengatakan kalau ada seorang calon model yang baru diloloskan dari BM langsung oleh pak Rom. Dia adalah pemuda yang lebih kurang seminggu yang lalu kami bawa kesini. Kalau tidak salah namanya, emm.."


"Vino?"


"Ya, ya dia, pak. Benar anak itu. Saat saya melihatnya waktu itu, saya setuju kalau ia memenuhi kriteria yang kami perlukan."


"Sungguh?!" Wajah pak Ando sumringah mendengarnya.


"Jika bapak mengizinkan, saya akan membawanya hari ini. Tentunya jika ia tidak memiliki program yang harus dikerjakan."


"Tidak, tidak nona. Dia kosong hari ini. Sungguh suatu kehormatan jika salah satu model kami bekerja langsung di bawah bimbingan manajer terbaik Rommy. Saya mohon bimbingan anda."


Pak Ando menundukkan sedikit kepalanya pada Elly. Elly tersenyum bangga sambil melirik Lam yang mendengus.


"Kalau begitu, kita sepakat pak."


Elly mengulurkan tangannya yang dijabat langsung oleh pak Ando.


"Saya minta maaf sebelumnya jika ia mengecewakan, nona. Dia belum mendapatkan pelatihan kerja apapun. Jika anda bersedia, kita bisa menggantinya dengan yang lebih layak."


"Tidak perlu, pak. Justru ini yang kami butuhkan. Terima kasih."


'Drrrt.'


Telefon pak Ando dan Elly yang bergetar bersamaan memutus interaksi mereka. Pak Ando bangkit dan menjauh untuk mengangkat panggilan, sementara Elly membuka pesan yang datang padanya.


Tak lama, pak Ando kembali dan berkata dengan raut menyesal,


"Sebenarnya saya masih ingin mengobrol lebih lama. Tapi saya mohon maaf, sekarang ada pekerjaan yang harus saya lakukan, nona."


Elly segera beranjak bangkit dari duduknya.


"Oh, tentu. Kami juga akan undur diri sekarang. Terima kasih atas waktu anda. Ayo, Lam."


Elly dan Lam melangkah keluar dari ruangan diiringi oleh pak Ando di belakang mereka.


Tepat sebelum pak Ando menutup pintu ruangannnya, ia berkata dengan raut jenaka, "Nona Elly, saya akan merahasiakan tentang anda. Jadi tolong jangan terlalu keras memukul Lam setelah ini. Dia staf penting kami."


"Ap-"


Belum sempat Elly membalas apapun, pintu ditutup di depan mereka.


"Ubhk." Lam yang hampir memuntahkan tawanya menutup mulutnya berkat kaki Elly yang menginjak keras kakinya. Tenaga wanita ini benar benar tidak main main. Untungnya ia tidak mengenakan high heel, batin Lam ngeri.


Elly melangkah maju dengan menghentakkan kakinya keras keras menjauhi Lam yang ia bertaruh sedang memasang seringai mengejek untuknya. Bullshit, umpatnya.


Sayangnya, taruhannya tidak tepat. Andai Elly menoleh. Andai Elly melihat dan menemukan kalau itu bukan seringai.


Lam sedang tertawa. Tawa kecil yang berasal dari hatinya.