Change

Change
33.



Vino mengikuti langkah Shirley keluar dari restoran. Shirley sudah mengenakan atribut penyamarannya. Sedangkan Vino yang


terlalu fokus memperhatikan langkah Shirley hampir jatuh karena tersandung trotoar yang tidak rata. Ya, ia tidak jadi jatuh berkat tangannya yang refleks mencari pegangan meraih lengan Shirley sebagai objek terdekat.


"Kau baik-baik saja?" Shirley yang melihat ke arah lengannya menyadarkan Vino untuk langsung melepaskan genggamannya.


"Maaf! Aku tidak sengaja, sungguh! Karena penglihatanku tidak terlalu baik, aku hampir terjatuh karena tersandung dan refleks meraih lenganmu."


Shirley tertawa mendengar itu, lantas menyodorkan tangannya dengan senyum jahil.


"Bagaimana kalau kita pegangan tangan saja? Aku bisa memandumu."


"Jangan bercanda."


"Aku tidak bercanda. Niat muliaku adalah membantu teman. Tidak lebih."


"Kalau begitu tidak perlu, terima kasih. Aku akan lebih berhati hati."


Tawa Shirley kembali mengalir melihat raut serius Vino.


"Oke, oke. Kalau begitu kita tidak perlu berjalan lebih jauh. Kita menunggu taksinya disini saja."


"Sebenarnya kita akan naik taksi kemana? Supir supirmu kemana?"


"Ini rahasia. Kalau sampai ada yang tahu aku bersama denganmu, ia akan melapor pada papa dan menimbulkan masalah. Hanya kak Elly yang berada di pihakku."


'Tin!'


"Ayo naik! Itu taksi yang kupesan."


Anggukan Vino tak ada artinya bagi Shirley yang sudah maju menyongsong taksi terlebih dahulu dan meraih pintu penumpang sebelah supir. Tepat saat ia hendak mendudukkan dirinya, Vino menahan lengannya dan menariknya perlahan ke belakang, lantas membukakan pintu bagian tengah untuknya.


"Biar aku yang duduk di depan."


Semburat merah menjalar di pipi Shirley. Hatinya menghangat sekaligus sakit menerima sikap baik Vino padanya. Perasaan asing yang benar benar menyiksanya.


"Dasar curang," bisiknya pelan bersamaan dengan Vino yang menutupkan pintunya dan bergerak duduk di sebelah supir.


"Hm? Kau mengatakan sesuatu!"


"Tidak!'


Vino hanya mengangkat bahunya bersamaan dengan taksi yang mulai berjalan dengan kecepatan sedang menuju alamat yang sudah tertera saat Shirley memesan kendaraan.


Pak supir setengah baya itu senyam senyum melihat Shirley yang misuh misuh sendiri sambil merona di belakang, maklum akan penumpang muda mudinya. Tangannya lantas bergerak menghidupkan musik


di mobilnya untuk mendramatisir suasana.


"Biar kayak sinetron sinetron," bisiknya sambil terkekeh dalam hati.


'Playing in the rain and wait the rainbow to come and we'll dance,


I wonder if you'd always be right here'


Suara iqbaal mengalun lembut di persegi berjalan tersebut.


Vino mengarahkan pandangannya ke arah luar, dimana bangunan bangunan pencakar langit mereka lewati satu persatu.


Bola matanya membesar saat salah satu bangunan yang terbesar dan tertinggi tertangkap oleh retinanya.


'B.J. Corp.'


Vino sontak menegakkan tubuhnya untuk mencari sosok yang ingin dilihatnya. Mengepalkan tangan saat sadar tindakannya sia sia. Selain pandangannya tidak baik, orang itu tidak akan berada di luar jika ia memang ada di kantornya.


Suara musik mendominasi keheningan di antara mereka.


"Apa lagunya yang tidak cocok ya?" Pak supir yang mulai jenuh karena menunggu terjadinya suatu adegan sinetron kembali berbisik dalam hatinya.


"Shirley."


Vino memanggil Shirley, memecah keheningan itu. Shirley yang juga sedang melamun kaget, pak supir berbinar.


"Akhirnya," bisiknya girang sebelum bergerak memasang earphone mati ke telinganya, berlagak tidak tertarik mendengar apapun.


"Boleh aku bertanya sesuatu?"


"Ciee ciee, apa kau mau jadi pacarku? Fufufu." Benak pak supir berbucin ria berbanding terbalik dengan muka sok stoic yang ditunjukkannya.


"Silahkan."


"Kalau tidak salah mamamu berkata 'kami di jauhkan darimu.' Apakah itu berarti bukan hanya mamamu yang dijauhkan darimu?"


"Loh? Ngebahas apa sih?" Pak supir yang nguping gagal faham dengan maksud pembicaraan.


Shirley menyandarkan tubuhnya sambil menarik nafas panjang.


"Itu pasti, Vino. Kata 'kami' yang digunakan mama pastinya merujuk pada mungkin 2 orang, 3 orang, atau lebih. Hanya mama yang kuingat. Artinya ada orang orang diluar sana yang kulupakan keberadaannya. Aku tidak tahu kepada siapa aku harus bertanya selain pada mama."


Vino bungkam. Betapa menyedihkannya hidup gadis ini. Tahu ada orang yang ia lupakan tapi tidak tahu bagaimana menemukan mereka. Kalimat Shirley selanjutnya membuat Vino mengambil keputusan untuk tidak lagi menyinggung masalah ini sebelum Shirley sendiri yang membukanya .


"Padahal aku yakin mereka orang yang berharga untukku."


Shirley terluka. Luka yang selalu ditutupinya hingga tidak ada yang menyadarinya bahwa itu belum sembuh. Dan entah bagaimana cara menyembuhkannya. Pak supir yang gagal mengerti pun tak lagi berbisik aneh aneh, seakan ikut merasakan pilu yang mendera hati gadis cantik di bangku tengah mobilnya


"Aku ingin mengingat mereka."


Sebuah permohonan. Vino maupun pak supir mengamini dalam hati masing masing. Musik kembali mendominasi keheningan, dan tak ada yang berniat merusaknya kali ini.


Elly berkali kali tersenyum dan mengangguk, membalas sapaan orang orang yang mengenalnya sambil terus melangkah. Tujuannya lantai teratas bangunan ini. Lantai BM, alias Body Maker.


la membuka pintu lantai teratas tersebut setelah tiba, lantas menyapukan pandangannya hingga matanya bersibobrok dengan kabin yang ukurannya lebih besar dari kabin kabin lainnya.


Menyapukan jemarinya ke rambutnya, ia melangkah maju. Menghadapi lagi si staf angkuh menyebalkan tapi (sialnya) tampan itu adalah hal terakhir yang ia inginkan. Tapi kali ini situasi darurat. Ia harus bisa membuat pria itu melakukan yang dimintanya. la percaya diri tentunya walau pria itu keras kepala. Negosiasi adalah keahliannya.


Ia berdiri di depan pintu kabin, bimbang antara mengetuk atau tidak. la sudah bertanya pada salah satu staf di bawah tentang keberadaan Lam Pierce (entah kenapa ia mengingat namanya dengan baik), ia dijawab bahwa pasti ia berada di sini, mengontrol sepenuhnya BM.


Akhirnya Elly menutuskan untuk tidak mengetuk melainkan langsung membukanya. Itu akan menegaskan kalau derajatnya lebih tinggi dari staf angkuh menyebalkan itu.


Tapi tangannya kembali terhenti di kenop pintu. Bagimana jika ia sedang berganti baju atau semacamnya?


"Aakh! Kau terlalu banyak berpikir, Elly!" bentaknya pada diri sendiri dan membuka pintu dengan tergesa. Matanya bertemu langsung dengan mata Lam yang terlonjak berdiri dari kursi kebesarannya. Melihat Lam yang berpakaian lengkap membuat Elly tak sadar menghembuskan nafas lega.


"Apa?! Kenapa kau disini?!" Lam yang paling tidak suka teritorinya dimasuki orang asing berang dan melupakan sopan santunnya.


"Kurasa kau tahu kalau aku mengajukan keluhan atas perilakumu, kau bisa langsung dipecat." Elly santai menanggapi sambil berjalan masuk dan mendudukkan diri di atas sofa.


Lam mengepalkan tangannya emosi.


"Apa maumu, nona manager?" katanya ketus.


"Aku ingin kau melakukan sesuatu."


Elly yang telah duduk menyilangkan Iengannya didepan dadanya, menatap Lam tajam.


Lam membalas tatapannya datar sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam sakunya.


"Dan jika aku menolak?"


"Aku akan memberitahukan pada Shiriey bahwa kau menyukainya."


Seringai kemenangan yang diukir Elly di wajahnya berangsur hilang saat didapatinya Lam tidak terpengaruh sedikitpun.


Lam justru mendengus dan bergerak kembali ke kursinya, meraih kembali headphonenya, hendak fokus pada monitor besar di depannya.


"Sayangnya, nona manager, Aku tak pernah mengatakan kalau aku menyukainya."


"Apa?!" Elly yang mendapat respon mengejutkan itu lantas bangkit dan menghampiri Lam, menggebrak meja kerjanya, menatap Lam tepat di matanya.


"Dari sikapmu menanyakan keberadaannya padaku tadi pagi, siapapun akan sadar kalau kau menyukainya! Tak perlu kata kata!"


Lam menarik sudut bibirnya sinis.


"Dia adalah bintang. Wajar bagi siapapun menanyakan keberadaannya, karena ketiadaannya adalah hal yang mencolok. Kalaupun kau mengatakan bualan itu padanya yang telah pastinya mendapatkan beribu pengakuan sama dari para penggemarnya, ia pasti hanya akan menganggapnya angin lalu. Tak ada yang bisa kau gunakan untuk memerasku, nona manager. Kecuali jika kau mau menggunakan kuasamu untuk mengancam memecatku, mungkin akan kupikirkan.


Walau kuharap kau bukan tipe rendahan seperti itu."


"Kau sialan!"


Lam terbelalak kaget saat Elly menarik kerahnya keras hingga tubuhnya maju ke depan. Mata mereka bertemu satu sama lain.


Jelaga hitam Elly seakan menyedot Lam kedalamnya. Begitu pula Elly yang terbius oleh pesona kedua biji giok hitam pekat milik Lam yang tajam dan menghipnotisnya. Nafas hangat mereka yang menyatu membangkitkan sesuatu dalam diri mereka msing masing. Wajah mereka yang hanya berjarak beberapa senti menyihir sekeliling, menyerap habis atmosfer hingga waktu bagai terhenti.


Jantung Elly berdegup kencang saat kemudian tatapan Lam jatuh ke bibirnya. Emosinya menguap entah kemana, berganti dengan kesadaran penuh bahwa makhluk didepannya adalah seorang pria.


'Tet tet-tet!'


Suara dari alarm darurat salah satu kabin menyentak mereka yang langsung melepaskan diri masing masing. Elly yang merona segera berbalik sambil memegang dadanya, menghentikan debaran jantungnya yang sempat menggila. Lam berdeham keras setelah memperbaiki kerahnya, lantas berkata ketus sebelum menarikan jarinya di atas keyboard, menghentikan aliran listrik kabin yang penghuninya meminta pemberhentian program. Berusaha keras mengenyahkan fantasi liarnya akan rasa benda lembap yang terlihat ranum itu.


"Pergilah! Sialan, kau mengganggu pekerjaanku!"


Elly yang berhasil mengembalikan ekspresi angkuhnya kembali berbalik menghadap Lam, menolak untuk kalah.


"Hanya duduk saja kau sombongkan!? Bahkan anak kecilpun bisa mengisi posisimu saat ini!"


"Haaaah." Lam yang kesal mendesah keras dan menyibak rambutnya ke belakang sebelum menatap Elly tajam.


"Nona Elly yang terhormat, mengalirnya listrik setengah ampere saja ke tubuh manusia sudah cukup untuk menghentikan jantung mereka. Aku ragu anak kecil dapat menangani hal yang bahkan manager ambassador utama 'Rommy' saja belum tentu dapat melakukannya."


"Aku bi-"


"Oh? Manager bisa? Manager memang hebat! Kalau begitu katakan padaku, berapa arus listrik maksimum yang aman diterima tubuh manusia?"


"Ukh.."


"Aku tak ada waktu untuk mendengarmu sementara nyawa mereka berada di tanganku. Kelalaian berarti kematian. Karena itu, dengan segala hormat, pergilah, nona. Tak ada yang bisa kulakukan untukmu."


Lam memperbaiki letak headphonenya, merapatkan kursinya ke mejanya, dan mulai memeriksa aliran listrik setiap kabin dengan seksama. Memastikan tidak ada kesalahan yang dapat berakibat fatal sekaligus mengabaikan sepenuhnya keberadaan wanita di sampingnya.


"....hon."


Samar Lam dapat mendengar kalau Elly mengatakan sesuatu, tapi ia lebih memilih lanjut mengabaikannya.


"....hon."


Dua kali, hitung Lam dalam hatinya. Terserah saja, lagipula tak ada untungnya bagi Lam jika ia menyahutinya.



Tak terdengar apapun lagi.


Oke, ia menyerah, pikir Lam yang terlambat menyadari kalau ia salah besar.