Change

Change
46. Step 1



"Ganti background!"


Teriakan Billy kembali terdengar disusul larian para kru kesana kemari. Pengambilan gambar memang berjalan mudah, cepat, dan lancar berkat Shirley yang fotonya selalu berhasil diambil bagus dari sudut dan angle manapun.


Tiba tiba Billy menoleh ke arah Vino dan berteriak,


"Kau anak muda, bersiap! Aku akan memberimu kesempatan di sesi ini!"


'Graaak!'


"Ba, baik!" Vino refleks bangkit dengan kasar dan berteriak menjawab di tengah jantungnya yang bergemuruh. Tangannya berkeringat dingin. Bahkan ia tak pernah bermimpi berdiri di depan puluhan kamera sebelumnya. Elly disebelahnya tertawa kecil melihat kegugupannya.


"Duduklah, tenangkan dirimu." Elly menarik tangan Vino untuk kembali duduk. Dirapikannya dasi dan kerah kemeja putih yang dikenakan Vino.


"Anggap saja ini sesi pemotretan tour wisata kampus atau semacamnya. Ia tidak akan menggunakan fotomu. Tidak ada orang bodoh yang akan menggunakan model amatir untuk bersanding dengan model dunia di pertaruhan bisnisnya."


"Aku tahu, tapi itu sama sekali tak membantu," keluh Vino.


"Hei, maksudku bukan begitu. Shirley juga tahu benar tentang ini. Maksud kami memberikan syarat ini hanyalah untuk memberimu kesempatan. Kesempatan untuk unjuk diri didepannya. Bagaimanapun, Billy adalah sutradara berpengalaman yang telah benar benar diakui kemampuannya. Jika ia melihat potensi dalam dirimu, maka jalanmu akan terbuka. Kau mengerti?"


Elly menatap langsung mata Vino dan menekankan setiap ucapannya. Vino mengangguk perlahan, tak yakin apa yang harus ia lakukan. Kilatan kamera yang tak berhenti selalu gagal membuatnya tenang.


"Oke, kemarilah!" Billy berteriak padanya setelah menjatuhkan diri di kursi dan mengambil minumannya, lantas menenggaknya.


Vino bangkit dengan gugup bercampur kesal karena diperlakukan seperti selingan. Ia mengerti sepenuhnya dengan ucapan Elly tadi. Tapi bagaimana caranya?


"Berdiri di samping nona Shirley! Konsep kalian adalah sepasang kekasih!"


Instruksi dari Billy itu mengejutkan Vino. Saat itulah matanya bertemu dengan mata Shirley yang menatap lembut padanya dengan senyumnya yang biasa. Bukan senyum sempurna sang malaikat. Tapi senyuman biasanya yang hangat, dan itu membuat Vino merasa.. dekat.


Ternyata tetap saja, saat Vino tepat berada di depan kamera, pandangannya terasa mengabur karena rasa gugupnya. Kakinya terasa lemas seketika.


"Oke, lihat ke arah kamera! Berposelah semau kalian!" teriakan Billy membuat sakit kepalanya semakin mejadi jadi. Ia melihat ke arah kamera tapi sama sekali tidak bisa mengontrol ekspresinya.


"Ck, rileks! Turunkan bahumu!"


"Gerakkan otot otot pipimu! Buatlah suatu ekspresi!"


Vino semakin membatu saat tiba tiba Shirley mengalungkan lengannya di lehernya, menyusupkan kepala cantiknya ke dada Vino.


"Tenanglah, Vino. Ikuti saja aku," bisiknya pelan dengan suara yang benar benar bagai pegangan bagi Vino di tengah keburaman penglihatannya. Ia yang tidak tahu harus


melakukan apa apa merasa sedang dituntun keluar. Diletakkannya satu tangannya di punggung Shirley, satu lagi di kepalanya, mendorongnya lebih bersandar ke bahunya.


Shirley mengabaikan jantungnya yang ikut menggila dan memutuskan bersikap profesional.


"Kau merindukan kekasihmu, kan?"


Deg!


Seluruh kamera itu seakan menghilang. Seluruh masalahnya kembali menghantamnya bertubi tubi. Tiffany... Apa yang sedang ia lakukan sekarang? Apakah ia sedang kesepian? Sedang menangis? Sedang diganggu? Apakah ia lagi lagi dibully teman temannya? Dan ia tidak disana untuk menjadi tempat berlindung gadisnya. Vino menggigit bibirnya sendiri menahan rasa sakit yang mengiris hatinya sambil mendekap erat Shirley di pelukannya.


Hal yang tidak Vino sadari, Billy telah bangkit dari kursinya. Begitu pula Elly. Studio hening. Seluruh yang hadir di sana seakan lupa membuang nafas mereka.


"Kau mendapatkannya?" bisik Billy pada salah satu kameraman di depannya.


"Ku, kurasa begitu, pak."


"Ck! Jangan sekali kali melepaskan pandanganmu!"


Elly masih menutup mulutnya. Ekspresi sakit yang ditunjukkan Vino luar biasa. la benar benar terlihat tersiksa memeluk seorang gadis. Ia seperti dipaksa harus melepasnya disaat tidak ingin melepasnya.


"Kau mengkhawatirkannya yang sekarang sendirian kan?"


Vino memejamkan matanya dengan erat sebelum mendongakkan kepalanya ke langit, seakan mencegah air matanya agar tidak jatuh.


"Kau ingin memeluknya sekarang, kan?"


Shirley mendongakkan kepalanya, menggerakkan satu tangannya untuk meraih pipi Vino, menariknya ke bawah dan menatapnya dalam.


"Aku adalah dia."


Ucapan terakhir Shirley diucapkan dengan suara yang berat, sarat akan perasaan, ditambah senyumannya yang lemah dengan mata yang sayu. Sempurna dengan gambaran Tiffany yang hancur tapi berusaha kuat di kepala Vino.


Pelan, Vino meraih tangan Shirley di pipinya, menggenggamnya, mengecupnya. Seisi studio merasa bagai menonton drama hanya dari ekspresi Vino. Tidak ada yang mendengar bisikan bisikan Shirley. Semua terhanyut sepenuhnya oleh Vino yang bungkam sambil menundukkan kepalanya ke lantai. Menolak menatap balik gadis di depannya.


Dalam sepersekian detik, Vino mengangkat kepalanya dan menghadap ke kamera sempurna, tersenyum seakan pasrah pada takdir, tapi matanya memancarkan rasa sakit yang luar biasa.


Billy membesarkan matanya saat satu tetes air mata keluar dari mata Vino bersamaan keluarnya ucapannya yang diucapkan sembari menyeringai. Seringai seorang pria yang ditujukan untuk mengejek dirinya sendiri. Dirinya yang hancur.


"Aku pria bajingan."


...


"Kalau kau tidak dapat yang barusan, kupecat kau." Bisikan rendah Billy pada kameramennya sedingin es.


"Da, dapat, pak."


Ekspresi sakit seorang badboy yang luar biasa. Dengan kemeja depan dan dasinya yang sedikit berantakan berkat pelukan Shirley, seringainya menyempurnakan segalanya.


"Oke, cukup!"


Teriakan Billy mengejutkan Vino. Seluruh studio sontak bertepuk tangan dengan gemuruh. Vino yang kebingungan menatap Shirley, meminta penjelasan. Shirley yang ternyata ikut terhanyut bertepuk tangan dan tersenyum lebar pada Vino.


Billy menghampiri Vino dengan tawa lebarnya.


"Aku akan mencobamu di beberapa sesi pemotretan lagi. Kali ini tanpa Shirley. Bersiaplah."


"Gantikan baju anak ini dengan beberapa koleksi kita dari musim lalu!"


Teriakan teriakan instruksi Billy selanjutnya tak lagi terdengar oleh Vino yang merasa bagai menemukan oasis di tengah padang pasir Sahara. Ia berhasil dan itu jelas berkat bantuan Shirley.


Elly mendekatinya dan memberi minum padanya, kemudian berkata pada Billy,


"ayo kita beristirahat sebentar."


Billy mengangguk. "Break 15 menit!"


Sementara Shirley dituntun untuk beristirahat di ruang rias berbeda sekaligus menata ulang riasannya, Elly mengikuti Vino yang dibawa oleh staf ke ruang ganti.


"Kau membuat ekspresi yang luar biasa," puji Elly sambil menyodorkan tisu untuk menghapus keringatnya. Vino meringis saat menerimanya.


"Bagaimana ekspresiku tadi? Kurasa pasti memalukan sekali. Semua karena Shirley mengingatkanku akan masalah masalahku."


Elly tersenyum. "Dia pasti sengaja melakukannya. Kau memberikan ekspresi sakit yang kuyakin akan melegenda."


Vino benar benar merasa lebih percaya diri sekarang.


"Aku yakin kau berlebihan. Tapi, terima kasih "


Flashback end