Change

Change
16. PUCAT



"Aduhh..." Rara meringis pelan, menyentuh keningnya yang mulai terasa berat.


Rara sadar akan sesuatu, matanya membulat sempurna. tadi Rara dibekap oleh seseorang di bagian mulutnya. Rara menegapkan tubuhnya, menatap sekeliling. Rara sadar sekarang dirinya berada didalam sebuah mobil.


Rara mengedarkan pandangannya dan menatap seorang laki- laki yang matanya sedang memandang lurus kedepan kedua tangan laki- laki tersebut menggenggam setir mobil.


"Re..Reza?," ucap Rara tebata- bata. Rara mengerjapkan matanya berulang kali dan menatap kesebelahnya lagi.


'Benar dia Reza.' batin Rara.


Reza masih bergeming, matanya menatap lurus kedepan.


"Hachimmm..." Rara mulai bersin- bersin. jangan tanyakan bagaimana tadi saat Rara dirumah Stefan. Rara terus menerus bersin. Mungkin Rara akan terkena Flu.


Reza mengeratkan pegangan tangannya pada setir mobil. Reza semakin merasa bersalah pada Rara yang mulai kelihatan sakit.


"Zaa?," tanya Rara, menatap Reza yang bajunya setengah basah kuyub.


Sebenarnya ini akibat Reza tadi menunggu Rara dari jam enam sore. jadi, Reza memutuskan kembali masuk ke dalam mobil, menunggu Rara hingga keluar dari Apartemen Stefan.


"Zaa? kalo lo diem aja, mendingan gue keluar," ujar Rara hendak keluar mobil. Namun, pergelangan tangan Rara ditahan oleh Reza.


"Kenapa?."


"Gue suka lo, Gue cinta lo," potong Reza menatap Rara.


Rara membulatkan matanya, terkejut akan kata- kata Reza yabg tiba- tiba itu.


"Hati gue sakit, kalo lo deket Stefan."


Rara menautkan kedua alisnya, bingung. Jelas Rara tak percaya, Dari semua sikap dan sifat Reza jelas Reza tidak menyukai Rara bisa dibilang membencinya.


"Gak usah bercanda, Zaa," ucap Rara.


"Gue gak bercanda,Ra. Gue suka sama lo. Gue cinta sama lo. tapi hati yue bimbang, Evelyne tiba- tiba muncul dan menjelaskan semuanya," jelas Reza lirih, mata Reza terus menatao lurus kedepan.


"Terus kenapa?? lo lebih milih cinta lama lo dari pada gue gitu..?," ujar Rara dengan rentetan pertanyaan yang mendalam.


Reza membulatkan matanya. Rara cemburu? menggemaskan sekali melihat Raut cemburunya.


"Ra, lo belum tau yang sebenarnya terjadi gimanaa," kata Reza kini menatap Rara tepat dimanik matanya.


Rara tekejut saat menatap Reza. Wajahnya pucat, bibirnya membiru, Reza terlihat sangat lesu.


"Zaa, lo kenapa?," tanya Rara dengab nada khawatir.


"Gue baik - baik aja. lo ga--"


"Gak..gak. Lo gak baik- baik aja. apa yang terjadi?." Rara menatap Reza lekat- lekat. Ini sudah malam, dan kenapa Rara tiba- tiba bisa berada di dalam mobil Reza?


"Tunggu, seinget gue, tadi gue dibekep sama orang. Terus gelap. Dan kenapa sekarang gue ada di samping lo!?," tanya Rara antusias. Ini memang aneh, pasti ada sesuatu yang terjadi.


"Gue bekep lo dan bawa lo ke sini. Kalo gue ajak lo secara langsung gue yakin lo bakal jolak buat ikut sama gue," ucap Reza dengan satu helaan napas. Reza tahu Rara akan menolak karena Rara masih kesal dengan Reza yang tidak menepati janji.


"Gue nunggu lo dari jam enam sore pas ujan tadi. Gue liat lo sama Stefan di halte terus lo dibawa ke Apartemen Stefan. Gue khawatir sekaligus cemburu. Jadi, gue mutusin buat nunggu lo gak jauh dari apartemen Stefan sampe lo-- pulang," ucap Reza menatap keluar mobil.


"Terus kenapa lo bisa basah gini?" tanya Rara menatap betapa berantakannya Reza.


"Gue tadi mau nyamperin lo ke halte, sebelumnya gue gak tau ada Stefan karena banyak orang yang neduh di halte. Pas gue keluar dari mobil, Stefan nyamperin lo," jelas Reza mengelus kedua lengannya.


" Kenapa gak manggil gue?," Rara menatap Reza tajam. kalau saja Reza memanggil Rara tadi, pasti keadaan Reza tidak akan separah ini.


" Lo kuat pulang? kalo gak kuat, gue yang bawa mobilnya deh, Zaa," saran Rara.


"Emang bisa?."


"Bisa Zaa, serius deh."


"Terus lo pulang gimana? udah malem, pasti Nenek Merisa dan Kakek Ray nyariin lo," ujar Reza.


"Yaudah, lo kerumah gue aja," saran Rara lalu di angguki Reza.


"Izin dulu sama mama papa sana," lanjut Rara menaruh tasnya dikursi belakang. Memang sekarang ini Rara menyebut Tante Dira dengan sebutan Mama dan Om Vito dengan sebutan Papa katanya orang tua Reza agar lebih dekat.


"Oke." Reza pasrah, merogoh celananya mengambil handphonenya.


Reza_DVC: Maa, Reza pulang malem ya.


tak lama kemudian, Dira membalas pesan anaknya itu.


Dir.C: Heh! udah malem! mau pulang malem gimana!?


Reza_DVC: kerumah menantu mama, boleh ya?:")


Dir.C: BOLEH! KALAU BISA SAMPE PAGI:")


Reza tertawa kecil saat membaca WA dari mamanya itu lalu meletakan handphonennya di dashboard mobil. Reza memang bersikap dingin terhadap orang lain, namun tidak kepada keluarganya.


"Lo kuat gak? gue yang nyetir yaa," kata Rara yang sudah bangkit dari duduknya. "Lo keluar dulu kali, Zaa," tambah Rara menatap Reza yang bergeming.


Akhirnya Reza keluar mobil, berpindah tempat duduk di kursi penumpang. Rara menyetir mobil Reza. untungnya Rara bisa menyetir mobil.


Merasakan sakit pada kepalanya, Reza menyenderkan kepalanya ke kaca mobil. Tak sadar, Reza tertidur. Rara melirik Reza yang sudah menggigil dalam tidurnya, Rara meringis menatap keadaan Reza.


Rara merogoh tas kecilnya dan mengambil jaket Stefan yang dibawanya tadi, untuk jaga- jaga kata Stefan tadi. Karena Rara memang memakai Dress selutut.


Pelan- pelan Rara melajukan mobil Reza ke pinggir jalan. Setelah terhenti, Rara melebarkan jaket Stefan dan menyelimuti tubuh Reza.


"Sweet Dream,Zaa," ucap Rara, lalu kembali melajukan mobil Reza menuju rumahnya.


Diam- diam Reza mengembangkan senyumnya, Reza belum tertidur.


❄💭❄💭❄💭❄