
"Sebelum itu, apa yang diminta nona Shirley?"
"la meminta agar Vino diikut sertakan pada salah satu pemotretannya."
Lam menaikkan salah satu alisnya.
"Hanya itu?"
"Kau tak mengerti seberapa seriusnya ini!"
"Kalau begitu jelaskan."
"Shirley adalah model papan atas. Bahkan para model professionalpun belum tentu mendapatkan kesempatan untuk bekerja dengannya. Apa yang akan terjadi jika seorang amatir yang bahkan baru beberapa waktu yang lalu memutuskan menjadi model dipotret bersamanya?"
"Bukankah pihak klien memiliki hak penuh dalam pemilihan foto yang akan dipublikasikan? Kalaupun ia ikut dipotret, bukan berarti ia akan dipajang. Kurasa bahkan ia akan segera ditarik setelah 1 atau 2 kali pemotretan. Ia amatir. Nona Shirley pun kurasa tidak akan memaksakan keinginannya setelah melihat kebutaan anak itu. Kau terlalu berlebihan menanggapi hal ini."
"Masalahnya bukan di sana, tuan staf. Tentunya aku tahu itu. Tapi ini adalah Vino. Penghuni asrama yang baru diloloskan oleh pak Rom dari BM. Jika tiba tiba pak Rom melihatnya atau mendengar kalau ia dipotret bersama Shirley, itu akan menimbulkan kecurigaan akan hubungan khusus antara mereka. Dan sekali mereka memutuskan untuk menyelidiki, kemungkinan acara sarapan mereka, bahkan kunjungannya malam itu ke kabin Vino akan terbongkar."
"... Dan orang itu akan kembali membuatnya menderita." Lam menyelesaikan penjelasan Elly dengan gumaman lirih.
"Eh? Kau mengatakan sesuatu?"
"Kubilang, apa yang bisa kulakukan sekarang?"
"Kita bisa mencegah timbulnya kecurigaan itu."
"Bagaimana caranya?"
"Mereka akan curiga jika Vino muncul begitu saja. Dari sekian banyak penghuni asrama modelling, 'kenapa dia?' Pertanyaan pertanyaan semacam itu akan muncul. Untuk mencegahnya, kita membutuhkan campur tangan orang dalam."
"Dan kurasa orang itu tidak harus aku."
"Aku tidak mengenal banyak orang disini. Yang kutahu namanya hanyalah pak Ando, pimpinan asrama ini, dan kau."
"Aku tersanjung."
"Tidak perlu. Salahkan ingatanku yang terlalu kuat hingga menangkap semua hal tanpa menyaringnya terlebih dahulu."
"Ck. Kalau begitu minta saja pak Ando membantumu."
"Aku tidak terlalu mengenalnya untuk dapat percaya padanya. Aku juga tidak percaya padamu tentunya. Tapi aku dapat melihat jelas kalau kau peduli pada Shirley dan itu yang kubutuhkan."
"Kuharap kau tidak menggali lubang kuburanmu sendiri. Aku tidak pernah berkata kalau aku peduli padanya. Aku juga bisa melaporkan semua ini pada pak Rom jika aku mau."
"Faktanya kau tidak melakukannya. Juga kunjungan malam itu, kau tidak memberitahukannya pada siapapun. Benar?"
"Itu karena aku tak peduli pada urusan orang lain."
"Aaagh! Tak bisakah kau bersikap sebagai pria sejati yang tidak menarik kata katanya?! Kau sudah berkata akan mendengar permintaanku bukan?!"
Lam terkesiap oleh naiknya suara Elly beberapa oktaf bersamaan dengan mengepalnya kedua tangannya di atas meja.
"Buhf.."
"Hahahaha," tawa Lam meledak setelah usahanya untuk menahannya gagal total.
Elly tak dapat berkata kata melihat Lam yang tertawa lepas di depannya. Sesaat ia melongo seperti orang bodoh sebelum menyadari kalau mulutnya bahkan terbuka.
"Ke, kenapa kau tertawa, sialan!"
"Hahaha, oke. Katakan apa yang bisa kelakukan untukmu, nona."
"Hentikan dulu tawamu."
Elly bersungut kesal sambil menatap Lam yang menepuk nepuk dadanya sendiri guna menghentikan tawanya.
"Oke. Silahkan."
"Kau akan merekomendasikannya."
"Apa? Kau mau aku merekomendasikan bocah sial itu?"
"Lebih tepatnya kau akan berpura pura telah merekomendasikannya padaku. Dengan begitu yang akan tersebar adalah, 'Vino terpilih karena ia direkomendasikan langsung oleh tutor utama BM'."
"Ini tidak masuk akal. Dan bagaimana pula tiba tiba aku bisa merekomendasikan model padamu tanpa angin apapun?"
"Skenarionya seperti ini, tuan Lam. Kau dan aku adalah teman lama dan aku biasa menghubungimu. Hari inipun seperti biasa aku menghubungimu dan mengungkapkan kesulitanku menemukan model pria sebagai pasangan Shirley dengan kriteria ini-itu. Kau pun melihat semua kriteria tersebut pada Vino dan merekomendasikan Vino padaku.
Bam! Jadilah seperti ini. Ini yang akan kita jelaskan pada orang-orang. Kau mengerti?"
Lam mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sungguh gila. Aku ingin seorang teman wanita yang lembut dan seksi, kalau aku boleh jujur. Oh, bukan maksudku menyinggungmu, nona manager."
"Dan kau mengira aku menginginkan teman seorang staf urakan sepertimu? Ini murni bisnis, tuan. Katakan maumu. Dan kita akan menjadi dua pihak yang saling menguntungkan."
"Apapun?"
"Selain hal-hal cabul, apapun."
Lam tersenyum miring.
"Kau terdengar berharap aku meminta hal seperti itu."
Elly menyematkan anak rambutnya ke belakang telinga dengan tenang dan elegan, menjaga harga dirinya tetap berada di atas.
"Aku memiliki kriteriaku sendiri dalam memilih pria."
Tatapan mereka kembali beradu dengan panas tanpa ada yang ingin mengalah. Keduanya keras kepala, keduanya berharga
Elly menarik sedikit sudut bibirnya saat ia terpikir sesuatu yang brilian menurutnya.
"Kuingatkan lagi, tak ada untungnya juga untukku. Ini semua demi Shirley."
Sialan, kutuk Lam dalam hatinya. Wanita di depannya ini sengaja menggunakan nama Shirley untuk mendesaknya.
"Aku bahkan tidak yakin klien kalian akan menerima syarat yang tidak masuk akal seperti itu."
'Drrrt.'
Elly mengeluarkan ponselnya yang bergetar dari kantong celananya dan tersenyum senang saat melihat kontak pemanggilnya, lantas menghidupkan speaker.
"Elly di sini."
"Hi, nona Elly, dengan Billy."
"Kuharap aku mendengar jawaban positif dari anda, pak."
"Sebelum itu, aku ingin memastikan sesuatu. Syaratnya adalah kami hanya harus mengizinkan pemuda amatir itu untuk ikut pemotretan. Tidak ada keharusan untuk menggunakannya, bukan?"
"Tentu pak. Jika ia tidak berguna, anda bisa melepasnya."
"Baiklah kalau begitu. Kami terima."
"Terima kasih, pak. Kami akan tiba di tempat anda paling lambat sore ini."
"Kami harus mengejar deadline hari ini. Jika anda tidak bisa siang ini mungkin kita harus menunda esok hari."
"Oke, pak. Kami akan tiba secepatnya."
Lam mendecih kesal melihat ekspresi angkuh Elly saat menurunkan ponselnya.
"Mereka menerima syarat itu."
"Aku mendengarnya. Dan cukup jelas kalau mereka bahkan tidak akan menganggap serius bocah itu. Mungkin mereka akan memotretnya sekali, meneriakinya 'tidak becus! Amatir!' atau semacamnya, dan kemudian menariknya keluar dari pemotretan."
"Mereka belum melihat Vino. Kurasa Vino dapat melakukan sesuatu yang dapat menarik perhatian mereka. Tapi itu bukan lagi urusanku. Bagaimana? Kau akan melakukannya?"
"Brengsek."
Umpatan dilontarkan Lam sembari bangkit dari tempat duduknya. Pandangan Elly mengekorinya yang berjalan ke arah pintu dan mengambil jaketnya yang tergantung di belakangnya.
"Kau berhutang padaku, nona manager."
Senyum Elly mengembang mendengar kata tersebut. la ikut bangkit dan menghampiri Lam yang telah selesai mengenakan jaketnya.
Nama 'Shirley' benar benar senjata ampuh untuk pria ini walau ia yakin Lam tidak akan pernah mengakuinya.
"Ayo pergi," ajak Lam.
"Oke, tapi kemana?"
"Makan siang."
"Wow, apakah kau mencoba mengajakku kencan?"
Lam meliriknya dan menyeringai tipis.
"Maaf kalau tidak sesuai harapanmu, nona. Ini sudah jam makan siang. Aku harus mengisi perutku sebelum bermain sandiwara teman lama denganmu yang pastinya akan melelahkan."
"Kalau begitu kau tak perlu mengajakku."
"Aku bukan pria brengsek yang akan meninggalkan seorang wanita kelaparan sendirian. Tapi hanya itu. Seperti yang kau katakan, ini murni bisnis, nona."
Lam menyelesaikan kalimatnya sambil melangkah keluar diikuti Elly yang menahan emosi di belakangnya. Para petugas pengantar makanan sedang membagikan makan siang pada para penghuni kabin. Salah satu dari mereka dihentikan oleh Lam.
"Ada apa, Lam?"
"Aku akan keluar untuk makan siang dan kemudian menghampiri pak Ando ke ruangannya. Ada yang harus kami bicarakan. Kalau aku terlambat, tolong umumkan pada mereka akan adanya pengunduran program. Aku akan segera kembali."
Petugas tersebut sempat menatap aneh Lam beberapa saat sebelum kaget menangkap keberadaan Elly di samping Lam. Ia segera memasang seringai menggoda dan menyikut dada Lam dengan sikunya.
"Kukira apa yang membuat tuan Lam Pierce yang super sibuk keluar dari ruang semedinya. Tapi Lam, kau benar benar tidak tahu diri. Bagaimana bisa kau mengajak seorang nona Elly untuk makan bersamamu?"
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kami teman lama."
Kali ini Elly yang menyahut dengan senyum simpulnya.
"A, apa?!"
"Begitulah. Ayo pergi." Lam menarik pergelangan tangan Elly untuk menjauh, menghindar dari lebih banyak pertanyaan. Tentunya ia segera melepasnya setelah mereka tiba di lift.
"Kau benar benar berniat penuh melakukan sandiwara ini. Jangan jangan kau juga sudah latihan atau semacamnya," ujarnya dengan seringai pada Elly yang berdiri sedikit jauh darinya.
"Omong kosong. Apa kita akan bertemu pak Ando?"
"Yeah, setelah makan."
"Untuk apa?"
"Jika kau ingin memblokir suatu informasi, kau harus memulainya dari orang yang paling dipercaya informasinya."
Lam melanjutkan kalimatnya saat Elly menatapnya tak mengerti.
"Sekali pak Rom mendengar berita pemotretan Vino, menurutmu siapa yang akan dihubunginya pertama kali setelahmu untuk memastikan kebenarannya?"