
Dulu aku pernah mendengar pribahasa *J**angan pernah bermain api jika tidak ingin terbakar*, sekarang aku baru mengerti dalam nya makna dari kalimat itu. Sedalam rasa gelisahku saat ini.
Ku langkahkan kaki jenjang ini memasuki sebuah kafe yang berada dekat alun-alun kota. Desain yang artistik dengan segala ornamen kayu membuat kafe ini menjadi klasik dan indah, ditambah menu makanan yang bervariasi dan Yang pastinya enak.
Menjadi tempat ini merupakan tempat favorit ku dari dulu.
Ku edarkan pandanganku kesetiap sudut kafe. Ku temukan sosok yang ku rindukan serta yang selalu menemani hari-hariku dulu, sedang duduk di meja dekat jendela yang menghadap taman belakang.
Mas Dion tersenyum manis menatapku yang sedang melangkahkan kaki mendekatinya.
" Maaf Mas, Zella terlambat. Mas sudah menunggu lama?" sapa ku setelah duduk di hadapan nya.
" Gak apa-apa sayang, Mas juga baru sampai.
Oh ya.. tadi juga udah Mas pesankan makanan kesukaan kamu " ujarnya lembut. aku hanya menganggukkan kepala dengan pelan sambil tersenyum. Tangan kanan nya terulur membelai rambutku dengan sayang, sungguh manis sekali perlakuannya padaku.
Tak lama makanan sampai di meja kami, kami nikmati sambil bercengkrama,bercerita, tersenyum bahkan tertawa. Dentungan piano yang indah di sudut kafe menciptakan suasana romantis yang menambah kebahagian kami. Hingga, tak terasa malam semakin larut.
...****************...
Jam di tanganku menunjukkan pukul 23:50 setibanya aku di dirumah. Yahhh... 10 menit lebih cepat dari Cinderella sebelum sepatu kacanya menghilang. Tapi, sayangnya kisah hidupku tak seindah Cinderella yang hidup bahagia bersama pangeran yang di cintai nya.
Kubuka perlahan pintu apartemen ini. Tentunya, setelah jari-jari rampingku dengan lincah menari-nari menekan kombinasi angka sebagai sandi yang merupakan tanggal lahirku. Bahkan di hari pertama aku memasuki rumah ini baik warna dinding, walpaper, dan perabotan semuanya sesuai dengan seleraku.
Akupun sampai heran di buatnya, sebenarnya ini apartemen Rimba atau apartemenku? ahhh...mungkin saja itu kebetulan, bisa jadi selera kami dalam mendekor rumah itu sama.
Suasana apartemen ini begitu sunyi dan gelap, tidak ada satu lampupun yang menyala di ruangan ini. Hmmm.. mungkin saja Rimba sudah tidur.
Clekk...
Diriku tersentak kaget, saat lampu tiba-tiba menyala tepat saat aku baru saja melangkah masuk ke ruang tamu.
" Dari mana saja kamu? Kenapa jam segini baru pulang?" ujar Rimba yang berdiri menatapku tajam. Rahangnya mengeras dengan wajah memerah menahan amarah. Membuat nyaliku ciut seketika. Ya tuhan... Apa aku ketahuan?
" A-aku dari kafe, tadi siangkan aku sudah bilang. Maaf karna pul..." belum selesai aku berbicara Rimba sudah menarik lenganku mendekat padanya dengan kasar, hingga dapatku lihat lengan putihku memerah olehnya.
" Kamu hanya bilang bertemu dengan Dinda temanmu, bukan dengan seorang lelaki Zela!" ucapnya pelan tapi penuh intimidasi dan penekanan pada kata terakhir.
Aku hanya tertunduk diam tanpa satu patahpun yg keluar dari bibirku.
" Siapa lelaki itu? Katakan Zella!".
Ku tatap mata tajam nya yg menyiratkan kekecewaan yang dalam.
" Di-dia mas Dion, ke-kekasih ku" ucapku dengan susah payah menahan deru jantung yang memompa dengan cepat karena mendengar bentakannya. Jujur aku benar-benar takut sekarang melihat Rimba yang menurutku sangat mengerikan.
" Hehhh... Kau bilang apa tadi? Kekasihmu?" ia memiringkan kepalanya menatapku dengan seringai yang menakutkan. Rimba menarik lenganku yang sedari tadi tidak lepas dari genggaman nya menuju kamar, dan melemparkan tubuhku keranjang.
Lalu, menindihku sedangkan aku hanya bisa menangis dan menangis dengan perlakuan kasarnya kepadaku.
" Berani-berani nya kamu bermesraan dengan kekasihmu di saat dirimu sudah memiliki suami!! kamu membohongiku zella"
Rimba mencium bibirku rakus sedangkan tangan kanan nya sudah meremas p*yud*raku dengan kasar. Bahkan, ia menggigit bibir bawahku hingga berdarah saat aku menggeleng-geleng kepalaku kekiri dan kekanan berusaha memberontak melepaskan l*matan nya di bibirku.
Sakit.. benar-benar sakit. Bahkan sakitnya tubuhku tidak sebanding dengan sakit hatiku karna di bentak olehnya.
Ia menghentikan ciumannya saat menyadari diriku yang hampir kehabisan nafas. Aku hanya bisa menangis dan menangis saat tangannya mulai merobek satu persatu pakaian yang ku pergunakan hingga yang tersisa pakaian dalamku saja.
Aku benar-benar tidak mengenal sosok nya saat ini, Dia tidak seperti Rimba yang ku kenal. Dia layaknya seperti hewan buas yang sedang menerkam mangsa.
Aku menahan lengannya saat ia ingin membuka satu-satunya penutup yang tersisa di tubuhku.
" Aku memang milikmu dan engkau berhak atas itu. Tapi, tolong redakan amarahmu sebelum melanjutkan ini. Aku hanya tidak ingin tersakiti oleh kekasaranmu. Tolong maafkan aku" ujarku sambil menangis dan menatap matanya nya dengan memohon.
Seketika tatapan matanya berubah teduh tidak setajam dan senanar seperti sebelum nya. Ia menghembuskan napas pelan masih dengan posisi yang sama. Lalu, tangannya terulur menghapus air mata di pipiku dengan sangat lembut.
" Maafkan aku sayang, Aku khilaf." yang ku jawab hanya dengan anggukan pelan. Ia lalu mencium keningku dalam dan mulai menjelajah bibirku. Yang awalnya hanya ciuman lembut lama-kelamaan menjadi sebuah l*matan. Aku mulai menikmati perlakuannya padaku kali ini tanpa memberontak dan membalas permainan bibirnya.
"Ahhhh" des*han terlepas dari bibirku saat ia mulai menciumi setiap inci tubuhku dengan lembut. Dan malam ini kami akhiri pertengkaran kami di ranjang untuk meluapkan segala amarah, kecewa, dan sakit hati.
******
Kebebasan yang selalu aku sukai harus berakhir dan terjebak diantara cinta yang rumit. Ada yang bilang selingkuh itu indah? Iya mungkin itu benar. Tapi, jika tidak ketahuan!
Cinta adalah kata yang sampai saat ini begitu sulit untuk aku defenisikan.
Hanya Tuhan yang tahu pada siapa hati ku akan berlabuh.
( Arzella putri*)