Brondong Tengil

Brondong Tengil
Siapa itu Yelsa?



FLASHBACK


22 Year's ago


Seorang perempuan cantik dengan perut yang terlihat membuncit memasuki sebuah perusahaan yang cukup besar dengan penuh amarah. Langkah kaki nya yang tergesa-gesa membawanya kesebuah ruangan di lantai atas. Ruangan tempat pemilik perusahaan itu berada.


Wanita cantik itu terus berjalan tanpa melihat ke sekeliling, termasuk Davin. Davin adalah seorang sekretaris dari CEO pemilik perusahaan tersebut. Saat wanita itu hampir sampai di depan pintu CEO Davin menghampirinya dan menghentikan langkahnya.


"Hallo, selamat siang nyonya. Anda siapa dan ada keperluan apa ?"


Wanita itu menoleh menatap Davin tajam dan sinis.


"Aku ingin bertemu dengan pemilik perusahan ini sekarang!" Ujar Yelsa kasar. Tanpa menunggu jawaban dari pria yang ada di hadapan nya Yelsa langsung menerobos masuk ruangan tersebut serta mendorong bahu pria itu kasar, Amarah yang sedari tadi ia tahan membuat ia begitu tergesa-gesa ingin bertemu pemilik perusahaan tersebut.


"Maaf nyonya anda tidak bisa masuk ruangan ini tanpa izin!" Teriak Davin menyusul langkah Yelsa, tapi Yelsa sudah lebih dulu membuka pintu dan masuk kedalam ruangan.


"Yelsa!" ujar pria itu sama terkejut nya dengan perempuan yang menerobos masuk ke dalam ruangannya dengan kasar.


"Oh jadi kamu pemilik perusahaan ini, orang yang sudah membuat hidup ku bertambah menderita," ujar Yelsa sinis setelah ia berusaha mengontrol keterkejutan nya.


"Yelsa, apa maksud mu? Kenapa kamu ada di sini?" Herlambang berdiri dari duduk nya dan menghampiri perempuan hamil yang sedang menatapnya dengan penuh kebencian.


Yelsa mengepal tangannya erat, ia benar-benar kesal mendengar ucapan Herlambang yang seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.


"Gak usah bersandiwara kamu, Herlambang! kamu sengajakan, mengambil alih perusahaan suamiku dengan cara licik. Kamu senang membuat hidupku menderita. Sekarang kamu puas, hah!"


Herlambang benar-benar bingung dengan maksud perempuan yang ada di hadapan nya. Setelah sekian tahun tidak berjumpa, justru mereka di pertemukan dengan keadaan yang tidak mengenakkan seperti saat ini.


"Heyy, heyy.. tunggu dulu, aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan saat ini?" ujar Herlambang meminta penjelasan.


Yelsa memejamkan mata nya sejenak, area mata nya memanas mendengar ucapan pria di hadapannya. Ia merasa pria di hadapannya ini sedang berpura-pura bodoh dan memperolok-olok nya.


"Aku istri dari Erik William, pemilik dari perusahaan yang sudah kau hancurkan!"


Degh...


Herlambang terkejut, ia benar-benar tidak tahu jika perusahaan yang sudah ia akuisisi adalah perusahaan milik suami Yelsa. Erik adalah pria yang tertutup dengan kehidupan pribadinya.


Herlambang mengusap wajahnya kasar. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, hubungannya bersama Yelsa selama ini sudah cukup rumit dan sekarang jadi bertambah rumit.


"Maaf, aku benar-benar tidak tahu jika Erik adalah suami mu" ujar Herlambang bersalah.


"Kamu memang tidak tahu, apa pura-pura tidak tahu, hah?" Yelsa tersenyum miring, mengejek.


Lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan itu dengan segala sesak di dadanya. Yelsa memutuskan untuk cepat pergi meninggalkan tempat itu karna tidak ingin berlama-lama dengan orang yang ia benci sekaligus orang yang ia cintai.


********


Setiba nya di rumah Herlambang menghempas tubuhnya di atas sofa ruang tamu, ia memijit pangkal hidungnya pelan dan menghembuskan nafas panjang. Entah kenapa Ia merasa akan ada sesuatu yang buruk, yang akan menimpa keluarga kecilnya.


"Ada pa sayang? Kenapa pulang kerja kok wajah nya kusut begitu?" Renata tersenyum lembut menghampiri suaminya dengan secangkir kopi panas dan sepiring cake yang baru ia buat tadi dengan putri kecilnya.


"Tidak apa-apa sayang, cinta mana?" Herlambang mengambil sepotong cake dan memakannya.


"Ada tadi," mata Renata berkeliling mencari keberadaan cinta, " itu dia," tunjuk Renata pada putri mereka yang baru saja datang menghampiri.


"Papa..." Gadis kecil itu berlari ke pelukan ayahnya dengan manja.


"Princess papa," Herlambang mencium puncak kepala putrinya dengan sayang.


"Kenapa kamu belum tidur sayang? Pergi tidur sana, hari udah malam!"


"Iya papa," ujar gadis kecil itu sambil cemberut. Herlambang tersenyum dan mencubit pelan pipi gembil itu sebelum yang punya pipi pergi ke kamarnya.


"Ada apa Mas? Kenapa kamu tampak gusar begitu?" tanya Renata saat melihat raut tak biasa di wajah suaminya. Ia yakin ada sesuatu yang mengganggu pikirannya saat ini.


Herlambang menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia menepuk sofa yang ada di sebelahnya, meminta istrinya mendekat.


Dengan pelan dan santai Herlambang menceritakan setiap kejadian yang ia alami tadi dan tentang pertemuannya dengan Yelsa.


"Apa mas! Kamu tidak sedang bercandakan?" Ujar Renata kaget sekaligus ragu. Teman yang sudah lama tidak berjumpa justru bertemu lagi dengan keadaan seperti ini.


"Seperti itu lah kenyataannya Renata, mas tidak tahu entah kenapa, mas merasa gelisah sekali. Bukannya mas takut dengan ancamannya, hanya saja kamu tahu sendiri sahabatmu itu ada lah tipe orang yang terkadang suka berbuat nekat. Mas tidak mau kamu terluka akibat ke salah pahaman ini," ujar Herlambang dengan raut wajah khawatir.


"Sudah lah mas, semua juga sudah terjadi," Renata mengusap bahu suami nya, menenangkan.


"Kamu juga gak bisa buat apa-apa dengan perusahaan itu, kan? kalau pun seandainya perusahaan itu tidak kamu akusisi mungkin saja mereka akan mengalami kerugian yang lebih besar lagi, kan? Sebenarnya semua ini salah suaminya Yelsa sendiri yang selalu menghambur-hamburkan uang untuk para simpanan nya hingga perusahaan nya bangkrut," ujar Renata lagi, yah... siapa yang tidak mengenal seorang Erik William, ia terkenal sebagai pria dengan segudang wanita.


*Paras yang tampan dan harta yang melimpah membuat wanita manapun Sudi naik keatas ranjangnya dengan ikhlas. Hingga sampai saat ini tidak ada satupun media yang menjelaskan seperti apa pasangan hidupnya, wajar saja jika suaminya sangat shock.


Andai saja ia tahu, Renata yakin Herlambang akan melepaskan kesempatan untuk memiliki perusahaan tambang itu*.


"*Papa mau mandi dulu ma. Papa mau istirahat, kepala papa pusing" Renata Mengangguk dan menghela napas.


Herlambang berdiri dan berjalan ke lantas atas menuju kamarnya. Ia ingin mengguyur kepalanya dengan air dingin sekedar merelaksasikan kepalanya agar tidak terlalu tegang setelah memikirkan kemelut yang ada*.