
Seorang wanita cantik duduk di sebuah sofa usang sambil mengelus perutnya yang membuncit. Matanya mengembun menatap sekeliling ruangan, rumah yang sempit dan di penuhi perabotan usang. Wanita itu bernama Yelsa Maharani, Yelsa tidak pernah menyangka nasibnya akan berakhir seperti ini. Berakhir di rumah yang sangat jauh dari kata mewah dari rumah yang di tempatinya dulu. Air matanya jatuh mengingat kenangan beberapa waktu yang lalu, waktu di mana ia masih hidup di dalam kemewahan.
Yelsa menatap pigura mewah yang tertempel di dinding, hanya foto pernikahannya lah satu-satunya barang mewah yang bisa ia ambil dari rumah lama lama tersebut. Di pigura itu tergambar dengan jelas senyumnya yang merekah saat bergandeng tangan dengan pria yang telah menjadi suaminya, Erik William!
Dor...dor...
Gedoran pintu yang keras membuat Yelsa terperanjat dari duduknya karna kaget.
"Yelsa buka pintu, buka pintunya cepat!"
Teriak pria itu dengan keras, Yelsa berjalan dengan tertatih. Perut yang sudah kian membuncit membuat ia merasa kesusahan untuk bergerak. Usia kandungan yang baru 7 bulan tapi begitu besar, hingga perutnya terlihat seperti hamil usia tua, di tambah lagi kakinya yang juga ikut membengkak membuat ia semakin susah saja.
"Yelsa cepat buka pintunya, bodoh!" Teriak pria itu tak sabaran, kaki dan tangan nya tidak berhenti memukul dan menendang pintu yang sudah tua itu dengan keras.
"Iya, tunggu sebentar,"
Yelsa berjalan tergesa-gesa menghampiri suami nya.
'Apa dia ingin membangunkan semua warga dengan teriakannya, apa? Apa dia tidak sadar jika ini sudah lewat tengah malam, jika bukan karna perut besar ini tentu saja aku sudah berlari menghampirinya. Dasar pria tidak tahu diri!'
"Kenapa lama sekali, hah! Telinga kamu budek ya!" Hardik pria itu. Erik masuk dengan tangan mendorong bahu Yelsa kasar, tubuh Erik penuh bau alkohol yang begitu menyengat hidung, membuat kepala Yelsa pusing menciumnya.
"Kenapa diam saja di situ? Cepat tutup pintunya dan buatkan aku air hangat untuk aku mandi!" Perintah Erik dengan ketus.
"Iya," jawab Yelsa patuh, karna Yelsa tahu tidak ada gunanya membantah Erik di saat ia mabuk seperti ini. Jika ia masih ingin selamat. Semenjak bangkrut dan jatuh miskin Erik menjadi pria yang tempramental dan ringan tangan.
Alkohol tidak pernah lepas dari tubuh Erik setiap malam, setiap hari ia akan pulang ke rumah dalam keadaan mabuk seperti ini. Benar-benar membuat Yelsa merasa gila.
Yelsa menitikkan air mata sambil melakukan pekerjaan yang Erik perintahkan.
Erik bukan lah pria yang di cintai yelsa, tapi Erik adalah pria paling kaya yang melamarnya. Dulu Yelsa pikir dengan menikahi pria kaya ia akan hidup enak tidak di hina dan di permalukan seperti yang ia alami dulu.
Beberapa tahun yang lalu Yelsa pernah sangat mencintai seorang pria yang baik dan lembut. Tapi nyata nya, cinta yang ia pendam selama bertahun-tahun hanya bertepuk sebelah tangan. Pria itu justru mencintai sahabatnya Renata. Dan jika bukan karna hutang Budi Yelsa yang terlalu banyak pada keluarga Renata, ia tidak akan pernah diam menerima penghinaan dari ibu Renata dan pergi begitu saja meninggalkan pria yang ia cintai hingga saat ini.
Yelsa adalah gadis dari keluarga biasa-biasa saja, ayahnya hanyalah seorang sopir di keluarga Antonio, kakek kandung Renata dari sebelah ibu. Atas keinginan Renata akhirnya Yelsa bisa bersekolah di sekolah yang mahal dan bagus dan selalu bersama Renata layaknya seorang sahabat.
Walau hanya numpang, tapi dulu hidupnya berkecukupan dan mewah.
"Hei! Apa yang kamu lakukan disitu" tangan Erik memegang dagu Yelsa erat, membuat wanita yang sedang duduk dipinggir ranjang itu meringis. Terlalu larut dalam lamunan membuat Yelsa tidak sadar jika Erik sudah selesai dari mandinya.
"Sakit, lepaskan Erik. Kenapa kamu jadi sangat kasar begini sama aku?" Air mata Yelsa kembali jatuh membasahi jari Erik yang masih memegang wajah nya dengan kasar.
Erik tersenyum sinis.
"Sakit? Kamu akan merasakan sakit yang lebih lagi dari ini, dasar wanita pembawa sial!" Erik melepas kan tangan nya secara kasar membuat tubuh Yelsa terjatuh di atas ranjang.
"Hik..hik.." Yelsa terisak, hati nya pedih mendengar kata wanita pembawa sial yang di semat kan suami nya padanya.
"Aku bukan wanita pembawa sial. Hidup kita jadi seperti ini karna salah mu! Jika saja kamu tidak menghabiskan semua uang mu di meja judi, kita tidak akan terlilit hutang. Kita juga tidak akan jatuh miskin seperti ini!"
Plak...
"Ahhhkkk" rintih Yelsa sambil memegang pipi kanannya yang terasa panas oleh tamparan. Ia berdiri menghapus air matanya kasar dan menatap tajam ke arah pria yang ada di hadapannya itu.
"Kenapa? Memang itu kenyataannya kan! Semua ini salah mu bukan salah ku, aku bukan wanita pembawa sial tapi kamu yang bodoh! Aku menyesal sudah menikah dengan mu, aku MENYESAL!" Yelsa berteriak. Entah keberanian dari mana ia bisa mengatakan itu.
Erik menatap Yelsa nanar, napasnya memburu. Dadanya bergemuruh penuh amarah mendengar perkataan istrinya itu.
Seketika nyali Yelsa yang besar menciut, membuat ia mundur beberapa langkah bersamaan saat Erik maju menghampirinya. Hingga langkah ia terhenti saat punggungnya menumbur dinding tepat di sebelah nakas.
"Arrrgghhh E-erik le-lepas kan, huk huk" Yelsa menahan tangan Erik yang sedang mencekik lehernya. Sakit, Yelsa merasakan nafas nya yang hampir habis, ia menatap mata Erik memohon tapi Erik tidak juga mau melepas tangannya.
Tangan kiri Yelsa terulur kesamping, kearah nakas menggapai apa saja yang bisa ia dapat untuk menyelamatkan nyawanya.
Yelsa hampir mati, tangan nya meraba sebuah pisau lipat yang ada di laci nakas lalu mengambilnya lalu menikam tepat di dada Erik.
"Arrghhh.." pekik Erik kesakitan membuat tangannya terlepas dari leher Yelsa. Lalu jatuh tersungkur membuat Yelsa kaget, ia menjatuhkan pisau yang ada di genggamannya tadi lalu perlahan-lahan mundur.
"Ka-kamu apa yang kamu lakukan padaku, ka-kamu mau membunuhku?" Teriak Erik membuat Yelsa ketakutan dan menangis.
Yelsa bergegas meraih handphone serta tasnya dengan cepat dan berlari meninggalkan rumah tersebut dengan ketakutan.
Erik semakin melemah, darahnya banyak keluar akibat tusukan Yelsa yang tepat di area organ vital nya. Pandangan Erik menggelap hingga keesokan harinya di temukan para warga dengan keadaan tidak bernyawa.