
Pagi-pagi sekali aku dan Rimba datang kealamat yang di berikan Aldi tadi malam untuk menjemput Amel, aku bersyukur adikku itu mau untuk aku ajak pulang. Karna aku yakin Mama dan Papa pasti senang Amel ketemu dan menunggu kedatangan nya di rumah.
Sepanjang perjalanan Amel hanya diam dan aku paham dengan situasi yang Amel rasakan. Pasti gadis itu masih kebingungan dan berusaha mencerna semua yang sedang terjadi.
Aku melemparkan pandangan keluar jendela, aku tidak bisa menerka apa yang ada di dalam fikiran Amel saat ini. Akhirnya aku memilih diam hingga sampai di plataran rumah.
"Amel ini rumah kita" ujarku sambil menggandeng lengan nya untuk memasuki rumah yang sudah kami tempati bersama sejak kecil.
"Mama! Papa! lihat siapa yang datang" ucapku riang.
"Amel?" teriak Mama dan Papa serentak tidak percaya dengan sosok yang ku bawa untuk menemui mereka. Papa menghampiri Amel dan menyambut Amel dalam pelukannya, karma memang dari dulu Papa yang lebih dominan perhatian pada Amel.
Kami semua berkumpul di ruang keluarga,
Aldi juga menceritakan pada Papa dan Mama awal pertemuannya dengan Amel dan bagaimana Amel bisa amnesia.
Mama duduk di sebelah Amel , ia menggenggam tangan putri bungsunya dengan lembut dan aku melihat ada binar kesedihan dari mata Mama saat ia menatap Amel. Karna memang seperti itulah Mama, semarah dan secuek apapun ia tetap lah seorang ibu yang penyayang.
Waktu terus berjalan tanpa terasa hari sudah semakin malam, aku dan Amel duduk pada sofa yang ada di samping teras rumah. Tempat biasa kami duduk saat masih tinggal bersama-sama dulu, lagi pula Aldi juga sudah pulang dari tadi.
"Kak, kandunganmu sudah berapa bulan?" tanya Amel padaku dengan tangan yang mengusap perutku lembut.
"Sudah masuk 6 bulan" jawabku sambil tersenyum dan sedikit menahan nyeri saat kaki kecil ini mulai aktif menendang-nendang perutku.
"Kenapa kak?" tanyanya lagi khawatir karna melihatku seperti menahan sakit.
"Hmmm tidak apa-apa, baby nya sedang aktif" yahhh... bayi dalam kandungan ku sudah aktif-aktifnya menedang-nendang dan terkadang tendangannya membuat ku merasa sedikit kram pada perutku seperti saat ini.
"Sayang, kamu kenapa?" Rimba menghampiriku dan mengusap perutku dengan sayang membuat ku merasa nyaman, dan pergerakan babynya juga mulai tenang.
Bayi dalam kandunganku akan tenang saat tangan Rimba mengusap perutku seolah-olah ia tahu kalau Papanya menyayanginya.
"Sayang ayo kita pulang, kamu harus istirahat aku juga sudah pamit sama Papa dan Mama" ujar Rimba padaku, sekilas Rimba melihat pada Amel yang duduk di sampingku dengan tatapan tidak suka lalu menarik tanganku pelan untuk bergerak pulang.
"Amel kakak pulang dulu ya, assalamualaikum" ucapku terhadapnya sebelum pergi.
Lalu aku dan Rimba menemui Mama dan Papa untuk pamit pulang.
Rimba mengemudikan mobil nya dengan kecepatan sedang, sesekali dia melirikku yang duduk di sebelahnya. Aku memejamkan mata karna rasa pusing yang tiba-tiba datang.
Sesampainya di rumah aku dan Rimba langsung bergantian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
******
Zella cukup menikmati tidurnya, hingga jam tujuh pagi ia masih terlelap tidur.
Rimba sendiri tidak ingin mengganggu istrinya yang sedang tertidur, karna menurutnya mungkin Zella benar-benar lelah apa lagi dengan kondisi nya saat ini.
Rimba langsung berangkat kekantor, karna kemaren ia menemani Zella seharian dan meninggalkan pekerjaannya jadi mau tak mau ia harus menyelesaikan pekerjaannya.
Apalagi tadi asistennya menelpon banyak berkas-berkas yang harus ia periksa tentang proyek pembangunan yang sedang berjalan.
Sesampainya di kantor Rimba melepas jasnya dan menaruhnya di gantungan khusus.
Dimeja kerjanya sudah ada beberapa tumpukan dokumen yang harus dia kerjakan, pagi hari adalah waktu yang pas untuk ia menganalisa dokumen pembangunan hotel, Rimba sepertinya tidak akan berhenti membangun hotel di asia, bahkan sepagi ini Rimba sudah menganalisa tiga pembangunan hotel di Manila Filipina, Phuket thailan, dan di Lombok.
"Tuan Rimba selamat pagi, jadwal anda pagi ini adalah meeting dengan Putra Capital jam sepuluh di ruangan meeting lantai dua puluh dua, lalu setelah itu anda harus bertemu dengan tuan Nagashi perwakilan dari Jepang di restoran Bigland resort. Setelah nya anda free hingga jam pulang kerja, apa anda mau menambah jadwal lagi untuk hari ini tuan?" tanya Ben yang sudah lama menjadi asisten sekaligus tangan kanan kepercaan Rimba.
"Ben, aku mau kamu menyelidiki tentang perempuan ular itu dan pria yang datang bersamanya!!" ucap Rimba datar pada Ben.
"Apa yang anda madsut nona Amel tuan ?" tanya Ben pada Rimba memastikan.
"iya, aku yakin amnesia yang di deritanya hanyalah sandiwara. Aku tidak mau kehadirannya dapat membahayakan istri dan calon anakku" ujar Rimba pada Ben tegas.
"Dan tolong sekalian perintahkan pada OB untuk membuatkanku kopi hitam" ujar Rimba lagi yang diangguki oleb Ben lalu ia beranjak undur diri.
Setelah Ben pergi dari ruangan itu Rimba masih memikirkan tentang Amel dan Aldi, Rimba sangat yakin semua yang dikatakan pria itu trmentang kondisi Amel adalah sebuah karangan belaka. Rimba cukup khawatir dengan rencana yang di susun Amel yang melatar belakangi kepulangannya ini.
Rimba takut Amel akan mencelakai istri dan calon anaknya. Karna Amel bukanlah perempuan lugu dan polos seperti yang Zella ketahui. Amel adalah seorang ***** yang kejam dan bahkan pernah beberapa kali mencelakai kakaknya sendiri cuma karna rasa cemburu dan iri terhadap apa yang di miliki oleh Zella.