
Pak Herlambang tidak peduli dengan berapa banyak klakson yang terdengar saat ini, dia tidak menyadari apa yang bisa terjadi dengan kecepatan mobil yang ia kendarai saat ini. Yang ia pedulikan adalah ia harus tepat waktu berada di rumah saat ini.
Ia tahu saat ini Amel sedang emosi dengan kesalah pahaman ini.
Pak Herlambang sangat khawatir tentang apa yang akan di lakukan Amel pada Zella. Karna pak Herlambang paham betul watak Amel yang keras serta nekat itu hampir sama persis dengan almarhumah Mamanya.
Ia tak pernah menyangka jika keputusan nya untuk menutupi status Amel akan berakibat sefatal ini. Saat itu ia hanya berpikir dengan menutupi status Amel dan mengubur masa lalu pahit adalah jalan terbaik, tapi ternyata ia justru membuat semuanya menjadi rumit.
Sementara itu Amel yang berada di kediaman orang tuanya sedang berdebat hebat di kamar Zella, ia memaki dan menyumpahi Zella dengan kata-kata kasar.
"Ahkkkk sakit Mel, lepasin!! Apa yang kamu lakukan?!"
Dengan perut yang sedang membuncit Zella berusaha menahan tangan Amel yang menjambak rambut nya dengan kasar. Zella sungguh bingung dengan apa yang sedang terjadi? Kenapa Amel tiba-tiba datang dan memakinya?
"Sakit? Sakit mana dengan hati gue hah?" Amel menghardik dengan tangan yang tak lepas dari rambut Zella, bahkan cengkraman nya menjadi lebih erat.
"Ahkkkk apa kamu gila, memangnya apa yang aku lakukan sama kamu? ahhhh sakit tolong lepasin ini bener-bener sakit Mel, hikkk hik..."
Melihat Zella yang tidak mengerti kesalahan nya membuat Amel menjadi naik darah, ia mendorong Zella ke atas ranjang membuat Zella meringis. Belum juga hilang sakit kepala nya akibat di Jambak oleh Amel sekarang ia harus merasakan sakit lagi di perut nya.
Dengan keringat bercucuran dan mata yang penuh air mata Zella mengusap perut nya lembut berharap rasa sakit di perut nya berkurang, saat ini Zella benar-benar khawatir dengan apa yang akan di lakukan Amel, Amel adalah tipe wanita yang nekat jika ia sedang marah seperti ini. Sedangkan saat ini tidak ada seorang pun yang dapat ia mintai tolong.
"Lo bilang apa salah Lo? Salah Lo kenapa hadir di kehidupan gue, kenapa Lo merebut semua yang menjadi milik gue. Mama, Papa, Rimba, dan sekarang Lo mau merebut semua harta kekayaan orang tua gue!!! Lo tu harus sadar Lo itu disini cuma anak pungut!!"
Amel melangkahkan kaki nya dengan cepat keranjang dan berusaha menarik kembali rambut Zella tanpa belas kasih, tanpa peduli jika saat ini Zella sedang hamil.
"Lo itu cuma anak pungut, dasar perempuan brengs*k anak pungut si*lan".
Bu Herlambang dan asisten rumah tangga nya baru saja sampai dari berbelanja makanan di pasar, setibanya di ruang tamu ia mendengar suara Zella berteriak, tanpa menunggu waktu lama dan dengan rasa khawatir Bu Herlambang berlari meligat apa yang terjadi pada putrinya.
"Astaghfirullah Amel!!" Bu Herlambang terkejut saat membuka pintu lalu berlari dengan cepat menarik bahu Amel.
Plakkkkkkk
"Ma-mama"
Dengan mata yang berkaca-kaca Amel memegang pipi kirinya yang terasa panas.
"Siapa yang kamu sebut anak pungut si*lan?"
Bu Herlambang menatap Amel dengan nanar. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan yang di lakukan Amel.
"Apa yang kamu lakukan amel? Apa kamu mau membunuh kakakmu hah!!" Bu Herlambang merangkul tubuh Zella yang gemetaran dan mengusap pelit putrinya lembut.
"Aku baik-baik saja ma" Zella membalas pelukan Bu herlambang, ia merasa tenang akan kehadiran wanita yang telah melahirkan nya itu.
Amel tertawa sinis melihat kenyataan mama lebih peduli pada Zella dari pada dia bahkan mama nya bisa menamparnya hanya karna Zella.
"Kakak? Dia bukan kakak ku! Dia hanya anak pungut yang mama papa pungut, ka-karna di-dia kalian mengabaikan ku. AKU BENCI ZELLA AKU BENCI...!!!"
Amel mulai kalap berteriak dan mulai menarik lengan Zella kembali tapi dengan sigap Bu Herlambang menepis tangan gadis itu.
PLAKKKK
Zella menutup mulutnya karna terkejut saat Bu Herlambang menampar kembali pipi kiri Amel hingga membuat Amel terdiam.
"Kamu yang anak PUNGUT!! Kamu anak dari perempuan yang telah membuat hidupku dan putri ku menderita selama bertahun-tahun" teriak Bu Herlambang dengan marah dan membongkar semua sesak yang ia pendam selama ini.
Bu Herlambang pergi ke kamarnya dan membawa sebuah kotak berukuran sedang. Lalu memberikannya kepada Amel yang masih terpaku akan kenyataan yang baru saja ia dengar. Tangan nya bergetar membuka isi dari kotak tersebut.
Kotak itu berisikan sebuah figura foto dua gadis remaja yang saling merangkul sambil tersenyum, lalu di bawah figura itu ada beberapa potong baju bayi, dan sebuah amplop yang berlogokan sebuah panti asuhan.
Amel menatap Bu Herlambang seolah meminta penjelasan.
"Hari ini mama akan memberi tahu mu tentang semuanya"
Bu Herlambang menghapus kasar air mata yang mengalir di pipinya, ia menghirup nafas kasar mencoba untuk menetralisir gemuruh Yaang ada di dadanya sebelum memulai menceritakan masa-masa kelam di hidupnya.
"Gadis yang berambut panjang di foto itu adalah mama dan yang berambut pendek itu adalah Yelsa Mama kandung kamu. Kami bersahabat sejak kecil.
Yelsa adalah gadis yang manis dan sedikit tertutup tapi pemberani sangat kontras dengan mama yang cerewet dan ceroboh.
Hingga pada akhirnya persahabatan kami hancur, pada saat orang tua mama menjodohkan mama pada seorang laki-laki yang ternyata adalah laki-laki yang selama ini di cintai yelsa."
Bu Herlambang menghirup napas dan menghembus nya perlahan sambil mengulang kembali memori silam di ingatannya.
"Pasti pria itu papa! Apa papa juga mencintai mama kandungku?" Amel bertanya.
"Papa mu dan Yelsa hanya teman kuliah. Mereka satu jurusan dulu. Bahkan papa mu yang meminta orang tuanya agar di jodohkan dengan mama. Karna ia jatuh cinta pada mama saat kami tidak sengaja bertemu di sebuah taman.
Sungguh mama benar-benar tidak tahu jika papa mu adalah laki-laki yang selama ini mamamu cintai, karna selama kami bersahabat mamamu tidak pernah menyebutkan siapa orang yang telah mencuri hati nya.
Marah? Iya Yelsa sangat marah pada mama. Hingga ia hilang begitu saja tanpa kabar, bahkan di hari pernikahan mama pun ia tidak datang. Hingga pada akhirnya kami bertemu lagi saat papamu melakukan akuisisi pada perusahaan REEL COMPANY"
FLASHBACK