Brondong Tengil

Brondong Tengil
Amel VS Rimba



Amel mundar-mandir di kamar nya memikirkan rencana apa yang akan ia lakukan selanjutnya, dengan kondisi di mana Rimba menyuruh beberapa koki dan pengawal untuk menjaga Zella, yang selalu mengawasi gerak-geriknya saat mereka bersama membuat ia sulit untuk mencelakai Zella.


Clekkkk...


Amel terkejut melihat Rimba yang masuk kedalam kamarnya, mendekati nya dengan mata merah penuh amarah.


"Ahhhh, apa yang kamu lakukan?" Amel merintih kesakitan mencoba melepaskan tangan Rimba yang menarik kuat rambut panjangnya.


"Sudahku peringatkan jangan pernah bermain-main denganku!" Rimba mengeratkan genggaman tangannya di rambut Amel.


"Ahhhh sakit... aku tidak mengerti apa yang Mas Rimba maksud?" Amel memukul tangan Rimba agar dapat melepaskan rambutnya yang terasa mau copot dari kulit kepalanya.


"Tidak perlu berpura-pura lagi padaku!, kamu tahu betul apa yang aku sedang aku maksud! berani-berani nya kamu menaruh jamur di makanan istriku, kamu sengaja kan mau meracuni istri dan calon anakku?!" Amel menginjak kaki kanan Rimba dengan kuat lalu menghindar saat tangan Rimba terlepas dari rambut nya.


"Dasar perempuan jala*g!" umpat Rimba kasar.


"Tutup mulutmu! Hahahaha... jadi Abang tersayang ku ini sudah tahu semuanya? baguslah, berarti aku tidak perlu lagi capek-capek memasang wajah polos di hadapanmu" ujar Amel sinis.


"Yah benar, aku yang melakukan itu semua! Aku yang mencampur makanan itu agar istri sia*lan mu itu mati bahkan bila perlu ia mati bersama bayinya. Ckckck tapi sayangnya, laki-laki di hadapanku ini sangat sigap sekali melindungi istri si*alan nya itu!"


"Jangan pernah bermain-main denganku Amel!" rimba menatap mata Amel dengan nyalang.


"Tidak, Aku justru sedang serius. Serius menghabisi wanita yang selalu merebut semuanya dariku. Karna hanya melenyapkan dia semuanya akan menjadi milikku, kasih sayang Mama dan Papa serta kamu juga akan menjadi milikku" Amel mendekati Rimba dan mengucapkan kata-kata tersebut dengan tajam.


"Hehhhhh... jangan bermimpi, akan ku pastikan itu tidak akan pernah terjadi!" ujar Rimba meremehkan Amel, membuat Amel menggenggam tangannya karena kesal. Tapi di lain sisi Rimba tersenyum melihat sepasang mata yang telah pergi, setelah menguping pembicaraan mereka lewat celah pintu yang sengaja ia buka sedikit.


"Ohhhh ya, aku penasaran bagaimana reaksi kakak ku tersayang saat mengetahui suami tercintanya melakukan banyak kebohongan hanya untuk mendapatkannya. Bahkan sanggup menipu dan menyingkirkan orang-orang yang ia cintai"


"Silahkan saja kamu memberi tahu Zella, itu tidak akan berpengaruh padanya." ucap Rimba santai.


"Termasuk tentang Dion?" Rimba terpaku dan terdiam mendengar Amel menyebut nama Dion, membuat Amel menyeringai melihat reaksi Rimba.


"Aku sangat yakin saat Zella tahu, ia akan sangat membencimu jika ia tahu kamu lah yang telah membunuh lelaki yang ia cintai hahaha"


Rimba mencengkram leher Amel kuat membuat Amel tercekik dan susah bernafas.


"Jangan coba-coba menggertak ku!, akan ku pastikan kamu membayar semua ini!. Satu-satunya kesalahan ku adalah tidak membunuhmu dari dulu!" Rimba melepas cengkraman tangan nya dengan kasar dan berlalu pergi dari kamar Amel.


Amel terbatuk-batuk dan memegang lehernya yang terasa sakit dengan batin yang terus mengutuk keberadaan Zella yang menjadi biang dari semua penderitaannya.


*****


Jam dinding berdetak menunjukkan malam sudah semakin larut. Pak Herlambang menutup laptop di pangkuannya dan meletakkan di atas nakas samping ranjangnya. Lalu ia melepas kaca mata yang melekat di wajahnya serta mengucek pelan matanya yang terasa agak pedih.


"Ma! Mama kenapa? Papa lihat dari tadi Mama tampak gelisah?" tanya pak Herlambang yang heran melihat istrinya yang hanya diam terpaku di sampingnya.


"Hmmmhh Mama tidak apa-apa pa, Papa sebaiknya istirahat sana. Hari sudah lewat tengah malam ini" Bu Herlambang mencoba mengalihkan pembicaraan karna ia bingung bagaimana menjelaskan pada suaminya tentang apa yang telah terjadi dan apa yang ia dengar.


Setelah merasa agak mendingan dengan matanya, pak Herlambang meletakkan kaca mata yang sedari tadi ia pegang di atas leptop pada nakas lalu menggeser sedikit tubuhnya agar dapat menghadap istrinya.


"Mama jangan bohong, Papa tahu ada yang sedang mengganggu fikiran Mama saat ini. Ayo ada apa? cerita pada Papa!" ujar pak Herlambang meminta istrinya agar bisa lebih terbuka padanya.


Bu Herlambang menoleh ke arah pak Herlambang masih dengan posisi diam, berhati-hati sambil memilih kata-kata yang pas untuk ia ucapkan. Bu Herlambang benar-benar bingung kali ini, untuk mengatakan atau tidak pada suaminya.