
"Ara ... tak bisakah kau duduk diam! Aku pusing melihat kau mondar-mandir sedari tadi!" ucap Nina yang duduk di kursi panjang itu menatap Ara. Setelah acara ijab kabul pernikahan Ara Bu Ami langsung di bawa keruangan operasi. Sudah hampir empat jam operasi berjalan tapi belum ada kabar sedikitpun tentang kondisi neneknya itu.
Hanya para suster saja yang berlalu lalang keluar masuk dari ruangan operasi itu.
"Sudah empat jam Nina, tetapi kenapa belum ada kabar juga dari dalam." Jawab Ara khawatir.
"Sebaiknya kamu duduk saja di sebelah suamimu sambil berdoa, apa kamu tidak capek mondar-mandir dengan kebaya serta sepatu tumit itu?" Saran Nina.
Ara merasa apa yang dikatakan Nina benar, ia mulai merasakan betisnya sedikit pegal dan keram. Sejak operasi di mulai hingga kini, ia selalu berdiri dan berjalan kesitu kemari tiada henti.
Ara menoleh kearah Wildan yang masih setia menunggu. Pria itu duduk tidak jauh di sebelah Nina. Ia tersenyum tapi Ara melengos sambil mencebikkan bibirnya tak suka. Ara lebih memilih duduk di sebelah kanan Nina dari pada harus duduk bersebelahan dengan Wildan.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya lampu ruangan operasi itu mati, mereka semua berdiri menghampiri dokter yang baru saja keluar tak lama pintu itu terbuka.
Dokter itu melepas masker hijaunya dan menatap iba ke arah wanita yang mengenakan kebaya putih yang tampak kacau. Bahkan make up yang ia kenakan tidak mampu menutupi lingkaran hitam di bawah matanya.
"Bagaimana keadaan Nenek saya, Dokter?" tanya Ara.
"Maafkan kami, kami sudah berusaha sebaik dan semampu kami." Lirih dokter itu membuat persaan Ara semakin tidak enak.
"Apa maksudnya Dokter? Katakan bagaimana kondisi Nenek saya sekarang!" Cerca Ara karena panik.
Lelaki setengah baya yang di panggil dokter itu menghela napas, "Pada awalnya operasi Nenek anda berhasil dan berjalan dengan baik. Tapi setelah operasi tiba-tiba kondisi fisik Nenek anda tiba-tiba turun drastis. hingga terjadi komplikasi dan menyebabkan nyawanya tidak tertolong. Maafkan kami" ucap dokter itu sedih.
BUUM!
Ucapan dokter itu seperti boom yang menghantam jantung dan kewarasan Ara.
Wanita itu menggelengkan kepalanya tak percaya, air mata bercucuran di pipi membasahi make up-nya yang semakin berantakan.
Nina mendekat memeluk Ara erat, tangisnya semakin pecah.
"Gak! Dokter bohong! Nenek saya baik-baik saja." teriak Ara pilu.
Nina semakin memeluk Ara erat, bahunya ikut terguncang dan air mata juga ikut turun tanpa adanya suara yang ia keluarkan.
'Allahu Akbar, Allahu Akbar! Ya Allah cobaan apa lagi ini yang kau berikan padaku. Kenapa semua masalah seakan-akan selalu menghampiriku. Aku gak kuat ya Allah ... Gak kuat! Ku mohon tuhan ini hanya mimpi, nenekku masih hidup! Ia masih hidup!. Aku mohon?" batin Ara berteriak pilu.
Melihat kekasih hatinya yang sedang berkabung membuat Wildan ingin mendekat, ia ingin memeluk tubuh istrinya itu. Tapi langkahnya terhenti mengingat betapa bencinya wanita itu padanya sekarang.
"Sabar Ara, ini sudah takdir, ikhlas kan nenek. Ia sudah tenang sekarang. Kamu harus kuat!" ucap wanita itu menghibur. Ara melepas pelukan Nina darinya dan menggelengkan kepala tidak terima dengan apa yang Nina ucapkan.
Wanita itu menangis pilu membayangkan bagaimana hidupnya nanti tanpa Neneknya, tanpa orang-orang yang ia sayang.
Sekarang ia sendiri, tidak ada lagi orang yang selalu mengasihinya dengan tulus. Tak ada lagi wanita yang selalu menyebutkan namanya di setiap do'a-do'anya. Ara meremas baju kebaya yang ia kenakan di sebelah dadanya dengan erat.
Rasanya separuh nyawanya sedang di cabut untuk pergi. Ara benar-benar merasa kesakitan di dada, rasanya sangat sakit sekali! Hingga rasanya membuat Ara sudah untuk bernapas.
Setiap sendi-sendinya terasa lemas, kenyataan itu cukup mengguncang hati dan jiwa Ara hingga semua terasa gelap untuknya.
Dengan cepat Wildan menangkap tubuh istrinya yang limbung dan tak sadarkan diri.
Wildan mengerti kenyataan ini sangat sulit di terima istrinya, dengan perasaan bersalah air mata mengalir di pelupuk mata Wildan begitu saja.
"Maafkan aku, maaf karena telah membuat hidupmu menderita seperti ini. Maaf!" Gumam Wildan pelan di teling Ara.
***************
Nina menemani Ara yang masih enggan membuka matanya di sebuah kamar inap, karena fisik Ara yang begitu lemah maka dokter memasang infus di tangan wanita itu.
Hanya Nina yang masih setia menunggu di samping ranjang Ara sambil terus menggenggam tangannya erat. Sedangkan Wildan pergi mengurus pemakaman Bu Ami, Neneknya Ara.
Nina tidak bisa menahan air matanya melihat kondisi Ara yang begitu memprihatinkan.
"Kamu harus kuat Ra, masih ada aku di sisimu. Hanya kamu sahabat yang ku miliki saat ini, aku menyayangimu Ara," kata Nina sambil mengelus pipi Ara yang mulai tirus dalam beberapa hari saja.
Bagi Nina, Ara bukan hanya seorang sahabat tapi sudah seperti saudara nya sendiri. Nina memang terlahir dari keluarga yang berada, bahkan bisa di katakan sangat kaya sehingga Nina tidak perlu khawatir akan kekurangan. Tapi walaupun ekonominya berkecukupan, ia memiliki keluarga yang berantakan.
Ayah dan ibunya sudah bercerai saat ia masih duduk di bangku SMA. Kedua orang tuanya pun sudah memiliki pasangan baru mereka masing-masing. Itu sebabnya Nina lebih memilih hidup sendiri jauh dari keluarga.
Tapi saat bertemu Ara hidupnya berubah, bersama Ara ia merasa menemukan sebuah keluarga. Dari Neneknya Ara serta Ara, ia bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dan saudara yang tulus yang tidak pernah ia dapatkan saat bersama keluarganya sendiri. Itu sebabnya Nina begitu menyayangi Ara seperti saudara perempuannya sendiri.
************
Sahabat tidak akan menghilang saat masalah datang, namun justru menggandeng tanganmu dan menghadapinya bersama-sama.
Persahabatan tidak terjalin dengan oran yang istimewa. Namun, kita menjadi istimewa karna bersahabat.
Sahabat juga adalah orang yang menari bersamamu di bawah matahari dan berjalan bersamamu di kegelapan.
Seperti persahabatan Mutiara dan Nina Aurelia Putri.