
Seperti biasa setiap pagi anggota keluarga Herlambang berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi.
Sesibuk apapun, pak Herlambang selalu membiasakan keluarga nya berkumpul saat jam sarapan pagi atau pun makan malam, karna saat jam itulah keluarga nya bisa bertanya kabar dan saling becengkrama satu sama lain agar keharmonisan keluarga tetap terjaga. itu menurut pemikiran pak Herlambang.
Zella mengambil sepotong roti yang ada di sebelah kiri tangan Rimba dan mengolesinya dengan selai stroberi.
Sedangkan Rimba hanya meminum secangkir coffee latte sebagai pembuka untuk mengawali harinya pagi ini.
"Sayang gimana hasil kontrol dengan Dr. Yola kemaren? Cucu Mama sehatkan? Kapan ia akan lahir?"
Suara bu Herlambang memulai pembicaraan dengan nada antusias. Karna ia sudah tidak sabar menunggu hadirnya cucu di pangkuannya.
"Cucu Mama sehat, bahkan sangat sehat. Kata Dr. Yola HPL nya sekitar 60 hari lagi"
Bu Herlambang tersenyum mendengar penjelasan putrinya. Hatinya merasa lega mendengar putri dan calon cucunya sehat-sehat saja.
Sedangkan rimba mengusap perut istrinya dengan sayang.
"Ma, dimana putri kita satu lagi? kenapa dia tidak turun untuk sarapan?"
Pak Herlambang bertanya pada istrinya yang sedang menuangkan secentong nasi goreng di piringnya.
"Kemaren Aldi menelpon Mama dan mengatakan bahwa Amel akan bersamanya dalam 2 atau 3 hari ini. Aldi bilang mungkin karna ingatan Amel belum pulih sepenuhnya jadi ia masih merasa tidak nyaman berada bersama kita."
"Tapi Amel itu perempuan dan Aldi laki-laki, tidak baik mereka tinggal bersama tanpa adanya ikatan sebuah hubungan. jika terjadi apa-apa sama Amel gimana?" suara pak Herlambang terdengar khawatir dengan salah satu putrinya itu.
"Amel itu sudah dewasa Pa, selama ini juga Aldi yang menjaga nya saat ia hilang beberapa bulan lalu. Sepertinya Amel dan Aldi cocok apalagi Aldi adalah lelaki yang baik dan mapan"
"Iya Mama juga setuju jika Amel dengan Aldi, Mama juga lihat dia pria yang baik" Bu Herlambang ikut menimpali.
Pak Herlambang menghela nafas pelan, mungkin apa yang di katakan istri dan menantu nya memang ada benarnya.
Hanya saja pak Herlambang merasa sedih pada waktu yang begitu cepat berlalu, sehingga putri-putri kecilnya kita telah berubah menjadi wanita dewasa yang bisa mengambil keputusan tanpa bertanya lagi padanya.
Apa aku kepala keluarga yang begitu buruk, hingga anak ku saja bisa tidak merasa nyaman di tengah-tengah keluarga nya sendiri.
"Pa... kenapa makanan nya tidak di habiskan?" pak Herlambang tersadar dari lamunannya dan menatap nasi yang masih sangat banyak, mungkin hanya berkurang 2 sendok makan saja.
"Perut Papa lagi gak enak ma... lagi pula Papa juga sudah hampir telat kekantor. Papa pergi kerja dulu ya"
Bu Herlambang menyalami tangan suaminya yang akan beranjak dari meja makan, lalu mengantar suami nya sampai depan pintu rumah.
Ada apa dengan suamiku? Kenapa raut wajahnya berubah sedih seperti itu?
sebenarnya beban apa yang sedang singgah di hatinya pagi ini, hingga wajahnya murung seperti itu.
Bu Herlambang hanya diam dan mulai beramsumsi dengan fikirannya sendiri.
******
Suara burung yang asik bersiul menandakan malam telah berganti pagi begitu cepat.
Aldi menyipitkan matanya karna merasa sangat terganggu dengan ulah matahari yang mulai naik ke singgasananya. Ia masih ingin tidur memeluk seseorang yang menghabiskan malam panjang serta panas bersamanya.
Aldi tersenyum dengan mata yang masih terpejam mengingat sudah berapa ronde yang ia habiskan dari kemaren bersama wanitanya.
Aldi mengeratkan pelukannya, Ia masih begitu malas untuk beranjak dari atas peraduannya.
Namun entah kenapa pelukan kali ini terasa berbeda, terasa dingin, kosong serta hampa.
Menyadari ada kejanggalan yang terjadi.
Aldi reflek langsung membuka kedua retina matanya, dan menemukan kenyataan bahwa yang di peluknya saat ini bukanlah Amel melainkan sebuah guling yang sudah hilang kehangatannya.
Aldi terkejut dengan apa yang telah ia lakukan dan melempar guling itu dengan tidak berperasaan. Matanya mengedar kesetiap sudut ruangan kamar itu, ia mencoba mencari keberadaan Amel namun nihil.
Aldi bangkit setengah berbaring menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang, membuat selimut yang membalut tubuh kekarnya merosot.
CLEKKKKK
Amel masuk kedalam kamar memandang Aldi yang sedang bersandar di rajang, dengan keadaan yang masih nak*d tanpa menggunakan sehelai benangpun menutupi tubuh kekarnya.
"Kamu baru bangun Al?"
Aldi hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari wanitanya.
Amel berjalan kearah jendela untuk merapikan hordeng yang hanya sedikit terbuka agar matahari bisa masuk dengan sempurna.
"Al, cepat mandi sana! Hari sudah hampir siang dan aku juga harus pulang."
"Honey kamu tidak akan ku antarkan pulang hari ini. Lagi pula kemaren aku sudah menelpon Mama mu, untuk memberi kabar kalau kamu akan bersamaku dalam beberapa hari ini" mata Amel membola mendengarnya.
"Kenapa kamu menelpon Mama sih Al?"
Amel mengeram kesal karna Aldi melakukan suatu tindakan tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Amel takut nanti Mamanya berpikiran aneh-aneh tentangnya dan Aldi, walau kenyataanya hubungan ia dan pria ini sudah seperti suami istri saja.
"Jangan berpikiran terlalu jauh honey, aku rasa orang tuamu cukup mengerti dengan apa yang aku sampaikan padanya. Semoga saja saat kamu pulang nanti sikap mereka akan berubah lebih perhatian sedikit denganmu sayang."
Amel menarik sebelah ujung bibirnya, ingin rasanya ia tertawa mendengar ucapan Aldi yang terdengar lucu di telinga.
Jika memang semudah itu membujuk hati orang tuanya, maka ia tidak perlu bertahun-tahun menunggu dan menderita seperti ini.
Aldi menyibak selimut lalu turun dari ranjang, pria itu berjalan kearah kamar mandi santai di hadapan Amel dengan tubuh polosnya.
"Akkkkk!!"
Aldi tersenyum jahil melihat wanitanya menjerit dan melotot.
"Apa honey, kamu mau lagi?"
"ALDIIIIII !!!"
Aldi tertawa riang melihat Amel berteriak karna kesal, dan berlari menuju kamar mandi dengan cepat.
Rasanya Amel ingin mencekik leher pria dihadapannya ini.
Ya Tuhan... bagaimana mungkin pria ini dengan tidak tahu malunya berjalan di hadapanku seperti itu, aisssshhhhh bikin panas mataku saja pagi-pagi begini.
Gerutu Amel di dalam hati dengan wajah yang memerah karna malu.
Karna walau mereka sering melakukannya, tapi baru kali ini Amel melihat tubuh polos Aldi dari ujung kaki sampai ujung rambut sekaligus dan secara detail.