Brondong Tengil

Brondong Tengil
Menghilangnya Dion



Aku terbangun dari tidurku saat ponsel ku berbunyi di atas malas samping tempat tidurku.


"Hmmm... hallo?"


Aku mengangkat telpon tanpa melihat terlebih dahulu nama siapa yang tertera disana.


"Ya ampun sayang, kamu baru bangun?" suara lelaki diseberang sana menyapa sambil tersenyum simpul, yang pastinya senyuman itu tidak dapat di lihat oleh Zella


"Mas... kamu dimana?" ucap ku saat baru menyadari suara siapa di sebrang sana.


"Mas..? " tanya dia dengan nada yang bahagia medengarku ucapanku.


"Iya? Apa mas tidak suka? Mas dimana?" tanyaku beruntun karna kesal karna ia tidak menjawab pertanyaanku dari tadi.


"Tentu saja aku suka sayang! Mas lagi kerja di kantor."


Kantor? aku mengambil jam kecil di atas nakas dan melihat jarum jam menunjuk angka 09:30


"Yaallah aku kesiangan, mas kenapa kamu gak bangunin aku dari tadi sih" ucapku panik saat menyadari aku sudah kesiangan.


"Mas kasian ngelihat kamu tidurnya nyenyak sekali, hari ini kamu gak usah ke kantor. Masalah kerjaan tenang aja kan ada Ben yang akan Handel. ohhh ya jangan lupa sarapan ya! Udah mas siapin di samping kamu. Udah dulu ya sayang? Masih banyak kerjaan, kamu istirahat ya I love you muuachhh"


" Love you to" ia menutup telpon setelah mendengar balasanku.


Aku menoleh kesamping melihat makanan apa yang telah ia siapkan seperti katanya barusan


Terdapat beberapa potong sandwich dan segelas susu serta setangkai bunga mawar.


Manis sungguh manis. Ahhhh suamiku kamu membuatku semakin mencintaimu.


*****


Drrrrt...Drrrrttt


Sebuah panggilan telpon masuk lagi membuyarkan hayalan ku barusan.


"Hallo Din? Ada apa?" ucapku menyapa setelah lebih dulu melihat nama siapa yang tertera di ponsel sebelum mengangkatnya.


"Lo lagi dimana Zel?"


"Di rumah Din. ada apa tumben Lo nelpon jam segini?" aku menarik selimutku rapat dan menyandarkan punggungku ke sandaran tempat tidur.


"Zel... lo tahu Dion ada di mana?" tanya Dinda ragu-ragu padaku.


"Loh... emang nya mas Dion kemana Din? kan gue udah pernah cerita ke elo gue terakhir ketemu dia 10 hari yang lalu saat kejadian di pantai" aku masih bingung dengan arah dari pertanyaan Dinda.


"Iya.. madsut gue sejak kejadian itu, Lo ada ketemu sama Dion lagi gak?"


"Nggak! Memang nya ada apa sih Din, jngan buat gue penasaran dong?" tidak tahu kenapa ada sedikit rasa gelisah di hatiku mendengar arah pembicaraan Dinda, aku takut terjadi apa-apa dengan Mas Dion. Karna walau bagaimanapun dia adalah orang yang pernah ada dalam hidupku.


"*Zel...Zel..Zella Lo masih dengarkan gue kan?


"Ehhhh... iya Din, sorry gue cuma lagi mikir keberadaan Mas Dion Ado di mana*?"


"Ya udah Lo gak usah terlalu panik dulu ya, ya udah ya gue mau telpon teman-teman Dion dulu mencari tahu keberadaannya" Dinda menutup sambungan telponnya.


Mas Dion hilang? kemana? Rimba... apa dia di balik hilangnya mas Dion? aku harus cari tahu.


****************


Huekkk...huekkkk


Aku terus saja memuntahkan isi perutku sejak sore tadi, hingga aku tidak mendengarkan suara langkah kaki Rimba yang baru saja pulang dari kantor.


"Aku keluar kamar dengan badan yang benar-benar lemas serta wajah yang pucat"


"Sayang... kamu kenapa? Kamu sakit? kenapa gak bilang sama mas dari tadi kalau kamu sakit. Ayo sekarang mas antar kamu ke rumah sakit ya?" ujar Rimba yang panik melihat kondisi tubuhku yang berantakan.


Huekkk


Aku menutup mulutku kembali dengan tangan serta berjalan tergesa-gesa kekamar mandi dan memuntahkan lagi isi perut yang benar-benar kosong.


Sebuah tangan memijik tengkukku dengan lembut saat rasa mual itu kembali menyerang.


Sekilas aku melihat dia dari balik pantulan kaca di hadapanku sedang tersenyum bahagia menatapku.


"Kamu bahagia banget kayaknya melihat aku menderita kayak gini mas?" aku menatap nya kesal dan berusaha berjalan keluar kamar mandi. Tapi baru beberapa langkah aku berjalan.


" Sayang... hati-hati sini aku bantu kamu" sepasang tangan kekar suamiku menangkap tubuh ku, saat tubuh ini mulai merasa lemas dan limbung karna pusing.


Rimba menggendong ku ke atas ranjang dan menarik selimut hingga menutup sebatas perutku.


"Mas... aku ingin bertanya sesuatu padamu, boleh ?" ujarku menatap mata nya


"Mas tahu dimana keberadaan Mas Dion? Dinda bilang dia menghilang sejak pertengkaran itu" aku menelisik kedalam retina matanya mencari kebenaran.


"Tidak, mas tidak tahu! dan tidak mau tahu. Mas gak suka kamu memikirkan lelaki brengsek itu" ucapnya datar.


Ia mengusap kepalaku lembut dan mencium keningku dalam, membuatku begitu nyaman dan merasa di cintai.


"Mas udah sangat bahagia dengan kebersamaan kita saat ini, mas harap hanya mas laki-laki yang ada di hati dan pikiranmu. Jangan yang lain!" ucap nya dalam dan tegas. tapi tidak menghilangkan binar cinta di matanya.


Aku hanya mengangguk mendengarkan penuturan nya tadi, Rimba beranjak dari Ranjang dan berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan diri setelah aku memaksanya karena merasa mual dengan bau tubuhnya.


Rimba keluar dari kamar mandi menggunakan piyamanya berbaring di sampingku, memelukku dan memejamkan mata ikut terlelap bersamaku.