
Aku membuka mataku saat udara dingin menerpa wajahku, aku menggeliatkan sedikit tubuhku untuk mengumpulkan kesadaran ku.
Ku tatap seseorang yang berada di sebelah kanan yang sedang menatapku sambil tersenyum.
"hmmmm, kamu sudah sadar sayang?" ujarnya dengan membelai wajahku lembut.
"Kenapa aku ada di sini?" aku memegang kepalaku berusaha mengingat kejadian terakhir kali.
"Seingatku, aku berada di parkiran. Tapi sekarang kenapa aku ada dimobil bersamamu disini ?" aku memiringkan tubuhku menghadap ke arah mas Dion.
"Mas sangat merindukanmu sayang. Maaf jika mas membawamu dengan cara seperti ini"
Ku tatap matanya tersirat kesedihan serta kerinduan yang dalam untukku, lalu tangan nya membelai rambutku dengan sayang.
Untuk sesaat aku terpaku, dimana getaran hati yang selalu aku rasakan saat ia berlaku manis seperti ini? Kenapa sekarang rasanya biasa saja? Kemana rasa rindu yang selalu aku rasakan untuknya?
Aku menolehkan wajahku kesamping saat ia, memajukan tubuhnya ke arahku berusaha mengecup bibirku.
"Kenapa sayang?"
Ia menatapku dengan raut kecewa. Karna ini merupakan pertama kalinya aku menolak sentuhannya. Aku tetap menolehkan wajahku ke kanan untuk menghindari tatapan matanya. Ntah kenapa situasi ini benar-benar membuatku tidak nyaman.
"Hmmmm.... mas lihat! ada sunset" ucapku girang saat melihat langit yang mulai menjingga di ujung lautan itu. Pemandangan yang sangat indah dan tentunya jarang sekali dapat aku temui.
Aku membuka pintu mobil dan berjalan keluar menuju pinggir pantai. Merasakan lebih dekat deburan ombak dan hembusan angin yang diterangi langit yang sedang menjingga.
Mas Dion merangkul pinggang ku dari belakang dengan mesra. Ahhhh... andaikan kami sepasang kekasih seperti dulu, mungkin saat ini aku akan bersorak riang karna bahagia.
Aku melepas rangkulan tangan mas Dion dipinggangku, lalu memutar tubuhku mengarah ke hadapannya.
"Mas.... tolong jangan seperti ini"
"Kenapa Zell? Kenapa sayang, apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" ucapnya dengan wajah frustasi.
"Karna dia milikku"
Kami menoleh ke suara seseorang yang mengucapkan kalimat tadi dengan lantang dan berjalan ke arah kami dengan wajah memerah serta rahang yang mengeras karna marah. Pria itu tidak lain adalah Rimba.
Aku tidak menyangka Rimba bisa menemukan keberadaan kami di sini, aku berharap tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Jujur pertengkaran mereka terakhir kali di kafe cukup membuatku trauma.
"Zella... ayo pulang!!!" Rimba menarik tanganku kasar membuat ku meringis karena menahan sakit di pergelangan tanganku.
"Lepaskan dia! Kamu menyakitinya!" Dion menahan tangan Rimba agar melepaskan tanganku. Alih-alih agar melepaskan tanganku justru Dion memancing kemarahan Rimba. Membuat Rimba memukul wajahnya dengan kuat.
Bukkkkkk
"Dia istriku, berhenti berusaha merebutnya dari sisiku". teriak Rimba di hadapan Dion dengan kedua tangan mencengkram kerah bajunnya dengan erat. Akhirnya perkelahian itu terjadi lagi tanpa mampu di elakkan. Rimba terus memukul membabi buta.
"Arhhhkkkk*"
Aku berteriak karna terkejut dengan apa yang di lakukan Rimba barusan. Mereka berguling dan saling memukul satu sama lain.
"Stop... aku mohon berhenti! sudah cukup!" aku memeluk Rimba dari belakang sambil menagis saat ia hampir saja mengayunkan tangan nya untuk meninju Mas Dion lagi.
Kepalaku masih menoleh kebelakang walau Langkah kaki ku mengikuti Rimba. Aku lihat mas Dion hanya dapat menatap kepergian ku dengan meneteskan air mata karna sedih.
Aku berharap dia baik-baik saja dan semoga ia menemukan wanita yang dapat mencintainya sepenuh hati tidak sepertiku yang selalu melukai hatinya.
****************
Sesampainya di rumah Rimba menarik tanganku kekamar lalu membanting pintu dengan kasar serta melempar tubuhku keatas tempat tidur. Ia menindih tubuhku lalu merobek baju yang melekat di tubuhku dengan cepat, sungguh membuatku terkejut.
"Rimba!!! Stop!!!" teriak ku kepada Rimba dengan di iringi air mata yang turun di kedua pelipisku.
Rimba menciumi leher hingga dadaku, dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana.
"Ahhhhh"
Aku mend*sah saat tangan Rimba tengah meremas kedua gundukan ku.
Tanganku menyelusuri punggung mulus Rimba. Sesekali aku mengusap rambut Rimba yang mulai berantakan.
Rimba mengangkat kembali wajahnya, menciumi kembali bibirku yang sedari tadi menyebut namanya.
Kemudian Rimba memposisikan dirinya untuk
mulai memasuki ku secara perlahan.
"*Uhhhhhhh"
aku meng*rang dengan jemari menarik kuat seprai putih di kamar kami. Saat bagian bawahnya memadati ku.
Aku mencengkram kedua lengannya menahan sakit serta merasa puas pada nafsunya. Kubiarkan Rimba sepuas mungkin menguasai ku*.
"Rimba..." des*hku saat mencapai puncak bersaamaan dengan cairan yang keluar dari milik Rimba. Karna lelah Rimba menjatuhkan dirinya di sampingku.
"Aku mencintaimu"
Bisikku ditelinga Rimba lalu mencium pipinya dengan lembut.
Rimba tersenyum dan memelukku dari belakang lalu mengecup pundakku. Ia melingkarkan tangannya di pinggang ku. Mengusap lembut bagian perut rataku.
"Biarkan benihku tumbuh di sini, sebagai bukti cinta kita!" ujarnya lalu menciumi perut rataku dengan sayang.
"Beri aku waktu?" ucapku sedih.
"Hmmmm... Aku tidak akan memaksamu sayang, aku mencintaimu. Tapi tolong jangan pernah hadir kan Dion-dion yang lain diantara kita. Karna aku gak sanggup menahan rasa cemburu ini " Rimba mempererat pelukannya padaku.
Hujan mulai turun dengan deras mengguyur kota tanpa henti dan gemuruh bersautan.
Malam ini, bukan hanya suara hujan yang bersahutan. Suara kami berdua saling bersahutan saling menyebut nama satu sama lain. Begitu manja dan sesekali tercekat, beberapa kali terlontar saat petir menggelegar. Tidak peduli hujan sederas apapun, Rimba tetap melanjutkan aktivitas yang sangat disukainya tersebut.
Aku hanya pasrah mengikuti setiap ritme yang ia berikan, ku biarkan malam ini ia menikmati miliknya sepuasnya. Melepas segala amarah dan keraguannya padaku.
Hingga kami berdua sama-sama terkulai lemah.