
"Maaf ini dengan keluarga, Pak Herlambang?" ujar orang itu.
Dahi Renata berkerut, mendengar suara orang asing yang menggunakan ponsel suaminya.
'Ya Allah apa lagi yang akan terjadi ini, kenapa banyak kenapa perasaanku sungguh tidak enak sekali' batin Renata berujar. Entah mengapa perasaannya semakin tidak enak.
Ia berharap semoga tidak ada sesuatu yang buruk.
"Benar, saya istrinya. Ini siapa?" jawab Renata singkat.
"Saya perawat dari rumah sakit permata, mau mengabarkan jika suami ibu mengalami kecelakaan dan sekarang kondisinya sudah meninggal"
Gelegar!
Bagai di sambar petir di siang bolong rasanya saat Renata mendengar semua itu.
Seketika ponsel di tangan Renata langsung meluncur dengan mudah, jatuh kelantai dan bederai. Pipinya terasa panas dengan air mata yang entah sudah beberapa kali jatuh sedari tadi.
Badannya terasa melayang, seketika tubuh Renata jatuh ke lantai karna lutut yang lemas seolah tak dapat lagi menopang tubuhnya dengan kuat.
Tangisnya pecah!
Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Ya Allah, cobaan apa lagi yang engkau berikan padaku sekarang. Kedua putriku masih tergeletak di meja operasi antara hidup dan mati dan sekarang, suamiku meninggal!
Ia peluk kedua lututnya, menangis sekuat yang ia bisa tanpa memperdulikan para suster serta orang yang ada di sana menatap dirinya dengan bingung.
"Nyonya, nyonya kenapa?" tanya wanita berseragam suster itu panik. Renata mengangkat kepalanya dan menatap ke arah wanita itu.
"Suami saya, suami saya meninggal! Suami saya meninggal!" tangis Renata semakin pecah.
Ia tidak perduli lagi dengan harga dirinya yang sekarang, terlihat seperti anak kecil yang jongkok sambil menangis di sudut gang karna takut gelap.
Ia tidak perduli! Hidupnya sekarang sudah hampa, orang yang ia cintai sudah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
"Ibu tenang dulu ya, ibu duduk di kursi itu dulu ya Bu!" pinta suster itu. Renata menuruti.
Suster itu memeluk tubuh Renata erat, membantu berdiri, memapah tubuh wanita sebaruh baya itu menuju kursi.
"Suami saya meninggal suster, kedua putri saya masih di dalam ruang operasi. Kenapa nasib keluarga saya seburuk ini suster!" Gumam Renata pilu dengan tatapan mata yang kosong. Suster yang bernama Ana itu mengusap punggung Renata lembut. Ia merasa kasihan, Ia tahu wanita tua di sampingnya ini sangat terpukul.
Wanita mana yang sanggup mendengar kabar kematian suaminya di saat anaknya masih dalam kondisi kritis.
"Semua ini tidak nyata! Iya, kan sus? Semua ini hanya mimpi. Suami saya belum meninggal putri saya juga baik-baik saja." Gumam Renata yang masih shock. Hingga akhirnya semua terasa gelap untuknya.
Di tempat lain Rimba sedang mengendarai mobil dengan cepat, ia sedang rapat pengembangan tander baru dengan Aldi saat mertuanya itu menelpon.
Suasana dalam mobil itu begitu mencekam, ada perasaan tidak enak yang mengganggu perasaan Aldi, ia tidak tahu apa yang terjadi karna Rimba hanya mengatakan sekilas jika Amel dan Zella berada di rumah sakit. Tapi melihat wajah Rimba yang begitu panik membuat Aldi yakin ada sesuatu yang buruk terjadi diantara mereka berdua.
Setelah membelah keramaian kota, akhirnya kedua pria itu akhirnya sampai di rumah sakit tempat Amel dan Zella di rawat.
Rasa khawatir semakin menghantui saat mereka melihat mang jaja sedang duduk terpekur di depan ruang operasi.
"Dimana Zella, mang?"
"Dimana Amel?" tanya Rimba dan Aldi secara bersamaan.
"Mereka masih di ruang operasi tuan," jawab mang Jaja bingung.
Adli menatap pintu operasi yang lampu merahnya masih menyala, khawatir? Tentu saja ia khawatir, tapi tak ada gunanya lagi ia marah.
Terlebih siapa yang harus ia salahkan disini. Tidak ada! Ia mengusap wajahnya kasar dan berdoa semoga wanita nya baik-baik saja di dalam sana.
"Kenapa mereka bisa jadi seperti ini mang, apa yang terjadi?" umpat Rimba kasar. Mang jaja menunduk, ia tidak berani menatap mata majikannya yang begitu tajam seolah ingin menerkamnya hidup-hidup saat ini.
"Maaf tuan saya kurang tahu, tadi saya sempat lihat mereka bertengkar. Lalu berlarian di jalan sebelum sebuah mobil yang melaju cepat menabrak keduanya.
"Arrkkk ...!" teriak Rimba sambil mengusap wajahnya kasar, ia hempaskan pantatnya kasar di atas kursi.
Untuk sesaat suasana sunyi dan mencekam, semua larut dalam pemikiran nya masing-masing.
Mang Jaja bingung harus mengatakan kabar duka itu mulai dari mana, ia juga tidak mungkin di sini lama-lama. Dengan mengumpul keberanian mang Jaja menghampiri Rimba yang masih terlihat tegang dengan gurat khawatir dan sedih yang tidak dapat ditutupi.
"Maaf Den, mamang pamit pulang dulu. Mengantar nyonya kerumah sakit permata." ujar mang Jaja. Rimba dan Aldi mentap mang Jaja serius.
"Memang nya kenapa, Mang?"
"Tuan kecelakaan Den, mayatnya harus di kebumikan hari ini juga, kasihan kalau harus menunggu lama-lama. Jadi Mamang gak bisa menemani Den Rimba dan Den Aldi disini." ujar mang Jaja sambil pamit pergi.
Jedarrrrr!
Berita duka yang disampaikan mang Jaja seperti petir yang menampar kesadaran Aldi dan Rimba. Bagaimana semua nya terjadi begitu saja. Sedangkan Zella dan Amel saja masih berada di dalam ruangan operasi tanpa di ketahui bagaimana nasibnya.
Rimba menyandarkan tubuhnya dengan di kursi dengan kepala yang mengarah ke langit. Sedangkan Aldi duduk jongkok dengan tangan yang memeluk lutut erat. Tidak ada tangis atau suara diantara mereka.
Mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing. Sedih? Tentu saja, bahkan lebih dari apa yang orang lain bayangkan.