
"Mas... aku gendut banget ya?" ujar Zella pada malam hari di depan kaca sambil memutar badan nya kekiri dan kekanan.
"Tidak sayang, kamu tidak gendut kok"
"Kamu bohong! lihat mas lengan ku besar banget, udah sama besarnya dengan paha."
Zella memegang lengannya lalu ia memperhatikan lagi lengannya sambil cemberut. Akhir-akhir ini mood Zella benar-benar buruk, ia agak sedikit sensi dengan postur tubuhnya sendiri yang terlihat membengkak dari kaki hingga wajah.
"Sayang,,, walau kamu sedikit gemuk kamu tetap cantik kok, memangnya siapa yang bilang kamu gendut?" Rimba masih fokus dengan layar leptop yang ada di pangkuannya tanpa menyadari perubahan raut wajah istrinya.
"Tuh kan aku gendut, tadi kamu bilamg aku gendut" Zella tiba-tiba menangis histeris di hadapan Rimba, sikapnya sudah seperti anak kecil yang tidak di belikan mainan oleh bapaknya.
Tangisan Zella sukses membuat Rimba mengalihkan pandangan matanya. ia menatap Zella dengan heran, Rimba benar-benar takjub akan sikap Zella malam ini.
Kemana Zella yang selalu dewasa?
Kemana Zella yang mandiri? serta Zella yang galak?
Rimba berjalan mendekati istrinya. ia merasa istrinya seperti orang yang berbeda saja.
"Sayang, kamu kan sedang hamil. Jadi wajar jika tubuh mu agak sedikit gendut. Itu tandanya bayi kita sehat" Rimba memeluk Zella yang masih berdiri di depan cermin. tangan kanan nya lembut membelai perut buncit istrinya tersebut.
"Tapi...tapi ak"
"Mas gak mau lagi kamu membahas masalah ini, Mas gak masalah jika kamu gendut yang penting kamu dan bayi kita sehat. Justru mas akan khawatir jika berat badanmu tidak nambah saat sedang hamil. Sudahlah jangan pikir yang aneh-aneh lagi."
Rimba memotong perkataan Zella. Rimba tidak menyangka jika mood ibu hamil bisa separah ini.
Zella hanya diam membenarkan perkataan Rimba, ia sangat bersyukur dengan Tuhan mendapatkan suami seperti Rimba.
Zella mengeratkan lengan suaminya yang sudah melingkar diatas perutnya serta menyenderkan punggungnya pada dada bidang Rimba sambil menikmati dekapan sayang suaminya.
Rimba tersenyum dengan apa yang di lakukan istrinya, ia mengecup puncak kepala Zella.
Rimba sadar keadaan Zella saat ini yang di butuhkan nya hanyalah perhatian darinya.
******
Zella tiba-tiba terbangun saat jam masih menunjukkan pukul 03.00 dini hari, saat semua orang masih bergelung di dalam selimut mereka Zella justru tampak gelisah.
"Mas, bangun! ayo bangun"
Zella menggoyang-goyangkan tubuh Romba hingga pria itu terbangun dengan matanya yang masih mengantuk.
"Kenapa sayang?" Rimba mengucek matanya yang masih terasa lengket.
"Mas, aku ingin mie ayam" Rimba mengambil jam kecil yang ada di atas nakas dan melihatnya.
"Sekarang sayang?" mata Rimba membola melihat angka yang tertera di jam itu.
"Mas, aku gak bisa tidur sebelum kamu beliin aku mie ayam" ujar Zella sedih.
"Ok, mas cariin untuk kamu"
Zella tersenyum dengan mata yang berbinar mendengar Rimba mau mencarikan apa yang ia mau saat ini.
Jujur sebenarnya Zella kasian untuk membangunkan Rimba, tapi tidak mungkin juga jika ia yang harus pergi sendiri dengan perut buncit seperti ini.
Rimba menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ini adalah pertama kali selama kehamilan Zella meminta sesuatu padanya.
Ada terselip rasa senang di hati Rimba karna akhirnya ia bisa juga merasakan menjadi suami siaga yang meladeni keinginan istrinya yang sedang mengidam, hanya saja dia sedikit bingung harus mencari di mana mie ayam di jam segini.
Rimba mengesap sayang perut istrinya dengan sayang saat Zella meringis pelan merasakan sakit akibat tendangan-tendangan aktif bayinya.
"Sabar ya sayang, papa akan cariin yang kamu mau. Kamu jangan nyusahin mama ya, kasian mama kesakitan nak"
"Sayang kamu tunggu di rumah saja, aku keluar bentar mencari yang kamu mau" Zella menggangguk kan kepalanya patuh.
Rimba mengecup kening istrinya lalu beranjak dari tempat tidur untuk mengambil pakaiannya di lemari pakaian, memakainya lalu pergi keluar sambil membawa kunci mobil serta dompet di tangannya.
Rimba tidak tahu kemana ia harus mencari keinginan anak dan istrinya tapi yang pasti rimba akan mencarinya sampai dapat, bila perlu ia akan menggedor rumah si penjual meminta ia membuatkan untuk istrinya.
Walau ia harus membayar mahal, Rimba tidak perduli. Ia tidak ingin anak dan istrinya kecewa karna permintaan sederhana nya yang tidak terturuti.
Yahhh ngidam nya Zella sangat sederhana hanya saja waktunya saja yang tidak tepat.
Andai ia memintanya pada jam-jam yang normal, mungkin saja rimba tidak akan sebingung ini.