Brondong Tengil

Brondong Tengil
Kisah Masa Lalu 2



Berbulan-bulan setelah kasus pembunuhan itu, Yelsa hidup sebagai buronan. Di tengah-tengah pelariannya Yelsa melahirkan sendiri putri kecil nya tanpa ada teman maupun keluarga. Sungguh menyedihkan.


Yelsa bersandar di sofa kecil di kamarnya, ia menatap putri kecil berumur satu tahun di atas pangkuannya dengan tatapan hampa.


"Maaf kan mama nak, di usia sekecil ini kamu harus hidup sebagai anak yatim. Tapi tenang saja nak, mama akan membalas mereka, mereka yang membuat hidup kita seperti ini. Mereka harus merasakan penderitaan yang kita rasakan saat ini nak ha ha ha" Yelsa tertawa getir sorot matanya memancarkan api kebencian kepada seseorang yang berada jauh di sana.


*************


"Ayo Non, lempar bolanya sama mbak! Ayo cepat biar mbak tangkap," ujar seorang wanita berseragam putih list biru pada gadis kecil itu, seragam khas seorang baby sister.


"Mbak up, tangkap...!" Teriak riang gadis berumur tujuh tahun itu. Gadis itu bernama Cinta Anastasia putri dari pasangan Herlambang dan Renata. Ia bermain bola tangkap dengan pengasuhnya.


Pagi ini Renata mempercayai Nina menemani Cinta bermain di taman komplek, setelah Cinta sedari tadi ngambek karna Papanya ingkar janji tidak dapat menemaninya bermain di akhir pekan ini.


Cinta tertawa riang, Cinta bukanlah gadis yang manja, hanya saja ia ingin setiap akhir pekan Papanya meluangkan waktu sehari saja untuknya. Menemani ia bermain dan bercerita.


Cinta menangkap dan melempar kembali bola yang ada di tangannya, saking asiknya hingga cinta tidak menyadari jika lemparannya terlalu kuat hingga membuat bola itu melambung jauh.


"Yah, Non Cinta melemparnya jangan tinggi-tinggi dong Non! Mbak kan susah nangkapnya," keluh Nina pada anak asuhnya itu. Tubuh Nina yang kecil bertolak belakang dengan tubuh Cinta yang tinggi, yang ia dapat dari warisan kedua orang tuannya.


Membuat cinta dan Nina tak ubahnya seperti bocah yang sepantaran, jika hanya di lihat dari tingginya saja.


"Mbak, ambil bolanya, ayok mbak! Biar kita main lagi." Cinta menunjuk bola yang menggelinding ke dalam semak-semak yang ada di belakang nya.


"Iya, Non tunggu di sini! Biar mbak ambilkan dulu, ya." Ninia memutar badannya dan berlari-lari kecil mengambil bola tersebut.


Nina berjongkok dan menunduk, menggapai bola yang berada di tengah-tengah ranting semak pembatas itu.


Karna fokus mengambil bola yang terjepit tersebut, hingga Nina tidak menyadari jika ada dua orang lelaki besar yang keluar dari mobil dan mendekati anak asuhnya dari belakang.


"Arkhhh... Lepaskan! Mbak tolong!" Cinta berteriak, Nina menoleh dan terkejut saat salah satu lelaki itu membekap mulut anak asuhnya.


Melihat kejadian tersebut banyak pengunjung taman yang mendekat dan mencoba membantu, tapi tiba-tiba penjahat yang memukul Nina tersebut mengeluarkan pistol membuat semua orang terdiam dan tak berani mendekat. Dengan cepat dan sigap mereka memasukkan Cinta kedalam mobil, menancapkan gas dengan cepat berlalu pergi.


*******


Renata menangis histeris saat mendengar para warga membawa Nina pulang kerumah dan menceritakan kronologi keadaan putrinya yang di culik.


Dengan tangan bergetar Renata menelpon nomor ponsel suaminya, mengabarkan hal buruk yang menimpa putri mereka.


"Assalamualaikum mah, ada apa?" tanya Herlambang dari seberang, matanya tidak lepas menatap berkas-berkas yang ada di hadapannya.


"Pa! Pa ... Cinta pa, Cinta!" tangis Renata pecah, ia tak bisa melanjutkan kata-katanya.


"Sayang ada apa dengan anak kita? Bicaralah pelan-pelan!" ujar Herlambang, ia sangat khawatir dengan keadaan putrinya. Tak biasanya Renata akan se-histeris ini jika tak ada sesuatu yang bikin dia panik.


"Cinta di culik Mas, saat ia dan Nina main di taman komplek! Aku takut Mas, aku takut terjadi sesuatu dengan buah hati kita!" ucap Renata terpukul.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu, tenangkan dirimu! Aku akan segera pulang dan mengerahkan seluruh anak buahku untuk mencari putri kita,"


"Baiklah,"


Herlambang menutup telponnya dan bergerak cepat mencari putri mereka.


Sedangkan Renata mundur beberapa langkah dan terjatuh diatas sofa dengan kondisi yang shock. Hati dan pikirannya sangat kalut, sebagai seorang ibu ia merasa sangat khawatir dengan keberadaan putrinya. Ia juga merasa sangat menyesal telah mengizinkan putrinya pergi bermain di taman.


"Maaf kan saya nyonya, maafkan saya! Maaf..." ucap Nina bersujud dan memohon, ia merasa semua ini adalah salahnya. Ia merasa dirinya telah abai menjaga putri dari majikannnya tersebut.


Tanpa memperdulikan ucapan Nina, Renata justru bergumam dengan dirinya sendiri.


"Seandainya saja... Seandainya aku tidak mengizinkan kalian pergi, pasti putriku tidak akan hilang seperti ini, hik.. hik..." Tangis Renata kembali pecah. Ia menyesal, ia benar-benar tidak menyangka dengan kenyataan ini.