
Sudah hampir dua Minggu aku tinggal disini, bagaimana kabar mama dan papa ya? apa mereka juga merindukan ku?
Amel menghela napas pelan membayangkan keadaan kedua orang tuanya, ada rindu yang tiba-tiba hadir di tengah kegiatan sarapan pagi ia dan Aldi.
"Honey kamu kenapa?" ujar Aldi melihat kekasihnya yang hanya mengaduk-aduk makanan di hadapan nya dengan malas.
"Sebaiknya hari ini aku pulang" ujar Amel akhirnya sambil memandang pria di hadapannya dengan malas.
"Pulang?"
"Hmmm, Al aku sudah hampir 2 Minggu disini. aku kangen mama dan papa" tangan ramping gadis itu masih memainkan makanan di hadapannya dengan malas.
"Baik lah, besok pagi aku akan mengantarkan mu pulang" ujar Aldi akhirnya, walau sebenarnya ia lebih suka wanita nya tetap tinggal bersamanya.
"Tidak Al, aku akan pulang pagi ini!" Amel mulai ngotot dengan keinginannya.
"Tapi Honey, aku ada rapat penting hari ini. Aku ti..." Amel memotong sebelum Aldi sempat menyelesaikan kalimat nya.
"Aku bisa pulang sendiri Al, aku sudah kangen sama mama dan papa" Amel membujuk Aldi dan mengeluarkan senjata andalan nya puppy eyes membuat Aldi akhirnya luluh.
"Baik lah, kamu pakai mobil ku saja. Aku akan pergi menggunakan mobil satu nya lagi. Jika ada apa-apa cepat hubungi aku."
Aldi beranjak dari duduk nya lalu mencium puncak kepala Amel dengan sayang sebelum pergi kekantor.
Sedangkan Amel hanya mengangguk kan kepala dan memberikan Aldi senyum manis milik nya.
setelah Aldi pergi Amel beranjak dari duduk nya dan berlalu menyambar kunci mobil Aldi serta tas nya yang berada di kamar mereka.
Tidak butuh waktu lama Amel sampai di parkiran apartemen untuk mengambil mobil dan mengendarainya dengan kecepatan penuh.
Suasana hati gadis itu terlihat sangat baik hari ini hingga senyum tidak henti-henti terbingkai di bibirnya.
Amel memasuki perusahaan besar milik orang tuanya dengan santai sambil menenteng paperbag yang berisi cake kesukaan papanya dari toko roti ternama yang ia singgahi di perjalanan tadi.
Saat di loby, Monica selaku sekretaris Pak Herlambang melihat kedatangan Amel langsung menghampiri gadis itu dengan wajah bingung. Karna tidak biasanya putri bos nya itu tiba-tiba muncul di kantor di jam-jam istirahat seperti ini.
"Selamat siang nona Amel" sapa Monica dengan sopan .
"Siang juga, Monic apa Papa ada di ruangannya?"
"Ada non, tapi bapak sedang bersama tuan Santoso" jelas Monica membuat Amel bingung sekaligus sedih. Sedih karna tidak dapat bertemu papanya sesuai rencana.
"Oh, baik lah kalau gitu, kamu mau makan siang kan? kamu boleh pergi Aku akan temui papa nanti saja."
"Baik nona Amel" Monic tersenyum dan berlalu pergi dari hadapan Amel.
Memangnya ada maslah penting apa yang sedang mereka bahas?
Mata Amel tidak lepas memandang kepergian Monica dengan batin yang penuh tanda tanya.
"Ahhh dari pada aku penasaran disini lebih baik aku temui saja Papa." ujar Amel berlalu pergi menuju ruangan papanya dengan santai.
******
"Apa tuan yakin dengan keputusan ini? Apa tuan tidak mau mempertimbangkan nya lagi?" ujar pria kurus dan berkaca mata tebal itu pada Pria yang duduk tenang di hadapannya, pria dengan postur tubuh masih tinggi tegap serta tampan pada usianya yang sudah tidak muda lagi.
"*Tuan yakin akan menjadika nona Arzella sebagai pewaris tunggal atas semua harta serta aset yang anda miliki, lalu bagai mana dengan putri anda yang satu nya lag*i?" tanya pak Santoso memastikan sekali lagi.
"Amel akan mendapatkan rumah mewah yang berada di kota K" ujar pak Herlambang.
"Tapi rumah yang dikota K hanya senilai 0,5 % dari seluruh aset yang Zella dapatkan. Itu tidak sebanding, apa anda sangat yakin dengan keputusan ini?"
"Itu sudah keputusan akhirku Santoso, semua itu memang pantas putriku Zella dapatkan. Sedangkan Amel dia akan mendapatkan apa yang memang semestinya ia dapatkan.
Dengan penyakit yang aku derita. Saya tidak akan tahu kapan tuhan akan memanggil, Saya hanya sedang mempersiapkan apa yang bisa Saya selesaikan sebelum Saya meninggal nanti. Saya harap kamu bisa mengerti Santoso" ujar lelaki tua itu dengan raut wajah yang mendung.
Pengacara tersebut hanya menghela napas panjang mendengar penuturan teman tua nya yang terdengar begitu pasrah.
"Jangan berkata begitu tuan Herlambang, anda harus berpikiran positif. Tapi jika itu sudah menjadi keputusan anda, baik lah akan saya ikuti." ujar Pak Santoso sambil memberikan lembaran-lembaran kertas yang ada di hadapannya kepada pak Herlambang untuk di tanda tangani.
Di saat pak Herlambang sedang berbincang dengan pak Santoso, tanpa mereka sadari ada sepasang telinga yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka di balik pintu dengan mata yang sudah berlinang air mata.
Amel menutup mulut nya dengan kedua tangan dengan rapat agar kedua pria tua yang berada di dalam ruangan itu tidak mendengar Isak tangisnya, dia benar-benar sudah tidak sanggup lagi mendengar hingga selesai perbincangan para orang tua tersebut.
Amel bergegas meninggalkan kantor papa nya dengan hati yang sangat sakit dan marah, tanpa memperdulikan puluhan mata yang menatap nya heran.
Setiba di dalam mobil Amel meluapkan semua kekesalan hatinya, ia menangis dan menumpahkan segala sedih yang di rasakan nya saat ini.
"BrENGS*K ZELLA... ZELLA LAGI-LAGI ZELLA!! APA HANYA ADA ZELLA DI HATI MEREKA!!" Amel memukul-mukul stir mobil dengan geram.
"HAH Papa bilang semua harta itu pantas untuk Zella dapatkan, lalu aku? Apa aku hanya pantas untuk mendapatkan RUMAH KECIL dan terpencil itu saja!!
Apa aku pantas di perlakukan seperti ini!!
Aku putri kandung mereka seharusnya semua harta itu milikku, aku akan memberi pelajaran pada anak pungut itu. Akan ku tunjukkan padanya di mana tempat dia seharusnya!!!"
Amel melajukan mobil nya dengan kencang dengan penuh amarah menuju kediaman orang tuanya, tanpa memperdulikan gawai nya yang sedari tadi berdering tanpa henti.
Sedangkan di tempat lain pak Herlambang sedang terkejut mendengar penuturan Monica yang melihat Amel berlari pergi meninggalkan perusahaan nya sambil berlinang air mata. Dari penjelasan Monica tadi Pak Herlambang yakin betul jika putri nya tersebut mendengar apa yang ia dan Santoso bicarakan.