
"Aku wanita normal Din, lagi pula aku dan Rimba terikat status pernikahan jadi wajar jika aku melayani suamiku. Tapi semua itu tidak lebih dari sebatas ***** saja". ucapku memberi penjelasan.
"Yakin itu hanya *****? atau Lo juga udah mulai ada rasa terhadap suami Lo? gue kenal Lo udah lama zell, gue tahu banget Lo luar dalam. Lo gak akan melakukan sesuatu jika Lo gak suka!"
Aku mulai berpikir atas apa yang di ucapkan Dinda barusan, ntah kenapa ada rasa yang berbeda di hatiku saat aku mengingat tentang rimba. Benarkah aku sudah menerimanya menjadi suamiku? Apa benar aku menyukainya bukan karna sekedar ***** seperti yang ku katakan?
"Sebaiknya elo cepat-cepat deh jelasin ke Dion tentang status lo sekarang! sebelum keadaannya semakin rumit. Jangan sampai Dion tahu nya saat perut lo udah membuncit karna hamil!" Dinda menatap ku serius.
"Hamil? Gak mungkin Din, soalnya gue Makai kontrasepsi kok" jawabku santai.
"Apa? Apa Rimba tahu tentang ini?" ucap Dinda dengan nada yang mulai meninggi, dia benar-benar tidak habis pikir dengan sahabat yang di hadapannya ini. menurut Dinda Zella adalah wanita yang cerdas dan baik dalam segala hal tapi akan berubah menjadi perempuan bodoh dan sangat tidak peka jika menyangkut perasaan.
"Tidak! Ini murni keputusan gue sendiri, gue belum siap aja punya anak di tengah-tengah hubungan gue yang masih rumit ini" aku mulai memijit pelipisku dengan jari karna pusing.
"Apapun keputusan lo, sebaiknya lo bicara baik-baik dulu sama suami Lo. Ini menyangkut rumah tangga kalian, Lo gak bisa ambil keputusan sepihak begitu Zell.. Lo udah gue anggap seperti saudara gue sendiri. Gue gak mau lo salah dalam mengambil keputusan yang pada akhirnya membuat Lo menyesal dan menderita!" ucap Dinda pelan dan menggenggam tangan ku lembut berharap aku mengerti apa yang ia takutkan di dalam hatinya tentangku.
"Zell...gue pulang dulu ya? hari juga udah malam. Gue harap Lo pikirkan lagi apa yang gue bilang barusan ya?" dia mencium pipi kiri dan kananku sebelum melangkah pergi meninggalkanku di kafe ini sendiri. Perkataannya tadi benar-benar membuat hatiku bimbang.
...****************...
"Assalamualaikum" ucapku memberi salam saat memasuki rumah. Aku yakin Rimba sudah sampai dulu di rumah karna tadi dialah yang mengantarku ke kafe saat aku bilang mau bertemu dengan dinda.
Rimba menyambutku dengan tersenyum dan mengulurkan tangan nya di hadapanku, membuatku menatapnya bingung.
"Loh kok bengong? Istri pulang kerja itu harus salam sama suami" ucapnya masih dengan posisi yang sama.
"Ehhhh...iya" aku menyambut uluran tangannya dan menciumnya seperti layaknya istri memberi salam pada suami.
"Ehhhh... tunggu dulu, menunggu istri pulang kerja? kok aku merasa posisinya terbalik ya?" ujarku dengan wajah polos setelah menyadari ada keanehan dari adegan kami tadi.
"Hahahaha sama aja sayang, mau kamu atau aku yang pulang lebih dulu. Kamu harus membiasakan diri menyalamiku sayang" Rimba menjepit hidungku pelan sambil tersenyum hangat membuat dadaku berdesir dengan perlakuan nya yang manis.
"Udah ayo mandi, lalu kita makan bareng. kamu harus mencicipi masakan aku"
"Kamu bisa masak?" Rimba tersenyum dengan espresiku kaget seolah tidak percaya kalau dia bisa masak. Lalu dia mendorong tubuhku pelan agar pergi kekamar untuk mandi.
Jujur perlakuan manis yang ia tunjuk kan selama ini terhadapku benar-benar membuatku nyaman. Membuatku terus terngiang-ngiang dengan apa yang di katakan oleh sahabat ku tadi.
Benarkah aku mulai mencintainya? Haruskah aku mengakhiri hubunganku dengan mas Dion? Apakah aku salah membuat keputusan sendiri tentang menunda anak tanpa memberi tahu nya?. Ahhhh...aku benar-benar bimbang dengan semua ini.
...****************...
Setelah mandi aku menghampirinya yang sedang duduk manis di meja makan menungguku.
Aku mengambil posisi duduk dihadapannya lalu mencoba mencicipi masakan yang ia masak tadi.
"Hmmmm enak, aku gak nyangka seorang CEO perusaan besar bisa masak makanan yang enak" aku tersenyum melihat wajahnya yang tersenyum puas karena aku menyukai makanan yang telah ia masak. Membuat hatiku berdenyut nyeri seakan-akan ada batu besar yang menghantam. Aku merasa seperti istri yang buruk untuknya.
"Maaf, membuatmu melakukan hal yang seharusnya menjadi tugasku." ucapku sedih.
"Tidak ada yang perlu di maafkan sayang, aku senang bisa membahagiakan istriku. Zella... boleh aku meminta sesuatu padamu?"
Aku menatap manik matanya lekat-lekat mencoba menyelami apa yang akan ia katakan padaku.
"Meminta apa?"
"Putuskan hubunganmu dengan nya! Aku tahu pernikahan ini sulit bagimu. Tapi, suka atau tidak suka aku adalah suamimu sekarang. Tolong hargai perasaanku dan cukup beri aku kesempatan agar aku bisa menunjukkan bahwa aku layak untukmu.
Mungkin bagimu aku hanya pria asing yang karena sebuah kesalahan hadir dalam hidupmu menjadi suamimu.
Usia kita hanya terpaut beda 5 tahun Zella...
jadi berhenti menganggap ku seperti adik kecilmu. Karena aku suamimu sekarang yang akan menjadi ayah dari anak-anakmu!!
Aku harap kita bisa menjalani hubungan selayaknya suami istri yang sesungguhnya.
Bukan hanya sebatas ***** seperti yang yang kamu pikir. Dan masalah kontrasepsi aku serahkan keputusan nya ditangan mu, aku tidak akan memaksa jika kamu belum siap memberikan nya padaku.
Bisakah kamu mencoba untuk mencintaiku Zella?"
Untuk pertama kalinya ia mengucapkan kata yang begitu panjang padaku dan terdengar sangat tegas. Tapi, terasa ada begitu banyak luka dan kegelisahan dari nada bicara nya tadi membuatku semakin merasa buruk di hadapan pria di depanku ini. Aku tidak menyangka dia mengetahui semuanya, semua yang ku katakan pada Dinda di kafe itu.
"Bagaimana kamu mengetahui semuanya? a-apa kau?" tanyaku dengan tertunduk lesu.
"Iya, Maaf jika aku lancang mendengarkan pembicaraan kalian. Aku hanya khawatir dan mencari jawaban atas apa yang ku temukan di kamar mandi tadi pagi" Rimba mengeluarkan beberapa keping pil kontrasepsi yang ku selipkan di belakang kaca kamar mandi.
"*Aku hanya ingin tahu alasan kamu melakukan ini? Untuk saat ini aku cukup mengerti dan memahami alasanmu, tapi sebaiknya lain kali bicarakan ini padaku jangan sembunyi-sembunyi seperti ini zella*!" ucap Rimba kecewa.
"Ma-maaf" lagi-lagi aku hanya bisa menunduk, hatiku benar-benar sakit mendengar nada kecewa dari kata-katanya.
Aku tahu pria di hadapanku ini sedang berusaha kuat untuk menahan amarahnya di hadapanku.
...****************...
Maaf kan author jika ada kealahan pada typo, jangan lupa koment dan follow akun author ya biar tambah semangat membuat cerita-cerita yang seru....
Dan jangan lupa vote author dengan poin ya bukan koin kok...karna poin gratis kok hehehehe agar author lebih semangat lagi untuk up cerita selanjutnya...salam manis untuk semua pembaca yang manis- manis!