
"Loh Mas, kamu tidak pergi kekantor hari ini? Kok belum siap-siap?" ujarku heran saat baru keluar kamar mandi mendapati suamiku yang sedang duduk santai membaca koran paginya, di atas ranjang menggunakan pakaian santainya.
"Kan hari jadwal kamu kedokter kandungan sayang" Rimba menepuk kasur di sebelah nya sebagai isyarat bahwa ia mau aku duduk di sebelahnya.
Aku melangkahkan kaki menuju ranjang dan duduk di sebelah nya sambil mengeringkan rambutku dengan handuk.
Tiba-tiba aku merasakan geli saat tangannya menyusup masuk di balik baju yang ku kenakan, dan mengusap perutku yang membuncit dengan sayang.
"Mas akan usahakan untuk menemanimu setiap jadwal kontrol ke dokter kandungan, karna Mas tidak mau kehilangan setiap momen perkembangannya" Rimba menarik tangannya kembali dan mengubah posisi lalu mencium lembut anaknya yang ada di dalam rahimku.
Aku meletakkan handuk yang ku pegang tadi di atas nakas, dan memeluknya erat. Kata-katanya barusan benar-benar membuat jantungku berdetak kencang dan hatiku menjadi sejuk.
Aku baru tahu ternyata sebegitu bahagianya hidupku memiliki suami yang begitu mencintaiku. Walaupun pada awalnya pernikahan kami hanyalah sebuah ketidak sengajaan, tetapi aku sangat bersyukur pada Tuhan atas skenario yang ia berikan hingga aku dan Rimba bisa bersama seperti ini.
****
Pukul 10:00 pagi kami sampai di rumah sakit untuk kontrol kandungan ku. Aku memang sengaja meminta dokter kandungan yang menanganiku untuk mengatur jadwal janji kami pagi ini, karna siang nya aku ingin berjalan-jalan keluar melepaskan rasa bosan. Mumpung suami tercintaku sedang libur jadi bisa menemaniku.
Kalian pasti tidak bisa membayangkan betapa membosankan nya hidupku selama masa kehamilan ini. Karna Rimba yang benar-benar over protektif, ia tidak pernah mengizinkanku untuk melakukan aktifitas apapun di dalam rumah. Semua pekerjaan rumah di handel oleh seorang ART yang di bawanya dari kediaman mertuaku, aku memanggilnya bik Imah karna usianya yang memang hampir seumuran Mamaku.
Sedangkan pekerjaanku di kantor di ambil alih semua oleh Ben asisten pribadinya. Yahhh... bisa ku simpulkan sepertinya aku di pecat dari kursi sekretaris itu. Hahahaha.
"Ibu Zella silahkan masuk, dokter Yola sudah menunggu anda" ucap seorang perawat membukakan pintu dan mempersilahkan kami masuk.
"Selamat siang nyonya Atmaja, apa kabar calon bayi kuat ini" tanya dokter Yola saat kami duduk di hadapannya.
"Pagi dokter, dia baik-baik saja. Mual-mual saya pun juga sudah mulai berkurang, tidak sesering dulu" jawabku yang diangguki oleh dokter Yola.
"Mari kita periksa perkembangannya ya" ucap dokter Yola dengan mempersilahkan aku untuk berbaring di ranjang yang berada tidak jauh dari nya.
"Nahhh itu baby nya, perkembangan nya bagus, kondisinya juga sehat. Wahhh sepertinya tuan Atmaja menjaga Istrinya dengan sangat baik ya" ujar dokter Yola kepada Rimba yang hanya fokus kelayar yang menampilkan gambar baby kami disitu. Rimba hanya menjawab perkataan dokter Yola dengan senyuman.
Akhirnya setelah periksa, aku turun dari kasur tadi di bantu oleh Rimba dan duduk lagi dihadapan dokter Yola.
"Baik nyonya Atmaja, ini resep obatnya. Anda bisa mencarinya di apotik, dan obat ini diminum 2 kali sehari.
Saat habis sarapan dan sebelum tidur dan jangan lupa tetap istirahat dengan cukup" ujar dokter Yola menasehati, aku melihat dokter Yola tersenyum dan menatap sekilas tangan Rimba yang tidak berhenti mengusap perutku. Adegan ini sangat manis menurut dokter Yola sehingga membuatnya ikut bahagia melihat nya.
"Kalau begitu terima kasih dokter, kami permisi dulu" ujarku lalu keluar dari ruangan dokter yola.
Namun saat berada di lorong rumah sakit aku di kejutkan oleh sosok seseorang yang hilang beberapa bulan ini. Ia sedang berjalan di ujung lorong sana.
Aku mencoba mengejarnya, mencari kearah mana dia berjalan tadi. Aku sangat yakin aku tidak salah lihat, itu memang dia!
Saat berbelok di dekat parkiran sosok itu menghilang tanpa jejak.
"Sayang kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba berlari seperti itu? Apa kamu lupa kalau kamu sedang hamil! Jika terjadi sesuatu dengan kalian bagaimana?" Ucap Rimba beruntun serta panik dengan nafas yang terengah-engah mengejar ku dari belakang.
Aku masih melihat kiri dan kanan seperti orang yang kesetanan, mencoba memperhatikan satu-persatu mobil yang ada di parkiran ini. Aku yakin dia masih ada di sini! Aku harus menemukannya!
Saat aku mau melangkahkan kaki ke tempat selanjutnya tiba-tiba tangan kekar Rimba menahan tanganku dengan tatapan marah karna aku mengabaikannya.
"Ada apa? Kamu mencari apa?"
"Amel! Tadi aku melihat Amel. Dia ada di sini!" Jawabku histeris
"Sayang mungkin kamu salah lihat, disini gak ada siapa-siapa" ujar Rimba setelah mencoba menetralisir rasa terkejutnya.
"Tidak! Aku tidak salah lihat! Aku yakin sekali itu dia, walaupun kondisinya kurus dan tak terawat" ucap ku dengan sangat yakin.
"Tapi lihatkan tidak ada siapa-siapa! Ya sudah sebaiknya kita pulang ya. Mungkin kamu sedang lelah sayang, ayok!" Rimba merangkul pundak ku dan menuntun ku menuju mobil kami yang sedang terparkir. Sedangkan fikiran ku masih berkelana dengan kejadian yang aku alami tadi.
Aku benar-benar tidak menyangka dengan kondisi adik ku saat ini, benar-benar kurus dan tak terawat. Apakah Amel sakit? Kenapa dia bisa berada di rumah sakit ini? Aku pikir selama ini adik ku itu bahagia kabur dan menikah dengan lelaki yang dia cintai nya. Aku harus mencari tahu sebenarnya ada apa ini.
*****
Berbeda dengan Zella yang berpikir untuk menemukan adiknya Rimba justru berusaha mencari jalan untuk menyingkirkan Amel agar tidak kembali lagi.
Saat ini Rimba sedang berfikir tidak mungkin Amel berada di kota ini? Bukankah ia sudah mengirim Amel keluar negri, dan mengancancam Amel agar tidak menginjakkan kaki nya di kota ini.
Karna Rimba tidak mau Amel bertemu Zella dan membongkar kejahatan apa saja yang telah ia lakukan selama ini. Apalagi hingga membuat Zella pergi meninggalkannya.
Ia mengemudikan mobil menuju rumah dan berpikir tentang rencana apa yang harus ia lakukan jika memang apa yang dilihat Zella itu benar. Ia harus memastikan Amel benar-benar tutup mulut saat bertemu dengan Zella nanti.
Rimba sangat tahu betul watak istrinya itu. Karna rasa sayang nya terhadap Amel iya pasti akan mencari Amel sampai dapat.
Apalagi melihat kondisi Amel yang menyedihkan seperti tadi.