
"Sayang, kamu sudah siap, kan?" tanya Aldi sambil membantu Amel menyusun semua barang-barang Amel ke koper.
Hari ini Amel sudah di izinkan dokter pulang, tentu saja Aldi juga sudah menyiapkan semuanya untuk keberangkatan mereka ke Inggris.
Aldi juga sudah berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter tentang kondisi kandungan Amel dan rencana perjalanan jauh mereka.
"Sudah, sini aku bantu?" ujar Amel. Ia mengambil beberapa lembar baju yang ada di atas kasur untuk di masukkan ke dalam koper.
"Gak usah! Sini biar aku saja" jawab Aldi lembut membuat Amel tersenyum, Aldi membuat hati Amel benar-benar menghangat karena akhirnya bisa merasakan rasanya di cintai setulus itu.
Baru saja mereka keluar dari rumah sakit beberapa orang berjas sudah menghadang di depan, Amel yang duduk di kursi roda menoleh kebelakang, menatap Aldi minta penjelasan.
"Selamat siang nona Herlambang, saya pengacara dari tuan Herlambang. Saya akan mengantarkan nona pulang kerumah dengan selamat!" ujar lelaki berjas yang mengaku pengacara itu. Membuat Aldi kaget.
Aldi menatap pengacara itu secara tajam,
"Bisa kita bicara berdua dulu, pak...?"
"Robert! Panggil saya Robert,"
"Ok, Pak Robert. Bisa kita bicara berdua dulu?" ujar Aldi tegas. Pria bernama Robert itu mangangguk, mengikuti langkah kakinya dari belakang. Sedangkan Amel melihat kepergian mereka dengan raut wajah yang bingung.
Ia begitu penasaran, sebenarnya apa yang sedang mereka bahas. Sampai-sampai menghindar cukup jauh darinya?
Terlihat perdebatan yang cukup sengit diantara keduanya, Amel mengerutkan dahi. Ia benar-benar penasaran. Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan.
Setelah menunggu selama setengah jam, akhirnya Aldi kembali dengan wajah yang masam.
"Ada masalah apa?" tanya Amel. Aldi berusaha tersenyum, mengusap bahu Amel pelan.
"Tidak ada masalah yang serius, tapi hari ini kita pulang dulu kerumah Mama dan Papa ya?"
"Memangnya ada apa, Al?" tanya Amel heran, kenapa tiba-tiba.
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, nanti kamu tahu sendiri saat tiba di sana, sayang," jelas Aldi tapi Amel masih penasaran.
"Biar kami bantu membawa barang kalian tuan dan nona," ujar salah satu dari mereka.
Amel dan Aldi mengangguk. Mereka berjalan bersama sambil diam. Banyak pertanyaan yang muncul di kepala Amel saat ini.
Ia juga berasa bimbang pulang kerumah orang tuanya, ada rasa khawatir dan malu yang ia rasakan sekarang.
Ia takut setelah kejadian itu, kedua orang tuanya tidak mau lah bertemu dengannya.
********
Aldi menggendong Amel dari dalam mobil dan memindahkannya ke kursi roda. Untuk sementara waktu Amel harus bedrest dan di larang banyak bergerak akibat ci dera di punggung belakangnya. Jika ia banyak bergerak menggunakan kakinya maka ia akan merasakan ngilu di punggung belakangnya.
Belum lagi tangan nya yang patah belum sembuh sempurna, Itu sebabnya untuk sementara waktu Amel harus duduk di kursi roda dan selalu di awasi.
Amel menatap setiap sudut rumah yang begitu sepi, begitu banyak tumpukan besi seperti tenda Yang baru saja di bongkar.
Amel juga sempat melihat tumpukan karangan bunga di depan, Amel tidak tahu itu karangan bunga untuk apa? Karna karangan bunga itu saling bertumpuk menutupi tulisannya.
Sebenarnya ada peristiwa apa yang telah ia lewatkan?
Kenapa tidak ada satupun yang memberi tahukannya. Sebenarnya ini ada apa?
"Amel!" Sebuah panggilan lembut dan genggaman erat di jemari Amel membuyarkan Amel dari semua lamunannya.
Tapi saat Amel menoleh, di depannya sudah duduk Mama serta Zella dengan seorang bayi mungil di gendongannya.
Itu artinya bayi mereka lahir dengan selamat, Amel benar-benar bersyukur dan bahagia atas semua itu.
Di samping Zella duduk Rimba yang hanya diam dan menatap Amel datar.
"Mama" panggil Amel tidak percaya melihat wanita yang ia sayang sedang diam dengan pandangan hampa, kantong mata yang begitu cekung menandakan bahwa sudah beberapa hari ini ia tidur dengan tidak nyenyak.
Renata melihat kearah putri keduanya, mencoba tersenyum walau terlihat kaku.
"Mari Nona Herlambang, silahkan duduk di sini," pengacara itu mempersilahkan.
"Baiklah karna semuanya sudah kumpul disini, maka saya akan memulai. Tapi sebelum itu saya ingin bertanya terlebih dahulu pada Nona Amel. Apa anda tahu kenapa kalian semua berkumpul disini?" tanya Robert pelan, Amel menggeleng. Karna memang ia tidak tahu apa-apa di sini.
Ia juga merasa heran kenapa semua anggota keluarga berkumpul dengan raut wajah orang yang sedang berkabung. Memangnya siapa yang berkabung di sini? Kenapa sedari tadi ia tidak melihat Papanya? Dimana ia?
" Hari ini saya mengumpulkan kalian semua disini untuk membacakan surat wasiat yang di tinggalkan oleh tuan Herlambang untuk kedua putri-putri kesayangannya. Dan surat ini sudah tuan Herlambang siapkan jauh-jauh hari sebelum beliau meninggal," ujar Robert membuat kedua bola mata Amel membesar.
Apa ia salah dengar, surat Wasiat? Itu artinya Papa..?
"Apa Maksud anda dengan surat Wasiat,"? Hardik Amel tak suka. Robert menghela nafas pelan.
"Tuan Herlambang sudah meninggal nona, ia meninggal dalam kecelakaan dan tugas saya disini membacakan surat wasiat yang beliau tinggalkan"
Amel terkesiap kaget lalu menutup mulutnya karna terkejut, air matanya mengalir. Ia merasa semua yang ia dengar ini hanya mimpi.
'hukuman apa lagi ini ya Allah, baru saja aku menyesal dengan apa semua kebodohan yang sudah ku lakukan sekarang aku justru kehilangan sosok lelaki yang selalu menyayangiku sepenuh hati. Papa maafkan Amel! Maaf Amel belum bisa menjadi anak yang baik untukmu, maaf'
Batin Amel menjerit, hatinya begitu sedih dan tersiksa.
Napasnya Amel tercekat, Hingga ia menangis terisak karna tidak kuat menampung kesedihan ini,
"Ini semua salahku, ini semua salahku! Maafkan aku! Maaf," ujar Amel pilu. Ia menyalahkan dirinya atas apa uang terjadi.
Renata berjalan menghampiri putrinya itu, memeluknya perlahan.
"Sudah, nak! Sudah! Semua sudah takdir. Maafkan Papa dan Mama yang sudah membuat kamu hidup dalam kebencian seperti ini. Sampai kapanpun kamu tetap putri kami," pinta Renata membuat Amel semakin terisak, Renata memeluk putrinya erat. Menyalurkan rasa sayang yang selama ini tidak pernah ia berikan. Renata mengusap kepala Amel lembut.