Brondong Tengil

Brondong Tengil
Isi Surat Wasiat



"Maaf 'kan Amel, ma. Maaf! Aku sadar selama ini aku kekanak-kanakan, rasa cemburu serta iri telah membutakan mata hatiku hingga hidup keluarga kita jadi hancur begini! Maaf, ma" lirih Amel pilu di dalam pelukan Mamanya.


Renata memeluk Amel erat, ia sadar semua yang terjadi adalah suratan takdir yang harus mereka jalani.


Rimba mengusap punggung istrinya pelan, Zella ikut larut dalam kesedihan, ia menitikkan air mata karna mengingat semua yang telah terjadi.


Kepergian pak Herlambang adalah pukulan keras untuk keluarga mereka. Zella berharap setelah apa yang terjadi dapat menjadi pelajaran untuk Amel dan mengubah ia menjadi lebih baik. Zella sadar semua ini hanyalah salah paham, salam paham atas apa yang terjadi di masa lalu.


"Sayang, Aydan sudah tidur, sebaiknya serahkan pada pengasuhnya saja agar di tidurkan di kamar! Kasihan." ucap Rimba. Zella mengangguk lalu memanggil Nina, pengasuh Aydan.


Selama Zella keluar dari rumah sakit rimba memang menyewa seorang pengasuh untuk mengurus Aydan. Di karenakan kondisi Zella yang masih belum pulih betul sehabis pasca operasi. Di tambah lagi mental Zella yang masih terkadang suka menangis setelah ia mengetahui kepergian Papanya.


Nina membawa Aydan pergi ke kamar khusus untuk bayi tersebut.


Setelah keadaan mulai tenang, Robert mulai menjelaskan kembali amanah yang harus ia sampaikan.


"Baiklah, saya mengerti kalian semua masih dalam suasana berkabung. Tapi sebagai seorang pengacara saya di wajibkan untuk menyampaikan amanah yang telah tuan Herlambang berikan kepada saya. Tapi sebelum saya membacakan surat wasiat ini, saya mohon kepada kalian semua yang ada disini untuk tidak membantah atau 'pun menyela saya dalam pembacaan surat wasiat ini." Pinta Robert tegas.


Semua diam tidak hanya ada yang membantah atau pun menyela. Mereka semua masih larut dalam pikiran mereka masing-masing. Sedangkan Amel sudah tidak perduli lagi dengan apa yang di ucapkan pengacara di hadapannya itu.


Ia benar-benar menyesal seandainya saja ia tidak gegabah dan terbawa emosi, mungkin saja saat itu Papanya tidak akan mengalami kecelakaan. Andai saja selama ini ia tidak hidup dalam rasa iri dan bisa menerima keberadaan Zella sebagai kakaknya, mungkin saja keluarganya sudah hidup harmonis?


Tapi semua itu hanyalah seandainya? Sedangkan kenyataannya kini Padanya sudah tiada, dan hal itu yang menjadi sesalkan utama di dalam hati Amel.


"Nona Amel, apa anda mendengarkan saya?" tanya Robert membuyarkan lamunan Amel.


"Ah, iya, apa?" Lirih Amel seperti orang linglung.


"Sebenarnya surat wasiat ini tuan Herlambang buat bersama Papa saya Santoso karna beliau sedang sakit jadi saya sebagai putranya yang mengambil alih tugas menjadi pengacara pak Herlambang sesuai amanah beliau sebelum meninggal. Jadi, tolong dengarkan saya baik-baik!" Pinta Robert.


"Baiklah, maaf" lirih Amel


Robert menghela nafas dan mulai membacakan isi dari surat wasiat dari tuan Herlambang untuk kedua putrinya.


"Pada hari ini Selasa 28 Juli 2021 saya yang bernama Herlambang


Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 15 Desember 1968


dengan sadar dan tidak ada paksaan membuat Pernyataan Surat Wasiat Waris atau Hibah Harta Saya, kepada anak – anak saya,


Arzelia putri Herlambang selaku anak pertama dan merupakan putri kandung saya.


Serta Amelia Putri Herlambang selaku putri kedua dan merupakan anak angkat saya.


Dengan surat ini saya nyatakan bahwa saya menyerahkan seluruh harta yang saya miliki kecuali rumah mewah di kota K kepada Arzelia putri selaku pewaris tunggal.


Sedangkan untuk Amelia Putri saya memberikan rumah mewah yang berada di kota K serta seluruh aset-aset kepemilikan atas 70% saham dari perusahaan REEl Company yang telah berganti nama menjadi ERPware Company.


Demikianlah surat pernyataan Wasiat waris atau hibah harta saya buat dengan keadaan sadar dan dapat digunakan sebagai mana mestinya serta di saksikan oleh saksi-saksi yang saya percaya." Papar Robert atas surat wasiat yang ia pegang.


Amel menutup mulutnya kaget dengan apa yang ia dengar, ia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya jika Papanya memberikan dia seluruh aset dari perusahaan besar.


"Tidak mungkin! Kenapa Papa memberikan aku seluruh aset dari perusahaan besar itu? Bukankah waktu itu aku dengar Papa akan menjadikan Zella pewaris tunggal seluruh harta yang ia miliki. Lalu kenapa aku?" Amel berkata dengan lirih. Ia seolah masih tidak mengerti dengan apa yang sudah ia dengar.


"Iya benar, Nona. Tuan Herlambang memang menjadikan Nona Zella pewaris tunggal dari harta yang beliau miliki. Sedangkan kenapa anda mendapatkan seluruh saham dari perusahaan ERPware Company, semuanya sudah tuan Herlambang tuliskan di dalam surat ini, silahkan Nona!" Jelas Robert.


Robert menyerahkan sebuah amplop panjang kepada Amel. Dengan dahi yang berkerut Amel menerima surat tersebut.


Amel menatap kearah Mamanya dan Zella secara bergantian. Yang hanya di tanggapi anggukan oleh keduanya.


Dengan tangan gemetar Amel menyobek ujung amplop itu dan membukanya secara pelan. Didalamnya terdapat dua lembar kertas yang berisi sebuah tulisan yang Amel yakin itu adalah tulisan tangan Papanya.


Bola mata Amel menari-nari membaca satu demi satu kalimat yang tertulis di dalam surat tersebut. Air mata Amel turun dengan deras membasahi pipi, bahkan Amel nyaris terisak pilu membaca surat tersebut.


Akhirnya ia sadar jika selama ini ia telah salah, ia salah paham terhadap kedua orang tuanya.


"Papa,! Hu hu hu .... Maafkan aku, maaf!" Raung Amel sambil memeluk surat yang Papanya tinggalkan untuknya.


*************


Dukung author dengan like, vote serta komentarnya agar terus tetap semangat berkarya. Terima kasih sudah bersedia mampir.