Brondong Tengil

Brondong Tengil
Pendarahan



Hujan deras yang membanjiri sama derasnya dengan air mata Amel yang mengalir, setelah pingsan satu jam yang lalu, wanita itu masih saja menangis di dalam kamarnya.


Surat yang ditulis oleh almarhum Papanya ia genggam erat di tangan, penyesalan di hatinya membuat ia rasanya ingin mati saja.


Sesekali Amel menepuk dadanya yang terasa sesak, Sangat begitu sesak yang ia rasa.


Aldi masih siaga mengawasi wanitanya dari balik pintu, saat ini Amel tidak ingin di ganggu oleh siapapun, tapi hatinya begitu khawatir dengan wanita itu.


Aldi masih cemas setelah beberapa kali Amel berteriak histeris serta menangis setelah membaca surat yang di tinggalkan oleh pak Herlambang, sebelum ia tak sadarkan diri.


Didalam surat itu, Aldi bisa merasakan betapa dalam kasih sayang seorang ayah pada kedua putrinya. Hanya takdir saja yang membuat semua berakhir menjadi seperti ini.


***


Amel sayang, saat kamu membaca surat ini, mungkin Papa sudah tiada. Maaf, nak, bukan maksud hati papa merahasiakan semuanya darimu. Papa hanya tidak ingin kamu merasa sedih dengan kenyataan yang ada, atau kecewa dan pergi meninggalkan Papa.


Papa pikir, Papa bisa merahasiakan kisah pilu ini hingga Papa mati, kita semua bisa hidup bahagia dalam kehangatan satu keluarga. Kamu, Papa, Mama dan Zella.


Ternyata keputusan yang Papa ambil adalah salah!


Begitu banyak lika-liku masa lalu Papa dan mamamu yang sangat sulit Papa jelaskan, tapi yakinlah, Nak! Terlepas dari apapun masa lalu kami, Papa sangat menyayangimu dari lubuk hati Papa yang paling dalam.


Tidak pernah terlintas sedikitpun di fikiran pria tua ini, untuk pilih kasih diantara kalian berdua. Karena kalian berdua adalah putri kesayangan Papa.


Jika dulu Papa sering melarang dan membatasimu, itu semua karena rasa sayang Papa yang selalu ingin melindungimu gadis pemberaniku.


Di dalam surat wasiat yang Papa siapkan, Papa memberikan perusahaan ERPware Company untukmu, karena perusahaan itu adalah perusahaan milik almarhum Papamu yang dulu Papa akuisis dulu. Papa kembalikan lagi untukmu, hanya kamu yang berhak atas itu.


Maaf, sekali lagi Papa ucapkan, maaf.


Papa sangat menyayangimu, gadis kecil berpita biruku, sangat menyayangimu!


🍀🍀🍀🍀


"Amel, sayang! Kenapa?" tanya Aldi panik melihat wajah Amel yang begitu pucat, seperti tak ada darah yang emnagakir di wajah putihnya itu.


"Sakit ... perutku sakit!" rintih wanita itu pelan.


Aldi tersentak kaget melihat rona merah yang mengalir di sela-sela paha Amel, Aldi bukanlah pria bodoh yang tidak paham akan kondisi yang sedang terjadi, dengan sigap pria itu menggendong tubuh wanita yang ia cintai itu kerumah sakit.


Aldi ke luar kamar dan menuruni tangga, ruang keluarga masih terlihat menyala lampunya, ada Rimba bersama Mama mertuanya sedang mengobrol serius. Entah apa yang sedang mereka bahas malam-malan begini?


Karena panik dengan kondisi Amel yang kembali pingsan di dalam gendongannya, Aldi hanya melewati kedua orang itu begitu saja.


Rimba dan Mama Zella tersentak kaget melihat Aldi tergesa-gesa menggendong Amel dengan wajah yang begitu khawatir.


"Aldi! Kenapa Amel?" ujar Renata yang langsung berdiri dan mendekati aldi.


Walau terkadang ia sering merasa kesal dengan Amel, tapi seorang ibu ia tidak dapat memungkiri jika ia sangat khawatir dengan kondisi putri asuhnya itu.


"Amel pendarahan, Ma! Aldi harus cepat membawanya kerumah sakit," jawab Aldi tanpa menghentikan langkah kakinya.


"Ya, tuhan, Rimba! Cepat kamu antarkan mereka berdua kerumah sakit!" pinta Renata mulai panik.


"Aldi tunggu, aku akan mengantarmu kerumah sakit!" Rimba berlari mendahului Aldi, mengeluarkan mobil dari garasi dan mengantar kedua orang tersebut kerumah sakit.


Renata menatap sedih mobil yang pergi dengan laju cepat itu, kenapa masalah hadir dalam hidupnya secara bertubi-tubi. Suami yang baru saja meninggal, sekarang putrinya mengalami pendarahan.


Apakah tuhan sedang begitu marah padanya? Atau ada kesalahan yang telah ia perbuat di masa lalu hingga tuhan menghukumnya dengan penderitaan sedemikian rupa ini.


Renata berdoa dan memohon, agar putrinya serta janin yang sedang ia kandung baik-baik saja.


"Sudah cukup, ya Allah! Sudah cukup kabar berita duka yang kau hadirkan dalam keluargaku ini, aku mohon jangan ada lagi kesedihan kali ini. Lindungi putriku dan kandungannya, ya Allah! Aku percaya engkau akan memberikan kebahagiaan atas musibah yang sudah kami lalui. Untuk kali ini, kumohon ya allah lindungi putriku dan calon cucuku," pinta Renata pada sang khalik.


Dadanya begitu sesak dan di penuhi oleh kesedihan, hanya pasrah dan berserah pada-nyaah yang ia dapat lakukan saat ini. Tapi ia yakin Selakau ada pelangi di balik mendungnya hujan.