
"Hmmmm wangi banget baunya sayang"
ujar Rimba tiba-tiba membuatku kaget, sambil memeluk erat perut buncitku dari belakang dan menyandarkan dagu runcingnya di bahuku.
"Mas, jangan gangguin aku! Kamu duduk disana aja ya, bentar lagi sarapannya siap" ucapku dengan menunjuk sederet kursi pada meja makan di belakang ku pada Rimba yang masih asik menggangguku yang sedang memasak.
"Ayo dong sayang! Aku lagi repot ini, bawa perut besar ini saja udah repot malah mas peluk lagi seperti ini, engap mas!!" Ujarku lagi dengan tatapan memohon padanya agar lelaki usil di hadapanku ini mengerti.
"Ok! Ok! Mas nyerah, kalau istri mas yang cantik ini udah ngambek bisa bahaya" jawabnya dengan kedua tangan di atas seperti penjahat yang sedang tertangkap, yang tidak pernah ketinggalan dan tidak pernah lupa yaitu kerlingan mata genitnya padaku. Heran deh, kenapa suamiku ini jadi genit gini sih! Kemana Rimba yang dingin, irit bicara serta kaku yang ku kenal selama ini?
Aku menyajikan nasi goreng yang ku masak barusan keatas meja, dan beberapa menu pelengkap seperti telor,ayam goreng dan mentimun iris untuk sarapan nya pagi ini.
Setelah selesai sarapan aku mengikuti langkah kakinya dari belakang.
Yah, mengantarkan Rimba sampai depan pintu rumah saat berangkat kekantor sudah menjadi rutinitas wajibku dalam beberapa bulan terakhir ini semenjak kami menikah.
Aku membetulkan dasi Rimba saat tubuhnya berbalik menghadapku dengan tersenyum simpul. Ntah disengaja atau tidak, tapi seingatku dasinya tadi sudah rapi kenapa sekarang miring lagi?
"Sayang, mas berangkat dulu ya. Kalau ada apa-apa kamu cepat telpon mas!" Aku menyambut tangan suamiku untuk memberikan salam sebelum menjawab pertanyaannya barusan.
"Iya, Mas gak perlu khawatir gitu! Aku ini cuma hamil bukan sakit parah." Ucapku kesal saat mulai mengerti arti senyum simpulnya tadi, dan hanya di respons dengan kekehan renyah dirinya dan tidak lupa hadiah sebuah kecupan dalam nya di keningku.
Manis sekali, ujarku di dalam hati masih dengan memandang Rimba yang perlahan-lahan punggungnya sudah pergi menjauh dari pandangan mataku, wanita mana coba yang tidak akan jatuh cinta dengan perlakuan lembut seperti ini. Yah... walau terkadang tingkah usilnya sering sedikit menguji kesabaranku.
*****
Tok...tok..tok
Seseorang menggedor pintu rumahku saat aku baru saja sampai di dapur untuk memberesi sisa-sisa piring kotor bekas sarapan kami tadi.
Clekkk...
Pintu ku buka dan tidak ada tampak kehadiran satu orangpun di sana.
Sunyi.
Saat aku mau melangkah depan pintu untuk melihat lorong sisi kiri dan kanan pintu apartemen kami, tanpa sengaja kakiku menyentuh sebuah kotak kado yang berukuran sedang dengan tinggi kira-kira dua jengkal tangan orang dewasa sedang tergeletak cantik di bawah lantai depan pintu.
Karna tidak mau ambil pusing, aku langsung masuk kedalam dan meletakkan kotak kado itu di atas nakas dekat meja tamu. Aku pikir nanti saja aku bukanya saat suami ku pulang, mungkin saja itu paketan khusus pesanan nya.
***
Jam makan siang yang telah berlalu membuat suasana kafe yang berdiri dikawasan perkantoran ini mulai sepi di padati para pengunjung.
"Bagaimana? Apa kamu sudah menyelidiki semuanya?" Tanya Rimba pada Pria di hadapannya yang sedang duduk menikmati coffe latte di tangannya dengan santai.
Pria itu bernama Riko, seorang detektif handal yang di utus Ben untuk menyelidiki semua hal yang berhubungan dengan Amelia.
"Sudah! Pria itu bernama Geraldi Prasetya seorang kontraktor muda yang sukses serta memiliki beberapa tambang batu bara di beberapa tempat di Kalimantan, dan sejauh ini saya lihat tidak ada yang mencurigakan dari seorang Geraldi" ucap Riko menjelaskan secara detail tentang sosok lelaki yang menjadi dewa penolong adik iparnya itu.
Rimba menganggukkan kepala pelan saat mendengarkan penjelasan detektifnya, sambil tetap fokus membaca dan memeriksa secara seksama map yang berisikan biodata lengkap seorang Geraldi yang di berikan oleh Riko.
"Kecuali...!" Ujar Riko lagi dengan menggantungkan kalimatnya, yang sukses membuat pandangan Rimba teralihkan dari map yang berada di tangannya.
"Kecuali apa?" Tanya Rimba dengan selidik.
"Kecuali rekam medis nona Amel yang terlihat seperti rekayasa" jawab Riko sambil menyerahkan sebuah map lagi dari dalam tasnya.
"Jadi, maksud kamu amnesianya hanya sebuah sandiwara?" tanya Rimba sambil kembali memeriksa dengan cepat berkas-berkas rekam medis yang ada di dalam map tersebut.
"Bisa jadi!" Riko mengangkat kedua bahunya santai sambil meminum kembali coffe di hadapannya.
"Apa Geraldi juga ikut andil membantu Amel dalam kebohongan ini?"
"Tidak, dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya pria yang tertarik terhadap wajah polos nona Amel dan tidak lebih dari pion nona Amel saja"
Jawab Riko kembali tanpa memperdulikan expresi Rimba yang menatap tajam dengan rahang yang sudah berubah mengeras, dengan menggenggam erat berkas di tangan kanannya seolah-olah seperti ia sedang meremukkan tulang seseorang.
Bagi orang lain mungkin akan sangat ketakukan melihat tatapan tajam dan expresi Rimba barusan, tapi tidak untuk seorang Riko.
Karna Riko paham betul ada kegelisahan dan ketakutan di balik sorot tatapan tajam serta mengerikan yang di tunjukkan Rimba.
Entah apa yang ada di dalam fikiran rimba sekarang, tapi yang pasti ia sedang cemas tentang apa yang di rencanakan oleh Amel. Ia hanya takut sesuatu yang buruk terjadi pada istri dan anaknya, karna sekarang merekalah satu-satunya yang menjadi titik kelemahan dirinya saat ini.