Brondong Tengil

Brondong Tengil
Hari yang Mengerikan



"Tidak, mama pasti bohong, kan? tidak, semua ini tidak benar! Semua ini bohong! Aku bukan anak pungut, aku anak kandung Mama dan Papa!" teriak Amel sekuat tenaga, ia menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya. Ia begitu terkejut mendengar kenyataan yang baru saja di ceritakan mamanya.


Amel tidak pernah mengira cemoohan anak pungut yang selama ini ia lontarkan terhadap Zella ternyata berbalik pada dirinya sendiri, sekarang ia lah yang anak pungut di dalam keluarga ini.


Semua itu seperti mimpi buruk yang menghantam kesadarannya. Membuat hatinya hancur lebur. Dadanya begitu sesak.


"Amel, sayang dengarkan Mama! Semua itu hanya masa lalu, hanya salah paham, sayang! Kamu tetap anak Mama dan Papa, karna kami yang telah membesarkan kamu dengan kasih sayang," Renata mendekat, mencoba merangkuh tubuh Amel yang bergetar karna menangis.


Amel mundur beberapa langkah, "tidak, Mama bohong! Mama tidak menyayangi aku, Mama hanya sayang sama Zella. Di hati Mama hanya ada Zella! Hik hik... bertahun-tahun aku hidup dengan rasa iri dan cemburu karna Mama hanya memperdulikan Zella, bahkan sejak kedatangan Zella kerumah dulu, perhatian Mama lebih berfokus pada Zella dari pada aku. Tapi sekarang aku baru tahu, ternyata ini semua alasannya Mama bersikap seperti itu terhadapku." Amel menangis sengugukan, dengan suara yang begetar ia mengungkapkan semua beban hati yang selama ini ia simpan.


Renata terdiam, air mata terus membasahi pipi renta itu. Untuk pertama kalinya ia sadar jika selama ini ia sudah mengabaikan putri keduanya itu. Saat Zella kembali lagi di pelukannya, ia merasa senang hingga ia tidak sadar sudah begitu mengabaikan putrinya yang lain.


Tak bisa ia pungkiri, kehilangan putrinya membuat ia membenci Yelsa dan kebencian itu terkadang ia lampiaskan terhadap Amel. tapi nasi sudah menjadi bubur, ada sebuah penyesalan yang menyeruak di dasar hatinya saat ini.


"Amel, kamu tidak boleh seperti itu. Papa dan Mama sayang sama kamu, mereka tidak pernah membeda-bedakan antara kamu dan aku,"


Amel tersenyum sinis, ia menatap Zella tajam dan mendekati wanita hamil tersebut. Memupus jarak diantara mereka.


"Apa yang kamu tahu? Kamu tidak berada di posisi Ku. Saat aku dan kamu sakit Mama lebih memilih menemani mu dan membiarkan aku menggigil sendirian bersama seorang pembantu. Saat acara kenaikan kelas, Mama akan datang ke sekolah mu lebih dahulu, membuatku menunggu hingga Mama datang saat acara telah usai! Apa kau tahu perasaan ku? Kau tidak pernah tahu, karna kau anak kesayangan mereka!"


Amel membalikkan tubuhnya, setengah berlari pergi dari rumah itu sambil menghapus kasar air mata di pipinya.


"Amel tunggu, kamu jangan pergi!" teriak Zella, dengan perut yang membuncit ia berusaha mengejar Amel. Di lubuk hati Zella yang paling dalam ia sangat menyayangi amel, Zella tidak mau di saat emosi begini Amel berbuat sesuatu yang dapat membahayakan dirinya.


"Zella hati-hati, kamu tidak boleh berlarian seperti itu. Kamu sedang hamil!" ujar Renata yang melihat kedua putrinya saling berkejaran. Renata berteriak dan meminta mang Jaja seorang supir di rumah nya untuk ikut mengejar Zella dan Amel.


Langkah Renata dan Mang Jaja terayun cepat mengejar Zella, hingga kaki mereka terhenti dengan nafas yang berpacu hebat, mata Renata membulat sempurna, raut wajahnya berubah pias melihat sebuah mobil yang melaju kencang ke arah kedua putrinya yang sedang bertengkar lagi di tengah trotoar.


"Zella, Amel awas ...!" Teriak Renata. Mendengar teriakan ibunya, Amel akhirnya menyadari ada mobil yang melaju kencang dari belakang Zella. Mang Jaja berlari untuk menyelamatkan kedua putri majikannya tapi geraknya kalah cepat dengan mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.


Dengan sigap Amel membalik posisi tubuh ia dan Zella.


Citttttt... Brukkkkk ...


Terdengar bunyi tabrakan keras dengan cepat mereka berdua tersungkur, Zella yang tidak tahu apa-apa terkejut saat merasakan ada mobil yang menabrak dirinya dari belakang. Lebih tepatnya menabrak amel yang berada di belakangnya.


Zella terjatuh dengan posisi miring membuat tangan kirinya tergores dan berdarah, sedangkan perut buncitnya aman hanya pinggangnya yang terbentur.


"Amel, Amel bangun! Bangun nak!" teriak Renata histeris.


Sadar dari keterkejutannya, dengan cepat Mang Jaja membantu Zella berdiri, perut bawah Zella terasa nyeri, tapi rasa nyeri itu langsung hilang saat ia menoleh, di belakangnya ia melihat Mamanya menangis dan memangku Amel yang sudah bersimbah darah di pangkuannya.


Di bantu Mang Jaja, Zella berjalan tertatih menghampiri dua orang wanita yang berarti dalam hidupnya. Ia menangis dan berteriak dengan sekuat tenaga meminta pertolongan. Air mata nya tak berhenti mengalir melihat Amel yang sama sekali tidak bergerak.


Nyeri di perutnya terasa kembali, bahkan lebih hebat lagi hingga tidak tertahankan lagi.


Matanya berkubang dan menjadi gelap hingga dalam hitungan detik Zella pingsan dengan darah yang mengalir di sela-sela kakinya.


Membuat Mang Jaja dan Renata bertambah panik.


"Tidak! Zella, Zella bangun nak! Tolong! Tolong!" teriak Renata panik, dan takut melihat kondisi kedua putrinya yang tak sadarkan diri dengan darah yang bersimbah.


Hingga akhirnya datang banyak orang yang datang mengevakuasi dan membantu membawa mereka kerumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Zella dan Amel di bawa ke dalam ruang operasi.


Mang Jaja dengan cepat mengurus semua data-data untuk administrasi rumah sakit itu, agar kedua putri majikannya cepat di tangani.


Baju Renata berlumuran darah Amel, tangan Renata gemetar di depan ruang operasi, ia menekan beberapa nomor di ponsel nya menghubungi menantu nya, mengabari kondisi Zella saat ini.


Sebagai seorang ibu ia merasa hari ini adalah hari yang paling buruk dalam hidupnya, melihat kedua putrinya sedang terbaring di ruang operasi. Rasa takut yang ia rasakan saat ini puluhan kali lipat dari rasa takut saat ia kehilangan Zella dulu.


Baru saja Renata mematikan sambungan telponnya, ponsel itu langsung berdering kembali.


Renata melihat nomor suaminya yang menelpon.


"Hallo, mas kamu ada di mana? Putri kita..." Belum selesai Renata berbicara suara di seberang sana memotong ucapannya.


"Maaf ini dengan keluarga Pak Herlambang?" Ujar orang itu.


Dahi Renata berkerut, mendengar suara orang asing yang menggunakan ponsel suaminya.


'Ya Allah apa lagi yang akan terjadi ini, kenapa perasaanku sungguh tidak enak sekali ' batin Renata berujar.