Brondong Tengil

Brondong Tengil
mie ayam ohhh mie ayam 2



DRETTTT...DRETTT


Getar ponsel pada saku celana membangunkan kepala Rimba dari atas stir mobilnya. Masih dengan rasa kesal Rimba mengangkat sambungan telpon dari pria yang membuat nya bertambah kesal, hanya dengan baru melihat namanya saja yang muncul di layar ponsel.


"Hmmm"


Ben melipat dahinya di seberang sana saat mendengar suara bos nya yang ogah-ogahan menjawab telpon darinya.


"Tuan, saya sudah menemukan koki yang bersedia membuatkan pesanan nyonya muda"


Seketika wajah Rimba bersinar cerah mendengar apa yang di ucapkan asistennya di sebrang sana.


"Bagus, cepat suruh koki itu membuatnya!"


"justru makanan itu sudah siap tuan, dan sekarang saya mau menuju kediaman anda untuk mengantarkan nya"


"Apa! jika kamu sudah menemukan nya dari tadi kenapa baru bilang pada saya SEKARANG!!"


Ben menjauhkan telinganya dari ponsel di gemgaman nya, sebelum ia kehilangan gendang telinganya yang beharga.


"Hehehe... Maaf tuan tadi saya ketiduran setelah menemukan koki itu, ini saja saya baru di bangunkan maka nya bisa menelpon tuan"


"BENYAMIN ANTONIO!!"


Ben menelan saliva nya dengan susah payah saat mendengar bosnya itu menyebut nama lengkapnya dengan nada yang di tekan. Ia sangat tahu jika kemarahan bosnya saat ini sudah sampai di ubun-ubun.


Gawat jika tidak cepat-cepat bisa mati aku di gantung ya, sebaiknya cepat ku akhiri sambungan telpon ini sebelum nyawa terancam dan gajiku menghilang.


"Tuan maaf saya harus mengantar makanan ini cepat kepada nyonya muda, sebelum makanan ini dingin dan menjadi tidak enak"


TUTTTT...TUTTTT.


Rimba mencengkram ponsel di tangannya saat asistennya itu mematikan sambungan ponselnya sebelum ia sempat menjawab perkataanya.


Awas saja kamu Benyamin antonio aku akan membuat perhitungan denganmu, enak saja dia bisa enak-enakan tidur tanpa memberi tahukan ku terlebih dahulu, yang sudah hilir mudik tak tentu arah.


*****


Rimba tiba di apartemen nya lebih dulu dari pada Ben, ia masih menunggu Ben di luar hanya untuk mengambil pesanan Zella agar ia bisa memberikannya secara langsung kepada istrinya.


Setelah 5 menit menunggu, akhirnya ia melihat Ben baru keluar dari lift yang berada di ujung lorong apartemennya.


"Tuan maaf apa anda sudah lama menunggu?"


"tidak! Sekarang berikan padaku makanan yang di buat oleh koki tadi"


"Ini tuan"


Rimba mengambil tas paper bag berukuran sedang yang di berikan Ben padanya.


Rimba melenggang pergi meninggalkan Ben yang mengekornya dari belakang memasuki apartement.


Ben berjalan menuju dapur sedangkan Rimba menuju kamar tempat istrinya berada.


Rimba mengintip sedikit isi paperbag itu, didalam sana hanya ada beberapa kotak makanan yang tercium sangat wangi dan lezat.


"Sayang, ayo bangun! Ini mas bawakan makanan pesanan kamu"


Zella terbangun saat merasakan sebuah tangan mengusap pipinya dengan lembut. Ia membuka matanya dan menatap suaminya yang telah pulang membawa sebuah paperbag, lalu menyerahkan paperbag itu padanya.


Rimba menatap Zella heran, ia melihat Zella yang terdiam saat membuka paperbag yang berisi makanan darinya.


"Sayang kok diam, tadi katany lapar? Ayo di makan mie ayam nya"


"Mas, kamu saja yang memakan ini semua ya. Aku sudah kenyang tadi aku sudah makan indom*e rasa kari ayam. Habisnya kamu lama banget sih."


Mata Rimba melotot seperti mau copot dari tempatnya.


"Tapi sayang, tadi kan kamu yang minta makanan ini? Kenapa tidak di makan?"


"Aku kan mintanya tadi Mas, kalau sekarang aku udah gak mau lagi."


"Jadi ini sayang, siapa yang mau makan ini semua?"


"Mas aku sudah kenyang, kamu saja yang ngabisin nya ya" Zella memohon dengan manja membuat Rimba hanya menghela nafas pelan.


"Ya sudah kalau gitu, mas meletakkan ini ke dapur dulu"


Rimba keluar dari kamar itu dengan hati yang kesal, ia kesal setelah ia bersusah payah mencari apa yang istrinya inginkan.


Ben bingung melihat raut masam wajah bos nya yang tiba-tiba duduk di hadapannya di meja makan.


"Nih buat kamu"


Ben mengambil paperbag yang di berikan oleh bos nya, tanpa melihat isi nya Ben tentu sangat apa di dalamnya itu berisi apa.


"Zella sudah kenyang, dan sudah tidak menginginkan nya lagi"


"Hahhhhhh"


Ben menghembuskan napas kasar. Sebenarnya ia juga ingin marah, tapi karna ia mengingat kondisi nyonya muda nya itu sendang hamil jadi Ben berusaha memaklumi. Karna ia juga pernah merasakan perasaan yang saat ini Rimba rasakan saat istrinya dulu hamil, bahkan bisa di bilang lebih mengesalkan dari ini.


Usia Ben memang tidak berbeda jauh dari bosnya tapi ia sudah memilik 2 orang anak, putra-putri yang cantik.


"Memang wanita hamil itu kadang jengkelkan tuan, saya rasa anak anda sedang mengerjai anda tuan. Bagaimana kalau kita makan saja makanan ini tuan? Sayang kan kalau di buang."


"Boleh juga, siapkanlah aku juga lapar"


Ben mengambil paperbag itu dari atas meja dan mengeluarkan isi nya.


Ia menyajikan isi dari paperbag itu pada piring lalu memberikan nya pada Rimba.


Akhirnya Ben dan Rimba memakan mie ayam tersebut bersama dengan duduk yang berhadapan.


Saat makan Ben menatap Rimba, lalu mereka bertatap-tatapan selama beberapa detik.


"HaHahaha"


Tiba-tiba Ben dan Rimba tertawa bersama saat mereka menyadari sesuatu.


Mereka menyadari setelah bertahun-tahun mereka dekat dan bersama, baru kali ini mereka bisa makan bersama dengan santai pada meja yang sama seperti ini.


Mereka mengobrol santai sebagai seorang sahabat, Rimba banyak tertawa mendengar cerita-cerita yang di alami Ben saat Ben memenuhi keinginan istrinya.


Dulu Ben harus Mencari waria untuk joged bersama, lalu harus memakai baju balerina, dan bahkan Ben pernah di usir dari rumah selama 1 Minggu hanya karna istrinya tidak tahan dengan aroma tubuh Ben yang tercium bau bagi istrinya.


Untung nya nasib ku tidak sampai seperti itu, aku tidak bisa membayangkan jika Zella ngidam seextrim itu, memakai baju balerina hahahahaha