
Malam yang begitu larut yang di sertai hujan dan diiringi petir yang saling bersahut-sahutan.
Sebuah mobil hitam masuk ke dalam pekarangan sebuah rumah sederhana dengan sedikit kencang lalu mengerem mendadak saat mobil itu hampir mendekati mobil yang sudah terparkir manis di depannya. Andai saja sang pengemudi mobil itu tidak mahir dalam berkendara mungkin sudah terjadi tabrakan kencang di garasi itu.
Seorang pria keluar dari balik kemudi dengan wajah yang berantakan dan tubuh penuh berlumuran percikan darah di bajunya. pria itu bergerak begitu cepat membuka pintu belakang mobil mengambil dan menggendong perlahan seorang anak kecil yang baru saja terbangun dari tidurnya, lalu melangkahkan kaki membawanya ke dalam rumah.
Kalian pasti bertanya dan menebak-nebak siapa pria itu kan? yah.. tebakan kalian benar sekali, pria itu adalah tuan muda Herlambang.
"Ini anak siapa Mas?" tanya istrinya yang sangat kaget saat membukakan pintu melihat keadaan suaminya yang berantakan serta mengendong seorang anak yang masih sangat kecil yang tidak ia kenal anak siapa.
"Mas jelaskan nanti Ren, sekarang kamu bawa anak ini pada bik Asih dulu." Herlambang menyerahkan anak yang berada di gendongannya kepada Renata.
Lalu, ia berjalan menuju kamar untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum bercerita dengan istrinya.
Renata menuruti perintah suaminya membawa anak itu pada bi Asih dan meminta bi Asih mengurus dan mengajak anak itu tidur Karena malam sudah benar-benar larut. Lagi pula sepertinya anak itu masih mengantuk, terlihat dari mata nya yang begitu redup dan beberapa kali mulut nya menguap.
"Mas sekarang kamu jelaskan sama aku, anak siapa yang kamu bawa itu? dan kenapa bajumu penuh dengan bercak darah?" tanya Renata terburu-buru saat ia baru saja memasuki kamar dan mendapati suaminya duduk di ranjang sedang mengeringkan rambut yang basah sehabis mandi.
Herlambang menghela nafas berat sambil meletakkan handuk yang berada di tangan nya keatas nakas samping ranjang.
Ia menepuk ranjang di sebelahnya sebagai isyarat agar istrinya duduk di terlebih dahulu di sampingnya.
Renata hanya diam dan menuruti keinginan suaminya untuk duduk. Tapi tatapan matanya tidak lepas dari wajah suaminya yang terlihat sangat kusut walau ia sudah mandi, seperti ada beban berat yang sedang menerpanya.
"Itu anak Yelsa" ujar Herlambang akhirnya setelah beberapa menit iya mencoba mengatur nafas sebelum menceritakan secara detail apa yang terjadi dengan nya tadi.
"Apa anak Yelsa? Lalu untuk apa Mas bawa anak perempuan ibl*s itu kemari" Renata berdiri dari duduknya dan menatap Herlambang dengan emosi. Dia begitu emosi setiap mendengar nama wanita yang telah membuat ia kehilangan putri kecilnya, putri yang begitu ia sayang yang tidak ia ketahui dimana keberadaannya hingga saat ini.
"Yelsa meninggal, Mas tidak sengaja menembaknya. Saat itu Mas hanya sedang berusaha merebut pistol yang berada di tangannya waktu ia mau berusaha menembak Mas, dan tanpa kami sadari saat tarik menarik platuk pistol itu terlepas dan menembak tepat di dadanya" Herlambang menggusap wajahnya kasar dan menhela napasnya yang terasa berat.
"Yelsa meninggal Mas? Lalu gimana dengan putri kita Mas? Putri kita dimana?" Renata mengguncang-guncang bahu suaminya sambil menagis membayangkan kemungkinan ia tidak akan bertemu putrinya untuk selama-lamanya.
Herlambang sangat tahu kegelisahan dan kesedihan istrinya, ia menarik tubuh istrinya kedalam dekapannya mencoba menenangkan.
"Sebelum meninggal Yelsa hanya mengatakan jika putri kita ia titipkan pada sebuah panti asuhan di kota. Mas tidak sempat menanyakan alamat panti itu secara lengkap karena ia keburu menghembuskan nafas terakhirnya.
Maafkan Mas Ren, Mas tidak berhasil menemukan putri kita. Tapi Mas janji akan menemukannya sekuat tenaga Mas" ujar Herlambang pelan.
Sebagai seorang ayah ia benar-benar merasa buruk karena tidak dapat melindungi putri kecil yang mereka sayangi, dan sekarang orang yang menjadi harapan satu-satunya untuk menemukan putrinya justru telah meninggal tanpa memberi tahukan dimana putrinya secara jelas.
Tapi kata-kata suaminya barusan tidak cukup bagi Renata justru membuat ia semakin berteriak memukul dada bidang suaminya dan menjerit.
"Putriku dimana Mas?"
"Dimana Cinta?!"
"Kenapa perempuan sia*lan itu mati sebelum mengembalikan putriku! Aku mau putri kecilku Mas" Renata berteriak-teriak sambil menagis pilu. Tiada yang dapat di lakukan Herlambang selain diam membiarkan apa yang dilakukan Renata terhadapnya, tanpa terasa meluncur setitik air di sudut matanya melihat istri yang begitu di cintainya benar-benar hancur menagis pilu.
"Nyonya non Amel demam" Ucap bi Asih sambil menggendong bocah yang berumur kurang lebih 1 tahun itu dengan cemas pada Renata yang terlihat sedang asik membaca majalah fashion anak.
"Bik lihat baju ini baguskan? Aku mau pesan satu, pasti cantik di pakai Cinta saat ia pulang nanti" Renata memperlihatkan gambar switer anak berumur 8 tahun yang berada di majalah dan mengabaikan perkataan bik Asih.
"Nyonya non Amel sakit, badan nya panas sekali"
Bik Asih mencoba mengulangi perkataan nya sekali lagi membuat Renata terdiam dan menutup majalah yang ada pada pangkuan nya dengan kasar, lalu menatap wajah bik Asih tajam.
"Memangnya saya dokter, jika dia sakit bibi bawa saja dia kemana bibik suka. Bahkan mati sekalipun saya tidak peduli!!" bentak Renata kasar
"Renata! Jaga ucapan mu!" ucap Herlambang yang baru saja tiba dan tanpa sengaja mendengar perkataan istrinya tersebut.
"Memangnya kenapa Mas? memang aku tidak peduli apapun yang terjadi dengan dia! karena dia anak dari perempuan sial*n yang membuatku kehilangan putriku, bahkan sampai detik ini aku tidak tahu bagaimana nasib putriku. apa dia masih hidup atau tidak! tapi, anak dari wanita jahat itu justru bisa hidup layak dan enak di rumah ini!"
Renata berteriak meluapkan kekesalannya dan menunjuk-nunjuk bocah 1 tahun itu dengan tatapan benci membuat bocah itu terkejut dan menagis.
"Anak ini tidak bersalah Ren, jangan kamu lampiaskan amarah mu padanya. Kasihani dia Ren, dia tidak tahu apa-apa. Rawat dia dengan baik semoga saja dengan begitu tuhan juga akan mengirimkan orang baik untuk merawat anak kita sampai ia kita ketemu kan nanti" Herlambang mendekati bik Asih lalu meletakkan punggung tangan nya ke kening Amel untuk mengecek suhu tubuh nya.
"astaghfirullah! Dia benar-benar panas Ren, ayo kita bawa dia ke rumah sakit. Mas tahu kamu tidak sekejam itu membiarkan bocah ini kritis disini kan?"
"Mas mohon padamu Ren, tolong rawat dia seperti anakmu sendiri. anak itu tidak bersalah Ren justru Mas yang bersalah. Walau bagaimanapun Mas merasa sangat berdosa karna telah membuat dia piatu di usia yang masih kecil. Mas mohon Ren untuk kali ini saja"
Ucap Herlambang lagi pada istrinya membuat hati Renata tercubit.
Ia merasakan sesak dan sakit di dadanya, tapi ia tidak tahu sakit karna apa, apa itu karena ia merasa yang di katakan suaminya ada benarnya juga.
Ntahlah!!
Renata menatap dalam wajah bocah cantik yang masih menangis itu, walau bagaimanapun ia adalah seorang ibu yang punya rasa kasih dan tak tega melihat bocah kecil itu menagis.
Walau dengan berat hati Renata mencoba berdamai dengan amarahnya lalu menyambut bocah itu dalam gendongannya dan membawa bocah itu kerumah sakit.
Sejak saat itu Renata tidak pernah lagi berkata kasar atau membentak bocah kecil itu, ia berusaha merawat anak itu seperti anaknya sendiri walaupun tidak sepenuh hati.
Hingga ia menemukan putri kandungnya sendiri 5 tahun kemudian.
Putri kesayangannya.
Cinta nya.
Cinta kecilnya.
Cinta Anastasya putri herlambang
(Arzela putri Herlambang)