
Siang ini Bu Herlambang di rumah sakit sedang membantu memberesi semua barang-barang putrinya dan di bantu oleh Rimba, karna hari ini Zella sudah di perbolehkan pulang oleh dokter Yola dengan catatan Zella harus banyak-banyak istirahat.
"Papa mana Ma?" Tanya Zella karna melihat Mamanya datang hanya di temani Pak Mamad supir nya.
"Papa tidak bisa kesini karna ada rapat penting di kantor sayang" Bu Herlambang menghitung satu persatu barang-barang yang ada di hadapannya serta mengingat-ngingat apa saja yang belum ia beresi.
"Apa masih ada lagi yang perlu di beresi ma?" Tanya Rimba pada mertuanya.
"Sepertinya sudah semua nak" jawab Bu Herlambang.
"Cepat angkat semua ini!" Perintah Rimba pada dua orang yang selalu stanbay di depan ruangan rawat Zella. Rimba menggendong Zella dan mendudukkannya di kursi roda lalu mendorong kursi roda tersebut ke arah keluar untuk pulang, yang tentunya di ikuti oleh Bu Herlambang dari samping.
Sepanjang perjalan Bu Herlambang bercerita tentang semua rencananya untuk merombak kamar tamu menjadi kamar bayi yang sedang ia siapkan. Sangat terlihat jelas senyum bahagia di mata Bu herlambang akan kehadiran cucu pertamanya.
Setiba nya di rumah Zella di sambut oleh bik Asih dan beberapa pelayan yang sedang membersihkan kamar yang sudah lama tidak di tempatinya. Dan tidak ketinggalan senyum kepura-puraan Amel yang mulai menyapanya.
"Kak gimana kabarmu, kandunganmu sehat-sehat sajakan? Mama sama Papa kemaren sampai panik dengar kabar kakak masuk rumah sakit" sapa Amel basa-basi menggandeng tangan Zella menuju sofa ruang tamu.
Amel mengambil posisi duduk di samping Zella yang berhadapan langsung dengan Rimba dan Bu Herlambang. Rimba terus memicing kan mata menatap Amel curiga membuat Amel berpura-pura merasa tidak nyaman dan terintimidasi.
"Kakak gak apa-apa cuma perut Kakak sedikit kram, itu hal yang biasa di alami wanita yang sedang hamil" Zella tersenyum dan menggenggam lembut tangan kanan Amel yang berada di atas pahanya. Sedangkan tangan kiri Amel menggenggam ujung sofa dengan kuat karna merasa kesal dengan kenyataan yang ia dengar.
"Wanita si*lan, hanya karna kram biasa membuat semua orang heboh, sampai-sampai Mama dan Papa mengabaikan kondisiku" Amel menghujat Zella di dalam hati, tapi menutupi kemarahan nya dengan tersenyum.
Senyum kepalsuan.
"Oh ya kak, kakak pasti belum makan kan? Tadi Bik Asih masak banyak untuk menyambut kepulangan Kakak katanya."
"Pas sekali, Zella pasti lapar? Lagi pula kita juga udah melewati jam makan siang." ajak Bu Herlambang pada putra putrinya menuju meja makan.
"Ayuk Mel, masakan bik Asih siang ini pasti enak-enak" Zella meraih tangan Amel mengajak nya jelan bersama menuju ruang makan, Amel hanya diam mengikuti langkah Zella dengan tatapan yang sulit di artikan.
Mereka semua mengitari meja makan yang sudah penuh dengan berbagai macam makanan yang tentu nya enak dak lezat.
"Wahhh, hari ini bik Asih masak banyak banget makanan. Memangnya ada perayaan apa nih bik?" tanya Zella pada bik Asih dengan wajah berbinar, suara lambungnya bersahut-sahutan minta di isi saat melihat aneka makanan yang dari wangi nya saja sudah menggugah selera. Membuat Rimba tersenyum geli mendengar suara lambung wanita di sampingnya, sedangkan istrinya tersebut hanya tersenyum malu saat menyadari Rimba mengetahui jika perutnya bernyanyi.
Rimba mengambilkan nasi lalu meletakkan ke dalam piring Zella, sedangkan Zella mengambil sepotong ayam goreng, capcay dan beberapa buah pergedel daging kegemarannya. Mereka semua menikmati makanan dengan tenang.
Tiba-tiba Rimba berdiri dan merebut sendok yang di pegang Zella serta menbantingnya ke lantai saat Zella akan menyuapkan sepotong pergedel kedalam mulutnya, yang tentunya sudah terlebih dahulu Rimba makan. Tentu saja perlakuan Rimba barusan membuat semua yang ada di meja itu terkejut.
"Mas! Apa-apaan ini mas?" tanya Zella kaget dengan perlakuan tiba-tiba suaminya itu.
"Bik! Bik Asih!" Suara teriakan Rimba menggelegar membuat bik Asih yang berada di dapur terkejut.
"Iya tuan, ada apa?" Bik Asih mendekat dan bertanya pada tuan mudanya yang terlihat sangat marah.
"Siapa yang masak semua makanan di meja ini?" Tangan Rimba menujuk piring yang hanya berisi beberapa potong pergedel.
"Itu saya tuan" jawab Bik Asih masih bingung dengan arah pertanyaan tuannya itu.
"Bibik mau membunuh istri dan anak saya! Bibi tahu kan Zella alergi dengan jamur. Bibi juga tahu jika Zella makan jamur dia bisa gatal-gatal serta sesak nafas, apalagi dengan kondisi Zella saat ini alerginya akan berakibat fatal!" teriak Rimba dengan wajah merah menahan marah.
Bu Herlambang mengambil sepotong pergedel yang berada di piring yang belum sempat ia makan.
Betapa terkejut nya Bu Herlambang saat mencicipi pergedel itu. Sekilas mata memandang itu hanyalah pergedel kentang biasa yang di campur potongan daging ayam, tapi jika dirasa baik-baik maka akan terasa samar-samar jamur halus yang di campur pada makanan tersebut.
"Rimba benar bik, pergedel ini ada jamurnya." Ujar Bu Herlambang pada bik Asih yang menatapnya bingung serta tubuh gemetar karna takut.
"Ti-tidak tuan, saya tidak mungkin meracuni non Zella. Bukan saya nyonya, saya yang mengasuh non Zella sejak kecil. Saya juga sangat tahu apa yang boleh dan apa yang tidak boleh di makan oleh non Zella nyonya."
Bik Asih berlutut di bawah kaki Bu Herlambang dan memegang tangan nyonya ya berharap Bu Herlambang percaya bahwa bukan dia pelaku nya. Sebenarnya dalam hati kecil Bu Herlambang ragu jika bik Asih yang mencampur jamur pada makanan itu, karna bik Asih yang mengasuh Zella dan Amel sejak kecil. Bik Asih juga tahu saat Zella berumur 10 tahun, Zella pernah hampir mati sesak nafas saat ia tidak sengaja memakan potongan jamur crispy yang di campur ayam crispy pada makanan temannya.
Jika bukan Bik Asih lalu siapa? Apa Amel? Tidak mungkin! Selama ini Amel tidak pernah mau tahu makanan yang pantang bagi Zella, apalagi sekarang ia sedang amnesia!
"Jika bukan Bibik lalu siapa? Hahhh!" Hardik Rimba pada bik Asih yang membuyarkan fikiran Bu herlambang tentang siapa pelakunya. Rimba beralih menatap Amel tajam membuat Amel menelan ludah.
"Saya tidak mau tahu, akibat keteledoran bibi hampir saja istri saya celaka. Jadi selama saya dan Zella di sini saya tidak mau bibi berada di sini, silahkan bibi pergi dari sini. Sekarang!!!!"
" Sumpah tuan! Sumpah bukan bibi pelakunya. Ampunkan Bibik tuan!!" Ucap bik Asih memohon pada Rimba dengan air mata yang mulai membasahi pipi.
"Saya tidak mau mengulangi perkataan saya bik, pergilah selagi saya masih berbaik hati. Dan saya tidak mau di bantah!" Ujar Rimba tegas dan menatap mertuanya tajam saat Bu Herlambang mencoba membuka mulut untuk membela bik Asih.
Kedua pengawal Rimba membawa bik Asih keluar dari rumah keluarga Herlambang.
"Nanti akan ada orang yang kukirim untuk menggantikan bik Asih selama kami di sini, dan mulai hari ini saya tidak mengizinkan siapapun menyentuh dan menyiapkan makanan untuk istri saya. Akan ada orang khusus yang kan memasak semua makanan Zella" ujar Rimba tak mau dibantah.
"Sekarang sebaiknya kamu istirahat, aku akan membuatkanmu susu terlebih dahulu sebelum koki yang memasak makananmu datang" ucap Rimba lagi sambil membawa Zella ke kamar.
Sama seperti Zella, Bu Hanum juga bergerak menuju kamarnya meninggalkan Amel yang masih belum beranjak dari tempatnya saat ini. Bu Herlambang hanya ingin istirahat saat ini karena kepalanya terasa pusing dengan semua yang terjadi.