
Hampir satu jam rimba dan Aldi menunggu di luar ruangan operasi, tapi belum juga ada tanda para Dokter itu akan selesai. Rimba menopang dagunya diatas tangan yang bertumpu di paha. Kakinya bergoyang gelisah.
Sebenarnya sebagai menantu tertua dan satu-satunya. Seharusnya, ia lah yang mengurus pemakaman ayah mertuanya itu. Tapi apa boleh buat, ia tidak mungkin meninggalkan istrinya yang sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam sana.
Oek.. oek...
Seketika suara tangis bayi bergema di dalam ruangan operasi. Mata Rimba berbinar, raut wajah yang begitu kusut telah berganti dengan cepat menjadi cerah penuh senyuman. Rimba tak dapat menahan rasa bahagia yang ada di dalam hatinya. Tangis bayinya itu seolah seperti air yang membanjiri Padang pasir. Begitu merdu di telinganya.
Aldi tersenyum menatap rimba, ia menghampiri temannya itu. Memberi selamat, ia turut merasa bahagia atas kelahiran anak Rimba.
"Selamat bro, Lo udah jadi bapak sekarang. Sekali lagi selamat ya," mereka berjabat tangan dan berpelukan ala lelaki.
"Terima kasih bro, lo tahu? Tak dapat ku ungkap seberapa besar bahagiaku kini. Suatu saat saat Lo berada di posisiku, Lo pasti akan tahu bagaimana rasanya,"
Entah sejak kapan mereka menggunakan kata Lo-gue, tapi yang pasti saat berada di luar kantor mereka merasa akrab saja saat menggunakan sapaan itu di bandingkan aku-kamu yang terasa formal dan canggung.
Rimba tersenyum bahagia. Hilang sudah kesedihan yang sedari tadi merundung wajahnya. Walau di hati kecilnya juga ada sedikit rasa sedih.
'Cucu Papa sudah lahir Pa. Andai Papa masih hidup, Rimba yakin Papa adalah orang yang paling bahagia saat ini. Maafkan Rimba Pa, Maaf karna Rimba tidak bisa ada di detik-detik Papa di makamkan. Maaf!" batin Rimba menyesal.
Tingg!
Lampu ruang operasi mati, Rimba dan Aldi mendekat kearah pintu itu. Bersamaan pintu terbuka, keluar seorang dokter yang melepas maskernya.
"Keluarga ibu Zella?" tanya dokter pada kedua pria itu.
"Saya dok," Rimba mendekat. "Saya suaminya." Jawab Rimba.
"Selamat ya, pak! Putra anda lahir dengan selamat dan sehat," Dokter yang bernama Ibrahim di name tag yang tersemat di dadanya itu menjabat tangan Rimba, lagi-lagi Rimba tersenyum bahagia.
"Tapi maaf, anda saat ini belum bisa menjenguk istri anda, pak. Karna istri anda belum sadar dari pengaruh obat bius. Nanti anda bisa menjenguknya setelah perawat memindahkannya keruang rawat inap ya, pak!"
"Baik, dok. Terima kasih!" jawab Rimba, mengerti.
Saat dokter itu mau beranjak pergi, Aldi menghampiri. Ia khawatir karna dokter itu tidak ada sedikitpun menyinggung tentang kondisi Amel.
Dimana Amelnya? Dan bagaimana keadaannya saat ini?
"Dokter tunggu!" ujar Aldi, dokter itu berhenti serta membalikan tubuhnya.
"Amel! Maksud saya, di mana Amel? dan bagaimana dengan kondisinya?"
"Apa anda keluarga ibu, Amel?"
"Iya, saya suaminya!" jawab Aldi refleks, serta begitu yakin dengan hubungannya. Dokter yang umurnya tidak lagi muda itu tersenyum melihat garis khawatir di wajah Aldi. Ia begitu suka dengan pria-pria yang penyayang istri, seperti dirinya.
"Ibu Amel sekarang ada diruang perawatan tuan, ruang melati 2 VVIP, tadi saat di pindahkan tidak ada satupun keluarganya disini yang dapat kami kabari, sedangan nyonya Renata tadi sedang pingsan dan di bawa ke ruang rawat," ujar dokter itu yang di maklumi oleh Aldi.
"Lalu, bagaimana kondisinya, Dok?"
"Anda tenang saja tuan! Ibu Amel kondisinya saat ini baik-baik saja. Ia hanya mengalami benturan di kepalanya serta mengalami patah di lengan kanannya, tapi itu semua bisa sembuh dengan baik nanti, asal ibu Amel rajin kontrol. Tapi yang terpenting saat ini kondisi kandungannya, sehat-sehat saja. Janinnya begitu kuat!"
Mata Aldi dan Rimba membulat sempurna, mereka berdua menoleh dan saling tatap-tatapan seperti orang bodoh. Lalu Aldi menoleh lagi ke arah dokter Ibrahim, sekedar memastikan jika pendengarannya tidak salah.
"Hamil Dok?" tanya Aldi, Dokter Ibrahim mengerutkan dahinya bingung.
"Iya, benar! Ibu Amel sedang hamil dua bulan!"
"Ha ha, gue jadi ayah! Bro, gue nyusul Lo jadi ayah!" Aldi tertawa bahagia, dadanya membuncah seperti di hinggapi ribuan kupu-kupu.
"Selamat ya bro! Ternyata punyo Lo topcer juga!" Rimba tersenyum simpul menatap Aldi penuh arti. Lalu mereka tertawa bersama. Seolah mereka lupa akan kabar duka yang mereka dengar tadi.
Dokter Ibrahim hanya menggeleng melihat kedua pria di hadapannya ini, lalu pamit pergi karna masih banyak pasien yang telah menanti kedatangannya di ruang praktek.
**********
Sesungguhnya Tuhan itu zat yang paling adil, saat ia mengambil satu kehidupan ia juga memberikan dua kehidupan sebagai gantinya, ia lah yang lebih tahu apa yang terbaik!
Saat cobaan datang silih berganti menghampiri, mereka itu tidak melemahkan melainkan menempamu menjadi lebih baik.
Terkadang sesuatu hal buruk itu terjadi memberimu pesan untuk berubah menjadi lebih baik lagi.
Hidup ini sederhana, yang rumit itu pemikiran manusia. Mereka hidup dengan ego lalu mulai berasumsi sendiri dan merasa dirinya lah yang paling tersiksa.
********
Kira-kira Amel akan berubah atau tidak ya? Setelah ini author juga akan mengungkap apa yang disimpan pak Herlambang selama bertahun-tahun untuk Amel. Jadi, jangan lupa vote and like ya, soalnya author lagi meriang nih! Biar tetap semangat ngetiknya🤗😂