Brondong Tengil

Brondong Tengil
Suasana pagi yang hangat.



Burung berkicau menari-nari diatas ranting menyambut sang mentari yang baru saja muncul.


Seorarang gadis melangkahkan kaki turun dari tangga menuju dapur menghampiri dua wanita paruh baya yang sedang asik berkutat dengan aneka bahan makanan dan perkakas.


"Amel! Kamu sudah bangun nak?" ujar nyonya Herlambang yang kaget dengan kedatangan putri bungsunya di hari yang masih sangat pagi ini, saat sebagian manusia baru saja bangun gadis itu justru sudah mandi, cantik dan rapi.


"Maaf Ma, ada yang bisa aku bantu Ma?" ujar Amel dengan bingung harus melakukan apa.


"Gak usah sayang, ini Mama sama Bibik mau masak untuk sarapan. Kamu duduk aja di sana nak" ucap mamanya dengan senyum hangat. Wanita dihadapannya ini tetap terlihat cantik walau di usianya yang mulai senja.


"Gak apa-apa Ma, aku bantu ya? Amel bosan duduk sendirian pagi-pagi gini. Lagi pula Amel bisa masak kok" pinta Amel memohon pada Mamanya.


"Kamu bisa masak?" tanya Mama nya heran sekaligus takjub dengan putri bungsunya itu, secara Amel yang ia tahu adalah gadis manja dan pemalas. Jangankan masak, terkadang membereskan kamar nya sendiri ia malas. Nyonya herlambang benar-benar kaget dan bingung pagi ini seperti orang yang baru saja menang undian tapi merasa tidak pernah mendaftar.


Melihat Amel yang bangun pagi dengan kondisi yang sudah rapi saja sudah wawww, ditambah lagi sekarang ia bilang bisa masak benar-benar amazing di mata nyonya Herlambang. Walau bagi orang lain itu adalah hal yang biasa tapi untuk seorang Amel itu benar-benar berbeda.


"Kenapa Ma? Apa ada yang aneh?" tanya Amel bingung dengan expresi tak percaya yang di tunjukkan Mamanya.


"Tidak sayang, ayo kita masak bentar lagi Papamu turun untuk sarapan"


Amel melangkahkan kaki mengikuti langkah mamanya menuju meja yang berisi bahan makanan yang mau diolah buat sarapan pagi ini. Bagi Amel memasak adalah hal yang mudah untuk nya saat ini, sebab beberapa bulan tinggal bersama dengan seorang Geraldi membuat Amel menjadi wanita yang anggun dan tentunya pintar masak.


Semua menu makanan untuk Aldi dari pagi, siang serta malam semuanya harus Amel yang masak. Terkadang Amel berpikir apa di mata Aldi dirinya hanyalah seorang koki, jika bukan karna Amel masih membutuhkan Aldi maka jangan harap ia mau melakukannya.


Jangan kalian pikir Amel langsung mahir ya, dia juga pernah kok hampir membakar apartemen Aldi saat masak, apalagi membuat masakan gosong dan asin wahhh itu udah tidak terhitung lagi jumlahnya.


******


Tuan Herlambang duduk di meja makan dan memandang takjub dengan menu makanan yang tersaji di meja makan saat ini, begitu banyak menu makanan yang menggugah selera.


"Nasi goreng, nasi putih, ayam goreng bumbu, tumis kangkung, telur dadar, capcay bakso, orak-arik tempe, tahu tempe kecap, sambal terasi dan lalapan hmmm" ujar pak Herlambang mengabsen satu persatu menu yang terhidang di meja makan saat ini.


Menurutnya semua makanan ini terlihat enak apalagi itu semua memang makanan kesukaan ia dan istrinya, hanya saja sedikit agak berlebihan dan berat untuk sarapan di pagi hari.


"Ma! Mama mau buka catringan ya?" tanya pak Herlambang sambil menyomot ayam goreng bumbu yang ada di meja.


"Ishhh Papa, memangnya Papa bangkrut sampai Mama harus buka catringan pagi-pagi begini"


"Hmmm enak Ma, kayak nya ini bukan buatan Mama deh? Soalnya rasa manisnya Pas" Pak Herlambang terkekeh di hadapan istrinya yang manyun mendengar ucapannya barusan.


"Putri mu yang masak semua nya ini, khusus untuk kita berdua katanya" jawab Bu Herlambang tersenyum.


"Duh.. Mama kok biarin Zella masak sih kan kasian nanti capek" ujar pak Herlambang masih dengan menikmati kolak yang ada di hadapannya yang terasa nikmat di lidahnya.


"Bukan Zella Papa, tapi Amel yang masak"


"Hukkkk...hukkk" seketika kolak yang di makan Pak Herlambang terkejut mendengar ucapan buk Herlambang dan menjadi linglung, seharusnya masuk kerongkongan malah jadi masuk kesaluran pernapasan hingga menyebabkan Pak Herlambang terbatuk-batuk.


"Papa makan nya yang pelan-pelan dong, nanti kalau Papa mati tersedak kan sayang, Mama jandanya udah tua gini"


Ucap Bu Herlambang asal membuat batuk pak Herlambang semakin menjadi.(mungkin tu kolak pisang tambah linglung kali ya mendengar ucapan Bu Herlambang, kok author jadi ngelantur gini ya ceritanya? Maafkan author ya mungkin efek dari kegabitan ini, hehehee)


"Mama ngomong apa sih, pagi-pagi kok udah ngaur!" ujar Pak Herlambang dengan melotot pada istrinya.


"Hehehe maaf Pa, habisnya Mama kaget aja dengan perubahan putrimu itu! Terasa seperti orang yang beda. Apa karna kepentok kepala nya ya Pa? makanya jadi beres gitu tingkahnya. Kalau kayak gini kenapa gak kepentok dari dulu-dulu aja dak pa?"


"Hussss sembarangan aja kamu kalau ngomong" jawab pak Herlambang menyubit pipi istrinya kesal.


"Amel! Sini nak!" teriak pak Herlambang memanggil Amel yang masih di dapur.


"Iya Pa, ini Amel lagi goreng kerupuk untuk teman nasi goreng" Amel menghampiri meja makan dengan setoples kerupuk ikan yang belum penuh.


"Udah..udah.. itu biar Bibik saja yang kerjakan! Ayo sekarang kita sarapan dulu, Papa jadi bingung mau mulai makan yang mana?" ucap pak Herlambang lagi sambil melihat-lihat menu yang ada di meja.


"Loh bukan nya Papa sudah mulai dari kolak, itu juga udah habis bersih di mangkok" ucap istrinya menyindir membuat pak Herlambang merona karna malu.


Suasana pagi ini di kediaman pak Herlambang benar-benar hangat penuh canda dan tawa yang tercipta.


Amel tersenyum melihat kedua orang tua nya tertawa dan bergurau seperti ini padanya, membuat hubungan mereka semakin akrab.


Amel suka saat-saat berkumpul dengan kedua orang tuanya tanpa kehadiran Zella, karna baginya Zella hanya lah pengacau yang diambil orang tuanya dan membuat ia menjadi di abaikan oleh keluarganya sendiri.