
Aku mengerjap-ngerjapkan mata ku di atas ranjang dan mengusap-ngusapkan wajahku yang kusut, aku melirik ke arah Rimba yang sedang tertidur lelap di sampingku. Lalu beralih melihat jam yang ada di dinding menunjukkan pukul 4 pagi.
Ahhhh rupanya hampir pagi, pantas saja mataku mulai terasa lelah. Semalaman berpikir tidak membuatku berhasil menemukan jalan keluar dari masalahku.
Aku memperbaiki letak selimutku dan mulai memejamkan mata untuk ikut terlelap menghilangkan rasa lelahku.
****
"Mas, boleh gak aku kerumah mama nanti?Aku bosan mas jika di rumah terus." Ucapku manja dengan jari-jariku yang bergerak lincah memasangkan dasi pada kerah kemejanya.
" Boleh sayang, kamu mau kerumah mama jam berapa?" Ia mencium keningku setelah aku selesai memasangkan dasi nya. Ini sudah menjadi rutinitas wajib ku setiap pagi.
Memasangkan dasinya lalu mendapatkan upah sebuah kecupan. Aisshhh.. Sususweet baget dah hidupku ini kan?.
"Nanti jam 10 aja mas, aku juga rindu masakan Mama jadi aku makan siang di sana saja sekalian" aku bersemangat saat membayangkan Mama memasak menu makanan kesukaanku. Hmmm pasti nikmat.
"Nanti kamu perginya bareng Pak Mamat aja, jangan bawa mobil sendiri! Mas gak mau nanti kamunya kenapa-kenapa. Ya udah, Mas berangkat dulu ya sayang"
"Iya, Mas." Aku meraih tangan Rimba yang sudah terulur di hadapanku, aku mencium punggung tangan nya lalu ia melangkah pergi.
Akhirnya aku tiba dirumah Mama tepat jam 1 siang. Karna jarak antara apartemen dan rumah orang tuaku cukup jauh dengan jarak tempuh sekitar 1 jam dan di sertai macet yang panjang.
"Sayang ayo cepat dimakan, pokoknya kamu harus makan yang banyak ya Nak. Biar kamu dan cucu Mama sehat, Hari ini Mama masak semua makanan kesukaan kamu" ucap mama bahagia yang disertai anggukan pelan dari Papa. Memang dari pagi aku sudah menelpon Mama dan memberitahukan tentang kedatanganku, itu sebabnya Mama masak begitu banyak makanan kesukaanku.
"Siap bos" ucapku dengan tangan kanan di pelipis seperti memberi hormat dan tersenyum. Papa hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat tinggkahku yang terkadang masih seperti anak kecil saat bersama mereka.
"Pa, Zella boleh bertanya sesuatu?" Ucapku yang mulai serius dan memikirkan dengan baik-baik kata-kata apa yang akan aku ucapkan agar tidak membuat orang tuaku bertambah sedih.
"Hmmm, orang suruhan Papa apa sudah ada ngasih kabar tentang Amel Pa? Ini sudah hampir 8 bulan ia menghilang" ujarku sedih dan menundukkan kepala berusaha menahan genangan air mata yang mau menetes, mengingat kembali tentang keadaan Amel yang ku lihat kemaren tanpa berani bercerita pada orang tuaku.
Papa diam sejenak dan menarik napas berat seolah ada beban berat yang sedang menghimpit hatinya. Jelas sekali gurat kebingungan dan perasaan sedih yang dalam dari pandangan matanya.
Tentu saja, orang tua mana yang tidak akan sedih saat salah satu anaknya hilang tak tahu dimana perginya.
"Zella, Papa sudah mencari adikmu kemana-mana, menelpon semua teman-temannya, bahkan Papa juga sudah membayar beberapa orang untuk mencarinya. Tapi tetap saja belum membuahkan hasil, seolah-olah Amel hilang di telan bumi" ujar pria tua di hadapanku dengan lemah dan sesekali mengusap wajah kusutnya. Jujur aku benar-benar tidak tega melihat laki-laki yang selalu melindungi ku ini harus sedih seperti ini.
Namun seketika pandanganku teralihkan dengan sikap dan expresi yang di tunjukkan oleh Mama. Seolah-olah berbanding terbalik, Mama begitu tenang dan netral seperti tidak terjadi apa-apa. Sebenarnya ada apa ini? semua, semuanya terasa ganjil di mataku. Mama adalah wanita berhati lemah lembut dan yang biasanya tampak sayang serta perhatian dengan Amel tapi kenapa sekarang terkesan cuek dengan hilangnya Amel.
Setelah selesai makan aku mencoba menghubungi kembali semua teman-teman Amel. Walaupun aku tahu, aku tidak dapat berharap banyak usahaku ini bisa membuahkan hasil.
"Tidak tahu kak"
"Ora ngerti"
"Maaf kak, kami sudah lama tidak ketemu"
Begitulah kira-kira jawaban mereka saat aku menanyakan keberadaan Amel pada teman-temannya.
Kutarik napas panjang mencoba tenang walau hati ini di liputi kebingungan. Bagaimana keadaannya? Apa kekasihnya meninggalkannya? Apa Amel malu untuk pulang? Kenapa Amel memakai pakaian lusuh dengan penampilan menyedihkan seperti kemaren siang?
Rasa takut menyeruak di dalam dadaku bagaimana jika dia di sakiti dan di sia-siakan oleh laki-laki yang di cintainya hingga Amel sanggup kabur dari rumah hanya untuk bersamanya.
Dari pada pikiran ku semakin gak tentram, kubaringkan tubuh ini di atas ranjang kamarku. Menatap langit-langit kamar yang banyak ku tempeli stiker kelap-kelip seperti bintang-bintang, hingga mata ini mulai terkatup dan terlelap.