Brondong Tengil

Brondong Tengil
Kisah Masa Lalu 4



"Semua itu hanya salah paham Yelsa, semua itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku tidak bermaksud seperti itu, kamu tidak mengerti!" jawab Herlambang.


"Apa yang tidak ku mengerti, hah!" Yelsa menerjang kursi didepannya dengan penuh amarah, air mata mulai jatuh satu persatu di pipinya. Herlambang hanya bisa diam menatap manik matanya yang penuh dengan penderitaan.


"Dulu aku begitu mencintaimu, aku mengenalmu lebih dulu dari pada dia. Tapi apa? Kamu selalu mengabaikan rasa cintaku itu, kamu lebih memilih Renata. Yah ... Aku aku Renata cantik, kaya dan memiliki latar belakang keluarga terpandang berbeda dengan aku yang hanya gadis miskin. Itu sebabnya kamu lebih memilih dia dan meminta di jodohkan dengannya! Saat aku mulai melupakan mu dan mulai lagi hidup baru, kalian datang lagi menghancurkan semuanya! Perusahaan, suami, serta hidupku! APA SEKARANG KAU PUAS MELIHAT HIDUPKU HANCUR SEPERTI INI HERLAMBANG! PUAS, HAH!" Yelsa berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Meluapkan segala sesak yang selalu menghimpit dadanya.


"Maaf, maafkan aku" hanya kata-kata itu yang dapat keluar dari mulut Herlambang. Ia tidak pernah mengira jika selama ini Yelsa tahu jika ia lah yang memaksa orang tuanya untuk menjodohkan ia pada istrinya itu. Ia juga tidak pernah menyangka jika ia sudah terlalu dalam menyakiti hati Yelsa. Tapi Herlambang tidak dapat berbuat apa-apa, sebaik dan semanis apapun sikap Yelsa padanya dulu, tidak dapat menumbuhkan sedikitpun rasa cinta di hatinya untuk wanita di hadapannya ini.


Berbeda dengan Renata, yang mampu membuat ia tergila-gila bahkan di pertemuan pertama mereka.


Yelsa tertawa sinis menatap herlambang.


"Kau pikir kata maaf mu bisa mengubah segalanya? Tidak Herlambang! Kalian harus membayar semua penderitaanku, anakmu juga harus merasakan menjadi yatim seperti yang dialami putriku!"


Yelsa mengeluarkan sebuah pistol yang ada di balik bajunya, menghadapkan nya tepat di kepala Herlambang. Herlambang terkejut, ia mencoba tenang dan memberi kode pada anak buahnya yang ada di dalam ruangan itu untuk tidak gegabah.


"Letakan pistol itu Yelsa! Apa kamu sadar apa yang sedang kamu lalukan?"


Dengan tenang Herlambang melangkah kan kakinya perlahan mendekat pada Yelsa. Membuat wanita itu mundur selangkah, dengan tangan yang gemetar dan tatapan mata yang tajam iya terus menodongkan pistol tersebut kearah Herlambang.


"Berhenti! Atau aku akan menekan pelatuk ini segera dan ku pastikan kamu tidak akan menemukan putrimu kembali!" Hardik Yelsa dengan cepat mengarahkan pistol itu ke kepalanya sendiri, membuat langkah Herlambang terhenti.


"Tidak, jangan lakukan itu Yelsa! Kita bisa bicarakan ini baik-baik," ujar Herlambang lembut berusaha membujuk. Yelsa menggelengkan kepalanya. Menurutnya, tidak ada lagi yang perlu di bicarakan lagi, semuanya sudah berakhir. Hidupnya hancur sehancur-hancurnya.


Di tengah kegelisahan hati Yelsa ia mendengar sayup-sayup suara bayi yang menangis. Salah satu anak buah Herlambang dengan sigap berjalan menuju arah suara itu yang diikuti oleh tatapan mata Yelsa.


Melihat Yelsa yang lengah, Herlambang langsung berusaha merebut pistol yang ada di tangan Yelsa dengan cepat. Tapi sayangnya Yelsa begitu waspada, ia memegang pistol itu dengan erat. Hingga terjadilah perebutan senjata api itu diantara mereka di tengah ruangan yang gelap gulita itu.


Dengan kuat Yelsa menggenggamnya hingga membuat Herlambang kewalahan.


Doorrrrrrr ....


Bunyi pistol dari platuk yang terlepas menggema di seluruh ruangan. Membuat semua yang ada di rumah itu menjadi terkejut. Mata Herlambang membulat dengan sempurna, napasnya seolah tercekat di tenggorokan. Untuk beberapa detik suasana bisu hanya ada tangis bayi yang masih menggema jauh, dalam hitungan detik Yelsa jatuh kelantai dengan bersimbah darah.


"Tidak! Lepaskan aku, aku membencimu! Aku membenci kalian se-semua!" dengan nafas tersengal-sengal serta sisa tenaga yang ada Yelsa masih berusaha memberontak, melepaskan rangkulan tangan Herlambang dari tubuhnya.


"Yelsa diamlah, kau boleh memukulku atau mencaci Makai aku! Tapi biarkan aku menolongku, lukamu mengeluarkan banyak darah Yelsa. Kamu harus cepat di bawa kerumah sakit!" ucap Herlambang khawatir.


Yelsa justru tersenyum menyeringai,via menatap manik mata Herlambang dalam.


"Andai saja kamu bisa menerima cintaku dengan tulus Herlambang, mungkin hidup kita tidak akan serumit ini. Se-semua i-ni karna salah-mu... Ini se-mua sa-lahmu!" jari telunjuk Yelsa menunjuk-nunjuk dada Herlambang dengan napas yang terputus-putus. Membuat Herlambang semakin panik.


Ia memerintahkan anak buahnya membawa Yelsa kerumah sakit, tapi Yelsa menolak.


"Yelsa, dimana putriku? Cepat katakan dimana putriku?" tanya Herlambang, ia tidak mau menunggu melihat kondisi Yelsa yang semakin kritis.


"Ada di dalam, ia sedang menangis" dengan suara bergetar Yelsa menunjuk seorang bocah di dalam gendongan anak buah Herlambang sambil tersenyum sambil meringis menahan sakit di dadanya. Napas nya semakin sesak membuat ia semakin sudah bernafas.


"Dia.. dia put-ri mu, anggap saja ia putri-mu! Kau bertanggung Jawab atas hidupnya. Karna kau ia- ia menjadi yatim piatu di usia sekecil itu. Kau-kau a-ayah nya arrkkkkk...." Napas Yelsa terhenti, tangannya terkulai lemah di tanah.


"Tidak, bangun Yelsa! Kamu tidak boleh mati sebelum memberi tahu aku dimana putriku. Cepat bangun, dimana putriku. Aku janji akan menganggap anakmu sebagai putriku sendiri, akan ku perlakukan ia dengan baik, tapi tolong beri tahu aku dimana putriku. Cepat bangun Yelsa! CEPAT BANGUN!"


Teriak Herlambang sambil mengguncang-guncang tubuh Yelsa yang sudah tidak bernyawa lagi.


Untuk pertama kalinya ia menangis, ia menangisi kepergian Yelsa dengan segala rasa bersalah yang memenuhi hatinya.


Ia tidak menyangka Yelsa akan pergi seperti ini, ia pergi tanpa memberi tahu dirinya dimana putri kecilnya berada. Dimana cinatanya berada.


Arrrkkkkkkkk....


Herlambang berteriak dengan keras meluapkan segala rasa sesak yang membuat ia sulit bernafas.


FLASHBACK END