Brondong Tengil

Brondong Tengil
Menikahlah denganku!



Amel membenahi kamar serta ranjang yang menjadi saksi bisu atas kegiatan yang mereka lakukan semalaman. Saat Amel ingin mengganti seprai tidak sengaja ia menemukan sebuah benda kecil yang tergeletak di bawah bantal.


Apa ini? Ini sepertinya sudah di gunakan tetapi kenapa kondisinya masih bersih?


CKLEKK


Amel cepat-cepat menyimpan benda itu ke dalam saku bajunya saat Aldi keluar dari kamar mandi, lalu menyelesaikan kegiatannya mengganti seprai tempat tidur itu sambil menunggu Aldi yang sedang berganti pakaian.


"Honey, kamu kenapa? Tatapan matamu horor banget." Aldi bingung melihat Amel yang sedang duduk santai di atas ranjang tapi tatapannya seperti mau menerkam orang.


"Al! Jawab aku yang jujur, kamu semalam menggunakan pengaman apa tidak?"


Aldi terkejut mendengar pertanyaan Amel padanya, tetapi dengan cepat ia menetralkan raut wajahnya di hadapan Amel.


"Tentu saja Honey, bukannya kamu sendiri yang selalu mengingatkanku. Memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Lalu ini apa Al?" Amel menunjukkan sesuatu dari sakunya yang ia dapat di bawah bantal tadi.


"Kond*m" jawab Aldi polos.


(atau mungkin sok polos kali ya hahaha)


Amel berdiri dari duduknya dengan mata sedikit mendelik.


Amel benar-benar kesal mendengar jawaban Aldi yang singkat tetapi sukses memancing emosinya pagi menjelang siang hari ini.


"Bukan itu yang aku maksud Al, kamu lihat ini! Ini sepertinya sudah di pakai tapi kenapa kondisinya masih bersih."


"Oh.. karna memang aku copot tadi malam Honey." Aldi membaringkan tubuh nya keatas ranjang dengan tangan terlentang. Ia tidak memperdulikan bagai mana reaksi Amel saat ini yang mendengar jawabannya barusan.


"Apa kamu gila Al! Berarti tadi malam kamu-kamu...?" Amel menggigit jari telunjuknya karna khawatir dengan apa yang ada dalam fikirannya saat ini.


"Bukan hanya tadi malam sayang, tapi sudah beberapa malam dalam bulan ini"


"Aldi! Apa kamu gila! Aku bisa hamil" Amel berteriak histeris.


"Memangnya kenapa kalau kamu hamil?" Aldi menolehkan wajahnya kearah Amel tapi masih dengan posisi yang sama.


"Ka-kamu gila, ini tidak sesuai perjanjian kita. Aku gak mau hamil Al, aku gak mau!" Amel terduduk lesu di atas ranjang di samping Aldi. Aldi menarik pinggul gadisnya hingga wanita itu berbaring di atas tubuhnya.


Aldi tersenyum melihat wajah wanita yang berada diatasnya ini yang masih tampak sangat kesal.


"Menikahlah denganku Honey!" Amel terkesiap dan nafasnya seolah-olah terhenti mendengar ucapan Aldi, ia menatap mata Aldi dalam mencari keseriusan dari tatapan matanya.


"Kamu tahu honey, saat aku pertama kali melihat kakak mu itu dalam kondisi perut yang sedang membuncit membuat aku membayangkan jika itu adalah kamu.


Mata Amel membola seperti mau keluar dari tempatnya mendengar penuturan Aldi.


Aldi lagi-lagi tersenyum dengan expresi yang ditampilkan Amel. Aldi mengeratkan lagi pelukannya di pinggul Amel, membuat Amel benar-benar risih dengan posisinya saat ini.


"Jangan melotot seperti itu, membuatku jadi ingin memakanmu lagi!" Aldi menyeringai nakal.


"Al, lepasin aku sekarang!" Amel benar-benar marah saat ini pada Aldi.


"Aku tahu hubungan kita bagimu tidak lebih dari sebuah kesepakatan, kesepakatan untuk membantumu membalaskan dendam mu dan aku mendapatkan tubuhmu.


Tapi apa kamu tahu Amel? Hubungan yang awalnya ku anggap hanya sebuah hiburan ini berubah menjadi sebuah keinginan."


Aldi menatap mata Amel dalam membuat Amel terdiam. Selama hubungan mereka Aldi tidak pernah memanggil namanya secara langsung kecuali hari ini.


"Yahh..keinginan untuk memilikimu sepenuhnya, melihatmu dengan perut buncit mengandung anakku seperti Zella hahahha" ujar Aldi lagi dengan tertawa pelan.


Amel memijit pangkal hidungnya, Amel tidak pernah menyangka Aldi akan mengatakan itu padanya. Aldi yang ia kenal tidak pernah serius dengan sebuah hubungan tapi hari ini mengatakan hal yang membuat kepalanya semakin pusing.


"Al, semuanya sudah kita bicarakan sejak awal! Aku tidak mau adanya hubungan yang lebih dari kesepakatan kita.


Sekarang lepaskan aku, aku mau pulang." Aldi melepaskan pelukannya dari tubuh Amel, dan wanita itu pergi keluar dengan wajah yang tidak dapat di baca oleh Aldi.


Aldi mengangkat tubuhnya menyenderkan punggungnya di sandaran tempat tidur.


Ia mengusap wajahnya kasar, ia tahu apa yang ia ucapkan tadi telah membuat wanitanya marah.


Tapi ia tidak akan berhenti, ia kan membuat wanitanya menjadi ibu dari anak-anaknya, dan memaksa Amel pulang ke Inggris bersamanya.


Membangun keluarga kecil mereka di sana jauh dari keluarga yang tidak mengharapkan nya dan memang bukan keluarganya.


Yah.. Aldi memang sudah mengetahui semuanya, terlepas memdengar dari cerita-cerita Amel, ternyata Aldi juga membayar orang untuk menggorek informasi tentang keluarga Herlambang.


Dari orang suruhannya lah Aldi mengetahui semuanya.


Status Amel dan siapa keluarga Amel sebenarnya, bagaimana Amel bisa hadir di keluarga Herlambang.


Hingga Aldi memutuskan untuk membawa Amel kembali ke Inggris adalah jalan terbaik, sebelum semuanya semakin rumit.


Aldi hanya ingin melindungi wanita nya dari kebodohan yang akan ia lakukan, dari dendam yang berasal dari sebuah kesalah pahaman semata.


Seumur hidupnya Aldi tidak pernah merasakan semua ini.


Sekarang Aldi benar-benar mengerti bagaimana rasanya takut, ia takut wanitanya terluka lebih dalam lagi.