
Senyum bahagia tak henti-hentinya terukir di bibir Rimba, pria itu menatap bayi mungil yang ada di pangkuannya. Rimba tak dapat melukiskan beribu rasa yang ia rasakan saat ini.
Rasanya baru kemarin ia menikah dengan wanita yang sejak dulu ia cintai, dan sekarang buah cinta itu sudah ada di dalam pelukannya.
Rimba menikmati jari telunjuknya yang di genggam erat oleh putranya.
Aydan Atthallah nama yang Rimba sematkan untuk malaikat kecilnya itu, sebagai bentuk rasa syukurnya yang paling dalam atas kehadirannya di tengah-tengah mereka.
"Udah dong, Mas! Jangan di gangguin terus Aydan nya. Biarkan dia tidur nyenyak di dalam box bayi itu," ucap Zella pada suaminya.
Rimba tersenyum, lalu menuruti keingan istrinya untuk meletakkan putra mereka ke dalam box yang ada di sebalah ranjang istrinya itu. Setelah itu mengecup kening istrinya lembut.
"Terima kasih, sayang,"
Zella mengerutkan dahinya karna bingung.
"Terima kasih untuk?"
Rimba mencium istrinya kembali, "Terima kasih untuk kado malaikat kecil yang sedang tidur itu," Zella kembali tersenyum, sungguh manis sekali perlakuan Rimba pada istrinya ini.
Rimba menarik nafasnya sejenak, menyusun kata-kata yang ingin ia sampainya. Ia tidak mungkin merahasiakan kabar duka itu dari Zella lama-lama, tapi ia bingung harus memulai cerita dari mana.
"Kenapa, Mas?" Zella melihat kegundahan di wajah suaminya yang tidak dapat suaminya sembunyikan darinya dengan baik.
"Hmmm,"
"Ada apa, Mas? Cepat katakan!" Desak Zella mulai tidak sabaran. Rimba menghela napas panjang. Menarik kursinya mendekat ke ranjang Zella.
"Sayang, kamu yang sabar ya! Tuhan pasti punya rencana yang baik atas semua kejadian ini. Aku harap kamu tegar menghadapinya!" ujar Rimba yang membuat Zella semakin bingung. Rimba terlalu berbelit-belit.
"Maksudnya apa sih, Mas? Kamu bikin aku tambah bingung, memangnya ada masalah apa, sampai-sampai kamu menyuruh aku harus tegar segala?"
"Papa meninggal dunia, Zel!"
Jedarrrrrrrr!
"Papa meniggal dunia, Zel!" Kalimat itu berputar berulang-ulang seperti kaset rusak di kepala Zella. Zella diam mematung dengan Air mata yang terus meluncur begitu saja tanpa dapat ia kontrol.
"Menangis lah jika ingin menangis, jangan di tahan!" ujar Rimba.
"Pa-Papa, bagaimana bisa Papa meninggal Mas? Apa Papa sakit?" Rimba melepaskan pelukannya dan menghela nafas berat.
"Tidak, Papa tidak sakit. Beliau kecelakaan, mobil yang ia kendarai menabrak mobil dari arah yang berlawanan. Sudah lah Zel, semua sudah takdir. Nanti jika kamu sudah sembuh, Mas akan membawa kamu ke makam Papa."
"Tapi Mas, a-ku ... a-aku," Zella kembali menangis pilu.
Disaat ia berbahagia atas kelahiran putranya ia justru harus mendapati kenyataan bahwa Papa yang sangat ia kasihi telah tiada. Zella mengusap air matanya saat ia teringat akan seseorang.
"Mas, bagaimana keadaan Mama? Aku yakin Mama pasti sangat terpukul sekarang. Aku ingin ketemu Mama, Mas! Bawa aku pulang ya." ujar Zella memohon. Rimba hanya bisa pasrah, menuruti apa yang di inginkan oleh istrinya. Asalkan dengan catatan dokter mengizinkan, dan kesehatan anak serta istrinya baik-baik saja.
Di lain tempat Aldi sedang menatap wanita yang sedang memakan potongan buah yang ia berikan.
Berbeda dari Rimba yang memberitahukan kabar duka itu pada Zella, Aldi justru menyembunyikan kabar itu dari Amel. Ia memiliki caranya tersendiri melindungi wanita dan calon bayinya itu.
"Al, kamu kenapa? Sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan?" Amel tersenyum lembut, dan menggenggam jemari Aldi.
"Tidak, aku hanya sedang memikirkan kamu dan calon anak kita," Amel terdiam. Ia merasa bersalah dengan apa yang telah ia lakukan, Amel tidak menyadari jika saat itu dirinya sedang mengandung. Beruntung bayinya kuat jika tidak? Ia tidak tahu bagaimana cara menghadapi kemarahan Aldi nantinya.
"Sudah, jangan dipikirkan. Yang penting sekarang kalian baik-baik saja!" Aldi kembali memberikan potongan buah itu kemulut Amel.
"Aku mau saat kamu sehat nanti, kita pulang ke Inggris. Kita bangun keluarga kecil kita di sana. Lupakan semua masa lalu itu, Amel! Lupakan semua dendam kamu. Aku mohon!" ujar Aldi penuh harap.
Amel menitikkan air mata. Ia baru sadar betapa konyolnya ia dulu, begitu arogan dan temprental. Entah apa yang merasukinya dulu, sehingga begitu membenci tanpa mencari tahu terlebih dahulu duduk permasalahannya. Dan sekarang ia menyesal! Sangat menyesal!
Bahkan ia merasa malu pada dirinya sendiri.
Setelah berpikir cukup lama akhirnya Amel menghela nafas dan menatap mata Aldi dalam.
"Baik, lah! Aku akan ikut kemanapun yang kamu mau. Maaf telah membuat kamu khawatir, Al! Maaf," Aldi memeluk Amel karna senang.
"Tentu, kita mulai semuanya dari awal. Ok,"
"Ok, Papa Aldi!" jawab Amel dengan nada suara menirukan suara anak-anak, Aldi tertawa. Mereka tertawa bersama menyambut kebahagian yang sedang mereka rajut bersama.