
Amel duduk di atas ranjang dan mengedarkan pandangannya ke berbagai arah, ruangan yang dominan warna pink dan peach serta berbagai funicure yang berbentuk hellokitty meninggalkan kesan yang kuat bahwa pemilik kamar ini sangat feminim dan girly.
Amel tersenyum melihat Kamar ini tidak ada yang berubah sejak ditinggalkannya selama beberapa bulan terakhir.
Amel bangkit dari duduknya dan beranjak menghampiri sebuah figura kecil yang sejak tadi mencuri pandangan matanya sedang tersusun manis di atas meja riasnya.
Tangan Amel terulur meraih figura yang berisikan foto 2 orang gadis kecil, di foto itu tampak salah satu gadis kecil yang berbadan lebih besar sedang memeluk gadis satu lagi yang berbadan lebih kecil dengan sayang, sedang kan gadis yang lebih kecil cemberut seolah-olah tidak suka dengan perlakuan gadis di sebelahnya.
Melihat foto tersebut Amel merasa begitu marah, ntah ia marah pada siapa.
"Sepertinya hidupmu benar-benar bahagia ya kak, tanpa kehadiran aku? Bahkan sekarang kau sedang berbahagia mengandung anak dari laki-laki yang ku cintai!" ujar Amel bermanolog sendiri terhadap foto yang ada di tangannya.
"Kau tahu kak! sejak kecil aku sangat membencimu, aku benci saat kau bersikap seperti bidadari di mata Mama dan Papa.
Aku benci saat kau mendapatkan semua yang aku inginkan!
Dulu kehadiran mu merebut perhatian Mama dan Papa dariku, sekarang kau merebut laki-laki yang kuinginkan! Aku bersumpah kak, aku tidak akan membiarkan mu bahagia!" ujar Amel lagi-lagi pada foto yang ada di tangannya.
Amel masih menatap foto itu tajam, ia tidak habis pikir dan bertanya-tanya di dalam hatinya, apa yang dimiliki Zella tapi tidak ia miliki? sehingga semua orang lebih memilih Zella dari pada dia.
"Kenapa semua orang lebih menyayangimu dari pada aku kak? Termasuk Rimba! kenapa dia lebih memilihmu serta mencintaimu dari dulu ketimbang aku?
Aku juga cantik sama sepertimu bahkan aku lebih modis dan sexsi! Tapi kenapa hanya Zella... Zella...dan Zella yang ada di hatinya hahh!"
Teriak Amel marah sambil membanting figura yang ada di tangannya kelantai dengan air mata yang mulai membasahi pipi karna kecewa dan rambutnya yang mulai acak-acakan.
Yang Amel tahu sejak kecil Mama dan Papanya lebih mengutamakan kepentingan Zella dari pada dia, membuat hatinya mulai menyimpan rasa iri dan selalu berusaha merebut apa yang dimiliki Amel.
Saat Amel mulai beranjak dewasa, ia mulai menyukai seorang pria yang akan di jodohkan olehnya. Tentu saja, siapa yang tidak menyukai Rimba postur tubuh yang Atletis tinggi, putih dan wajah yang tampan yang dimilikinya bisa membuat siapa saja menginginkannya. Serta yang tidak kalah mengiurkan bagi Amel adalah harta yang di milikinya cukup membuat ia bermandikan kemewahan.
Yahh Amel sangat bahagia kala ia tahu ia akan di jodohkan oleh laki-laki yang ia kagumi sejak dulu, saat itu Amel pikir ia akan menjadi wanita yang beruntung memiliki suami tampan dan kaya raya. Tapi, lagi-lagi ia harus sakit hati karna cinta nya bertepuk sebelah kanan karna Zella.
"Kau tahu kak, apa yang sudah dilakukan suami tercintamu kepadaku hingga kau bisa menyandang status nyonya muda Atmaja, yang seharusnya menjadi milikku" ucap Amel pelan dengan seringai yang mengerikan.
Fikirannya mulai mengenang kejadian yang ia alami beberapa bulan yang lalu tepatnya saat sebelum acara pernikahan itu terjadi.
*FLASHBACK*
Seorang gadis terbangun di atas sebuah ranjang dengan tangan yang terikat di belakang. Gadis itu bangkit dari tidurnya lalu menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang karna merasakan kepalanya masih benar-benar pusing.
Ia melihat kesekeliling ruangan terasa asing olehnya, ia sangat yakin ini bukanlah kamarnya. Ia benar-benar bingung denah apa yang terjadi dengannya saat ini karna seingat nya ia sedang tidur nyanyak di kamarnya malam itu.
"Anda sudah bangun nona?" Ucap salah seorang pria yang berbadan putih dan tinggi tegap dengan expresi datar.
"Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan padaku, cepat lepaskan aku!" Teriak Amel pada kedua pria yang ada di hadapannya itu.
" Tenanglah nona, anda tidak perlu khawatir kami pasti akan melepaskan anda setelah semuanya beres." Jawab pria yang satu lagi.
"Berani-beraninya kalian! Siapa yang menyuruh kalian menculik ku? cepat lepaskan aku!" Teriak Amel lagi sambil berusaha melepaskan ikatan tanganku yang ada di belakang punggungku.
Ceklekkk...
Bunyi hendel pintu di tekan lalu pintu terbuka. Amel menoleh kan wajahnya kearah pintu untuk melihat siapa gerangan orang yang datang.
"Rimba!" Teriak Amel tercekat karna terkejut dengan kehadiran dua orang pria, yang salah satunya adalah sosok yang ia kenal telah berdiri di depan pintu.
Rimba masuk kedalam kamar yang di pakai untuk menyekap Amel.
Untuk sejenak Amel terpaku melihat tampilan Rimba yang sudah rapi dan tampan di balik balutan baju pengantin yang ia kenakan.
"Apa kamu sudah puas memandang ketampanan ku" ujar Rimba narsis yang membuyarkan lamunan Amel yang sedang mengagumi dirinya.
"Apa-apaan ini kak? kenapa aku di ikat seperti ini?"
"Husssss jangan teriak-teriak kita tidak sedang berada di hutan" jawab Rimba sinis terhadap Amel.
"Lepaskan aku!" Amel masih berteriak di hadapan rimba.
"Tentu, aku pasti melepaskan kamu. Tapi nanti, setelah pernikahan ku selesai!!" ujar Rimba Masi dengan nada santai nya.
"Pernikahan? bagaimana mungkin terjadi pernikahan jika aku masih disini" Amel masih meronta-ronta melepaskan ikatan tali yang mengikatnya.
"*J*angan terlalu meninggikan diri nona, lagi pula siapa yang mau menikahi gadis sepertimu" ujar Rimba pada Amel dengan sinis.
Amel menaikkan salah satu alisnya mencoba mencerna dari perkataan Rimba barusan, jika tidak menikah dengannya lalu Rimba menikah dengan siapa?
"Zella! jangan bilang jika kamu akan menikahi Zella?."
"Iya, betul sekali. Aku akan menikahi wanita yang kucintai" jawab Rimba dengan senyum bahagia.
"Kenapa ini kau lakukan padaku? seharusnya kakak menikah denganku bukan dengan kak Zella! Aku yang mencintaimu bukan kak Zella!"
"Cinta? hahahahha" tawa Rimba menggema memenuhi ruangan kamar itu.
"Kau pikir aku bodoh Amel, kau tidak mencintaiku! kau hanya mencintai hartaku.
Lagi pula aku tidak Sudi menerima barang bekas orang banyak sepertimu perempuan jal*ng!" Rimba mencengkram rambut panjang Amel dengan kuat membuat Amel meringis kesakitan.
"Dari awal aku sudah meminta dengan baik-baik padamu untuk mundur dari perjodohan ini, tapi kau terlalu serakah Amel.
Kau pikir aku tidak tahu jika kau yang telah menghasut Zella dan menceritakan hal-hal yang buruk tentangku padanya agar ia membenciku. hahhh.... kau pikir aku bodoh Amel!"
Ucap Rimba sekali lagi sambil berteriak di hadapan Amel dan mengencangkan genggaman tangannya di rambut Amel sehingga kepala Amel mendongak keatas dan meringis menahan sakit di kulit kepalanya.
"Ma-maafkan aku, aku melakukan itu karna aku tidak mau kamu menikahi kak Zella, ahhhhh ini sakit kak, tolong lepasin rambutku" ucap Amel memohon dengan air mata yang membanjiri pipinya. Ia benar-benar ketakutan saat ini, Rimba di hadapannya tidak seperti Rimba yang ia kenal. Sangat menakutkan!
Rimba melepaskan tangan nya dari rambut Amel secara kasar dan melirik arloji yang melingkar di lengan kirinya, ia tersenyum melihat jarum jam yang menunjukkan angka sembilan.
"Sepertinya waktu untuk bersenang-senang kita sudah habis, aku harus pergi menemui istriku" ucap Rimba dengan senyum bahagia.
"Istrimu? kau terlalu percaya diri tuan. Ia tidak akan mau menikah denganmu!" jawab Amel sambil terkekeh geli mendengar perkataan Rimba barusan.
"Kau salah! Akan ku pastikan dia menjadi istriku" ucap Rimba lagi pada Amel dengan geram.
"Tuan, sebaiknya anda pergi sekarang. Sebentar lagi acara akan di mulai. Masalah nona Amel biar saya yang urus" ucap Ben pada Rimba.
"Lalu bagaimana dengan keluarganya?" Rimba menatap Ben datar.
"Jangan khawatir tuan selama ini saya sudah menyusun drama nona Amel mempunyai lelaki lain yang dicintainya, jadi kepergian nona Amel kali ini akan dianggap kabur dengan kekasihnya karna menolak perjodohan ini" jawab Ben pada Rimba dengan yakin membuat Rimba semakin bahagia mendengarnya.
"Bagus Ben, kerja bagus! hahahhaha.
Aku mau kamu bawa perempuan ular ini sejauh mungkin dari kehidupanku. Tapi ingat jangan sakiti dia aku tidak mau suatu saat Zella membenciku lagi karna dia" jari Rimba menunjuk wajah Amel denga tatapan tajam.
Sedangkan Amel terkejut mendengarkan perkataan Rimba barusan, ia memikirkan nasibnya. Apa yang akan mereka lakukan padanya nanti?
"Baik tuan, jangan khawatir" ujar Ben lagi sambil menunduk patuh. Rimba tersenyum puas mendengar jawaban asisten nya dan melangkahkan kaki keluar kamar lalu pergi ke kediaman keluarga Herlambang untuk menikahi pujaan hatinya. Membayangkan nya saja sudah membuat Rimba bahagia.
*FLASHBACK END*