Brondong Tengil

Brondong Tengil
Pilih kasih



"Apa? Iya kami akan segera kesana" seru Bu Herlambang dengan kaget mendengar kabar tentang putri kesayangannya yang masuk kerumah sakit.


"Ada apa Ma? Kok Mama cemas gitu?" tanya pak Herlambang bingung melihat suara istrinya yang sedikit panik.


"Zella Pa, Zella masuk rumah sakit" jawab Bu Herlambang pada suaminya.


"Kita harus ke rumah sakit sekarang Pa, Mama mau lihat keadaan Zella. Semoga dia dan calon bayinya baik-baik saja." Ucap Bu Herlambang lagi sambil menenteng tas yang ada di meja lalu bergegas pergi.


"Tapi Ma, bukannya Mama udah janji mau temanin aku control ke dokter" Amel menarik ujung baju Bu Herlambang seperti anak kecil yang sedang merajuk saat Bu Herlambang baru berjalan beberapa langkah.


"Sayang maafkan Mama ya, tapi keadaan Kakakmu sekarang benar-benar darurat, nanti Mama hubungi dokter Andi lagi ya untuk mengatur ulang jadwal control kamu."


"Tapi Ma, kata dokter Andi kemaren Amel harus control tepat waktu" Amel menatap wajah Mamanya sendu.


"Ya udah kalau gitu kamu control nya di antar sama pak Mamad sama Bibi aja dulu ya nak, Mama harap Amel bisa mengerti ya sayang.


Gak apa-apa ya nak?"


Bu Herlambang membelai lembut puncak kepala Amel dan mencoba meminta pengertian dari putrinya. Bu herlambang dan suaminya melangkah pergi meninggalkan Amel yang masih tetap diam tanpa suara.


Amel masih diam dan terpaku memandang ke arah punggung orang tuanya yang sudah menghilang, di dalam hati kecil Amel ia sangat sedih. Lagi-lagi orang tuanya mengabaikannya saat sesuatu yang berhubungan dengan Zella.


Adegan seperti ini benar-benar tidak asing lagi bagi Amel.


Sejak kecil ia merasa seperti di nomor duakan oleh orang tuanya, ini Zella... itu Zella... semua hal pada akhirnya menjadi untuk Zella.


"Sabar non, nanti non Amel bibi yang temani ya" ucap Bi Asih yang sukses membuat air mata sukses mengalir di pipi, yang memang sejak tadi ia tahan.


Karna iba Bi Asih merangkul Amel untuk masuk ke dalam kamarnya.


****


Clekkk


"Mama! Papa!" ucap Zella kaget saat pintu kamar rawat inap nya terbuka menampilkan sosok Mama dan Papa nya yang masuk dengan nafas yang sedang terengah-engah seperti habis lari estafet saja.


Zella menoleh sedikit ke arah Rimba dan menatap matanya seolah bertanya apakah Rimba yang mengabari orangtua nya jika ia masuk kerumah sakit ini.


"Zella, kamu tidak apa-apa nak? Kok bisa sampai masuk rumah sakit?" tanya Mamanya dengan sangat khawatir.


"Zella tidak apa-apa kok Ma, Zella cuma kram biasa aja. Mas Rimba aja yang heboh" ujar Zella dengan mata sedikit mendelik pada Rimba karna tidak suka ia mengabari orang tuanya.


"Ini akibat Zella tidak sadar kondisi Ma, udah tahu hamil tapi masih saja pecicilan hingga kelelahan. Akhirnya gini kan, untung ia dan bayi di kandungannya baik-baik saja" Rimba melapor pada mertuanya akan tingkah istrinya yang sudah diatur dan pecicilan.


"Mama rasa sebaiknya kalian pindah kerumah Mama dan Papa saja dulu deh. Sampai Zella melahirkan biar Mama dan Bibi bisa mudah kami mengawasinya."


"Tapi Ma apa tidak sebaiknya kami tinggal di apartemen saja" seru Rimba mencoba menolak ajakan mertuanya. Karena Rimba merasa akan lebih berbahaya jika Zella berada dekat-dekat dengan Adiknya itu.


"Iya mas, Zella setuju pindah ke rumah Mama, boleh ya mas kalau di rumah Mama kan rame aku jadi punya teman biar gak sepi"


"Tapi sayang!"


"Ayolah Mas, aku merasa sendirian kalau di apartemen" ucap Zella memohon.


"Baiklah" Rimba mendesah pelan karena ia sulit untuk menolak jika istrinya sudah memohon seperti itu. Zella tersenyum bahagia mendengar persetujuan Rimba untuk pindah sementara waktu di rumah Mamanya.


"Oh ya sayang, tadi Mama dan Papa beli makanan kesukaanmu. Zella pasti laparkan?" Bu Herlambang menggambil sekotak makanan yang ia letakkan tadi di atas nakas samping ranjang Zella.


"Nah ini untuk Rimba dan Papa, kamu makan dulu sana ya nak. Mama lihat sekarang kamu agak kurusan" ujar Bu Herlambang pada menantu nya sambil menyerahkan dua kotak makanan lagi yang ada di tangannya.


"Nggak kok Ma, itu cuma perasaan Mama aja mungkin hehehe. Tapi sepertinya bau makanan ini enak, terima kasih ya Ma." Rimba menerima kotak yang di berikan mertuanya dan membawanya menuju sofa lalu menikmati makanan tersebut dengan Papa mertuanya.


"Loh, Ma Amel mana?" tanya Zella saat baru menyadari ketidak hadiran adiknya.


"Amel ada di rumah, pokok nya kamu sama Mama aja sampai melahirkan ya sayang. Sekarang cepat Zella habiskan makanannya biar cucu Mama tetap sehat"


Bu Herlambang mengusap kepala Zella dengan sayang. Zella hanya tersenyum dan mengangguk menyetujui keinginan Mamanya untuk pindah yang memang keinginan nya juga, sambil menghabiskan makanannya yang terasa nikmat di mulutnya.


Jika Zella berbincang dan bermanja dengan Mamanya, sedangkan pak Herlambang hanya duduk di sofa berbincang bersama Rimba.


Hingga senja pergi dari peraduan berganti dengan gelap nya sang malam.