
Sudah satu Minggu sejak kejadian itu mas Dion tidak menemui dan menghubungiku.
Aku hanya khawatir saja terjadi sesuatu dengan dirinya.
Jangan kalian tanya bagaimana hubunganku dengan Rimba selama 1 Minggu ini. Yang pastinya sejak pengakuan cintaku padanya membuat dia begitu manja dan selalu tersenyum. Seperti pagi ini dia tiba-tiba memelukku dari belakang saat aku sedang membuatkan makanan untuk sarapan kami.
"Sayang.. lepasin! gimana aku mau masak kalau kamu meluk erat kayak gini?" aku mencoba melepaskan tangan kekarnya yang melingkar erat di pinggangku.
"Please... biarkan seperti ini dulu, aku sangat suka saat kamu memanggilku dengan sebutan sayang seperti itu." ujarnya sambil mengendus leherku membuatku geli.
"Udah dong sayang, hari udah mau siang ini! kamu mandi gih... lalu kita sarapan, lalu kerumah mama. Ayo cepat sana!" aku mendorong tubuh Rimba agar dia pergi kekamar mandi untuk bersiap-siap terlebih dahulu.
Weekend kali ini Rimba mengajakku mengunjungi rumah orang tuanya, karna Mama Wulan meminta kami untuk datang berkunjung. Memang sudah lama aku tidak menemui mertuaku itu. Bahkan, aku sudah lupa kapan kali terakhir aku berkunjung ke sana.
****************
Selama menuju perjalanan aku dan Rimba memang memilih banyak diam di mobil. Kami memilih sama-sama bungkam ketimbang berbicara. Tapi... tetap ada yang berbeda dari suamiku kali ini. Yaitu, senyum yang selalu terukis di bibir pria itu. Ntah kenapa di mataku hari ini pria di hadapanku itu begitu tampan. Ahhhhh... apa karna pengaruh cinta ya...? aku hanya bisa tersenyum denga jalan pikiran ku sendiri.
Sesampai nya di rumah keluarga Kusuma, aku di sambut hangat.
Setelah acara makan siang bersama, aku menemani Mama Wulan di taman belakang merawat bunga-bunga kesanyangan nya. Mama Wulan memang seorang wanita yang sangat suka dengan bunga, ada banyak aneka bunga yang ia tanam di taman di sekeliling rumah ini. Bogenviel, mawar, anggrek, Lily, anyelir dan beberapa jenis bunga lagi yang aku tidak tahu namanya. Berada di rumah kaca yang ada di taman ini.
"Zella... terima kasih karna kamu sudah mau menerima Rimba sebagai suami mu. Mama sangat senang melihat Rimba tersenyum ceria seperti ini" ujar mama Wulan bahagia menatap putra semata wayang nya yang sedang bercengkrama hangat bersama suami nya di sofa teras.
Mama Wulan merasa seolah-olah ia melihat sosok baru pada diri putranya, tidak seperti Rimba yang dulu ia kenal dingin dan kaku apa lagi tersenyum? seperti mustahil untuk di bayangkan oleh nya sejak Peristiwa itu terjadi. Tapi kini putranya telah kembali, kembali seperti Rimba 15 tahun yang lalu berkat Zella. Itu sebabnya ia begitu menyayangi Zella.
"Mama gak perlu berterima kasih sama Zella. Justru Zella yang harusnya berterima kasih sama Mama karna telah melahirkan laki-laki baik seperti Rimba" aku tersenyum menatap wajah Mama.
"Zella... boleh Mama mengatasesuatukan nak?"
"Hmm.. gini nak, menurut Mama ada baiknya kamu memanggil suami mu dengan sebutan lain seperti Mas, kakak atau yang lainnya. Jangan hanya nama seperti biasanya. Memang secara umur Rimba lebih muda dari kamu sehingga, mungkin membuatmu canggung untuk memanggilnya seperti itu. Tapi, walau bagaimanapun dia tetap suami mu sayang... cobalah untuk membiasakan diri. Mama yakin dia pasti senang jika kamu mau mengubahnya, karna dia sangat mencintaimu dari dulu!"
Hati ku cukup tersentil dengan apa yang di sampaikan oleh Mama barusan. Walaupun aku tahu Mama mengucapkan nya dengan sangat hati-hati. Ahhhhh ...mungkin apa yang di katakan Mama memang benar, aku harus mencoba membiasakan diri.
"Maaf Ma.. Zella akan mencobanya" aku hanya bisa menunduk malu di hadapan Mama Wulan. Beliau tersenyum hangat padaku dan membelai rambutku sayang seperti aku adalah putri kandungnya. Membuat hati ini benar-benar bersyukur memiliki ibu mertua sepertinya.
****
Sudah hampir satu jam aku duduk di kursi ayunan ini sendiri memikirkan apa yang di katakan Mama Wulan tadi. Tapi.? Dari dulu?
Apa madsut Mama bilang Rimba mencintaiku dari dulu?
"Sayang... ayo masuk! Kenapa kamu hanya bengong di sini sendiri zell?" aku melihat wajah lelaki ini menatapku khawatir.
"Mas... ayo kita pulang hari sudah sore, dan aku juga aku ngerasa gak enak badan"
Rimba terpaku sesejak mencerna kata-kata yang aku ucapkan tadi, kemudian punggung tangan nya di letakkan nya di dahiku untuk mengecek suhu tubuhku yang memang sedang panas.
"Ohhh... kamu demam sayang. Pantas saja!" ia terlihat sedikit kecewa.
"Pantas saja apa?" aku menaikkan sebelah alisku bingung dengan ucapan nya.
"Tidak ada apa-apa sayang. Ayo kita pulang"
Akhirnya kami pulang kerumah setelah berpamitan kepada Papa dan Mama terlebih dahulu.
Sesampai di apartemen aku membersihkan tubuhku dan naik ke tempat tidur untuk istirahat. Karna memang akhir-akhir ini aku merasa kurang enak badan dan sering merasa lelah.