Brondong Tengil

Brondong Tengil
Kemana dia pergi?



Amel pergi dari rumah keluarga Herlambang dalam keadaan marah serta kesal, sedangkan tangan kirinya memegang sebuah handphone yang terus melekat di dekat telinga nya. Ntah ia sedang menelpon dan berbicara dengan siapa?


Sesampainya di depan gerbang rumah Amel mematikan sambungan telepon yang ada di genggamannya dan langsung menyetop taksi yang baru saja melintas di hadapannya, ia masuk ke dalam taksi serta meminta supir taksi tersebut mengantarkan dia ke alamat yang ia tuju.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit Amel tiba di sebuah bangunan tinggi yang merupakan sebuah apartemen yang cukup mewah di kota tersebut.


Jari-jari indah itu dengan lincah menekan tombol beberapa angka pada panel pintu apartemen.


Clek klek... bunyi hendel pintu apartemen terbuka. Amel melangkahkan kaki nya ke ruang tamu, menuju seseorang yang sedari tadi telah menunggunya sambil menonton televisi.


"Apa anda memiliki banyak waktu luang hari ini tuan? sehingga anda bisa begitu santai menonton televisi pagi ini"


Amel memposisikan tubuhnya duduk di sofa tepat bersebelahan dengan seorang pria yang selalu menatapnya dengan tersenyum manis.


"Tentu, berkat kamu honey"


"Oh.." ujar Amel santai, tangan kanannya beralih mengambil sepotong sandwich yang ada di atas meja karna perutnya memang sedang terasa lapar. ia baru ingat karna kesal, dia pergi dari rumah tanpa sempat sarapan sedikitpun.


"Pelan-pelan makannya, akan ku buatkan kamu segelas coklat panas" ujar pria itu menatap Amel yang masih lahap memakan sandwich yang ada di atas meja hingga beberapa potong. Lalu, pria tersebut beranjak dari duduknya melangkahkan kaki pergi menuju dapur.


"Ada apa? sepertinya ada masalah hmmm?" pria itu meberikan segelas coklat hangat yang telah siap di buat nya tadi pada Amel.


"Terima kasih" Amel meminum sedikit coklat yang radaanya memang sama sekali tidak panas bahkan bisa dikatakan hanya sedikit terasa hangat.


"Kamu tidak menjawab pertanyaanku honey!"


"Apa yang harus ku jawab, kamu pasti sudah tahu sendiri jawabannya"


"Keluargamu mengabaikan mu lagi?"


"Hmmm" Amel menggangguk kan kepalanya pelan masih sambil meminum coklat panas di tangannya yang tinggal setengah.


"Kamu tahu sendiri Aldi, anak pungut itu sudah berhasil mengalihkan semua perhatian orang tua ku. Bahkan mereka sedikitpun tidak menyadari kepergian ku tadi, atau mungkin mereka memang tidak peduli."


"Tapi kamu anak kandung nya honey, sekarang kamu sedang sakit walaupun itu hanya sandiwara tapi kan hanya kita berdua saja yang tahu itu. Apa mereka tidak sedih sedikitpun dengan keadaanmu?"


Amel hanya menggelengkan kepala dan memasang muka sedih membuat Aldi merasa emosi melihat wanita yang ia sayangi di abaikan oleh keluarga nya sendiri.


Amel mulai menceritakan kepada Aldi apa saja yang ia alami setelah Aldi mengantarkan nya ke rumah keluarga Herlambang membuat tangan Aldi terkepal menahan marah. Tentu saja semua cerita itu sudah di tambahi bumbu-bumbu racun sehingga memancing kebencian Aldi pada kakaknya.


Karna memang itu lah yang di inginkan Amel, ia mau Aldi begitu membenci Zella hingga Aldi bisa membantunya menyingkirkan Zella.


*******


"Di mana Amel?" tanya buk herlambang pada dirinya sendiri setelah ia memeriksa seluruh ruangan di kamar Amel untuk mengecek kondisi Amel seperti permintaan suaminya tadi pagi.


"Livia!" panggil Bu Herlambang pada seorang pelayan yang baru saja melintas di depan pintu kamar putrinya.


"Iya nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?" pelayan itu bertanya sopan dengan membungkukan badan sedikit.


"Diamana Amel? katanya tadi dia kurang sehat badan, tapi kenapa saya tidak melihat dia beristirahat di kamarnya?"


"Maaf nyonya, setahu saya tadi nona Amel keluar dari pintu belakang saat sarapan tadi pagi nyonya."


"Jadi, dia memang sudah pergi dari tadi pagi?" tanya Bu Herlambang sekali lagi pada pelayan untuk memastikan. pelayan itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala lalu pamit undurkan diri di hadapan nyonya Herlambang.


Bu Herlambang keluar dari kamar Amel tidak lama setelah kepergian pelayan nya tersebut. Lalu, Bu Herlambang melangkah kan kaki pergi ke taman belakang untuk merapikan bunga-bunga yang ada di kebunnya.


walau dalam hati Bu Herlambang bertanya-tanya kemana perginya Amel hari ini, ada terbesit sedikit rasa khawatir di hatinya terhadap putrinya tersebut.