
"Ahhhhh perutku benar-benar kenyang" aku menyandarkan tubuhku pada kursi sambil mengelus perut buncit yang jadi semakin membuncit karna kekenyangan.
Seumur hidupku baru kali ini aku makan sebanyak ini, ntah efek hamil atau memang aku yang rakus ya?hehhhhh!
"Zella, kamu yakin tidak apa-apa? apa perutmu sakit?" tanya Rimba khawatir melihatku yang bersandar seolah tidak berdaya, mungkin yang lebih tepatnya khawatir dengan kondisi anaknya. Mungkin saja dia takut anaknya terjepit dengan makanan yang ku nikmati tadi, hahahha
"Aku gak apa-apa mas, cuma rada sesak sedikit saja" jawabku dengan wajah merona menahan malu.
"Hahahaha jangan kan kamu sayang, mas yang lihat kamu makan saja rasanya langsung kenyang" ledek Rimba padaku.
"Inikan juga kemauan anakmu mas, kalau gak!mana mungkin aku bisa makan sebanyak ini" jawabku lagi sambil tangan mengusap perutku lembut.
Maafin mama ya nak, karna rasa malu kamu jadi alasan, yang cuma bisa ku ucapkan di dalam hati.
Setelah beberapa saat ngobrol serta bercanda, aku dan Rimba lalu melangkah keluar restoran untuk pulang.
"Mas tunggu!" aku menarik lengan Rimba untuk berhenti dan menoleh kearah seseorang yang baru saja datang dari arah berlawanan.
"i-itu Amel, iya itu Amel!" ujarku sambil melangkah kaki kearah seseorang yang ku yakini adalah adikku.
"Zella tunggu, jangan berlari!!" Rimba berteriak sambil mengejar langkah kakiku yang tidak aku hiraukan.
"Amel, ini kamu Amel?" tanyaku dengan menangkap kedua tanganku di pipinya, aku sedikit ragu karena Amel yang di hadapanku jauh berbeda di bandingkan Amel yang ku lihat beberapa Minggu yang lalu.
"Maaf anda siapa?" tanya gadis dihadapanku dengan tatapan bingung.
"Amel kamu tidak kenal dengan kakakmu sendiri?" ujarku bingung, karena aku sangat yakin dia adalah adikku.
Tapi gadis di depanku tetap menatapku bingung seolah benar-benar tidak mengenalku.
"Maaf mbak, apa mbak mengenal Tasya?" ucap seorang pria yang sedari tadi bersama Amel.
"Tasya?" Aku benar-benar pusing sekarang, sebenarnya ada apa ini kenapa Amel berubah nama menjadi Tasya. Apa aku salah mengenali orang? tidak!... tidak mungkin!, dia benar-benar Amel, luka di pelipis kirinya itu sebagai tanda bahwa ia adikku!
"iya Tasya, itu nama yang saya berikan untuk dia. Tasya mengalami kecelakaan dan lupa ingatan, karna tidak adanya identitas pada dirinya maka saya memberi dia nama Tasya" ujar pria di hadapanku ini.
" Sebaiknya kita bicara di dalam aja mbak...?"
"Zella! panggil saya Zella dan suami saya Rimba. Saya kakak kandung Amel, gadis yang sedang bersamamu" jawab ku cepat.
"Senang bertemu dengan mbak Zella dan mas Rimba, perkenalkan mbak-mas nama saya Aldi" ucap pria di hadapanku sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Aku dan Rimba membalas jabatan tangan Aldi, lalu kami berempat berjalan masuk kembali ke dalam restoran untuk menjelaskan apa yang terjadi terhadap Amel.
Tapi ada satu hal yang tertangkap di penglihatan ku membuat aku bertanya-tanya.
Kenapa saat bertemu Amel expresi Rimba sangat terkejut dan gelisah, Tapi saat Aldi mengatakan Amel amesia sikap Rimba menjadi tenang walaupun masih tetap seperti waspada.
Sesampainya di resto aku mendengarkan Aldi menceritakan semua yang terjadi secara detail, dari mulai Amel yang mengalami kecelakaan di Inggris hingga Amel hilang ingatan. Karna keluarga dan pekerjaan yang harus di lakukan Aldi di Indonesia membuat ia harus membawa Amel pulang ke indonesia dan akhirnya bertemu kami. Tanpa aku sadari, tadi air mataku tidak berhenti menetes mendengar kisah ini.
Tapi, bagaimana Amel bisa berada di Inggris? dan mana kekasih nya itu?
*****
Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul 01 malam dan restoran juga sudah tutup jadi kami harus pulang. Tapi sebelum itu aku meminta Amel untuk ikut pulang denganku, tetapi Amel menolak karna ia merasa tidak mengenal kami.
Jadi aku putuskan meminta nomor telpon dan alamat lengkap tempat tinggalnya dan Aldi agar aku bisa mengajak Papa dan Mama untuk menjemput Amel.
"Mas, kamu kenapa?" tanyaku kepada Rimba karna melihat ia hanya diam di mobil selama perjalanan pulang kami ini.
"Gak ada apa-apa sayang" jawab Rimba datar.
"Yang benar mas?" tanyaku lagi sekedar memastikan.
"iya sayang, mas cuma khawatir kamu kelelahan karna sudah jam segini tapi kita belum sampai di rumah" ucapnya masih dengan ekspresi seperti tadi, datar...!
Akhirnya kami habiskan waktu di perjalanan menuju pulang ini, dengan hanya diam tanpa satu patah katapun suara yang keluar baik dari mulutku ataupun Rimba.
Tapi, aku tahu ada yang Rimba sembunyikan dariku.