Brondong Tengil

Brondong Tengil
Ayo kita pulang sayang!



Ciuman tidak cukup menuntaskan amarah diantara mereka terlebih bagi Amelia.


Amel mencengkram kedua kerah kemeja Aldi, memperdalam aktivitas bibir keduanya yang akhir-akhir ini jarang di pertemukan. Sementara Aldi menahan pinggang wanitanya dengan tangannya.


Tanpa Aldi sadari kancing kemejanya sudah terlepas hingga kebagian perut.


Aldi membalas dengan membuka resleting di punggung indah wanitanya, hingga dres selutut yang di kenakan Amel jatuh ke lantai.


Amel meng*rang saat tangan Aldi meremas bok*ngnya, Amel meng*cup rahang Aldi agresif. Tidak bisa ia pungkiri dia juga merindukan laki-laki tersebut.


Aldi mendorong Amel hingga mereka berdua terjatuh di ranjang, Aldi melucuti sisa kain penutup di tubuh Amel sehingga tidak ada lagi sehelai benang pun yang menempel di tubuh wanitanya.


Ia juga langsung membuka ikat pinggang celana Levi's abu-abunya.


"I Miss you, honey" bisik Aldi di telinga Amel, membuat Amel merinding geli.


Pria itu menciumi leher Amel hingga dadanya dan meninggalkan tanda kepemilikannya di sana.


"I Miss you to" balas Amel menikmati semua perlakuan Aldi pada tubuhnya.


Tangan wanita itu menyusuri punggung mulus milik Aldi, sesekali mengusap rambut Aldi yang mulai berantakan.


Aldi mengangkat wajahnya, menciumi kembali bibir Amel yang sedari tadi seperti memanggil-manggil dirinya.


Aldi menjauhkan dirinya dari tubuh Amel, kemudian mengambil sebuah bungkusan di laci nakas dekat ranjangnya lalu merobek bungkusan tersebut dengan kasar.


Pengaman itu ia pasang dengan sempurna, mengingat wanitanya ini sedang dalam masa subur.


"Mel, do you love me?" bisik Aldi sambil meng*cup rahang wanita yang ada di pelukannya.


"Don't leave me, okey?" pinta Aldi dengan nada memohon dan nafas terengah-engah.


Kemudian Aldi memposisikan dirinya untuk menyatukan keduanya. Dia meminta Amel membuka kedua tungkai kaki indahnya dan pada saat itu lah Aldi memasuki Amel dengan secara perlahan.


"Uhhhhh..." Amel meng*rang ketika bagian bawahnya di padati oleh Aldi.


Amel mencengkram kedua lengan Aldi.


Ia menggigit bibir bawahnya, menahan sakit serta rasa puas akan nafs*nya. Dia biarkan Aldi sepuas mungkin menguasainya.


"Al....." Amel mend*sah, dia menjambak rambut Aldi ketika pria itu mengoyak bawah tubuhnya dengan agresif.


"Iya sayang?" Aldi mendaratkan kec*pan di bibir wanitanya, mereka saling menginginkan, saling menggigit, bahkan lidah mereka beradu di sana.


Amel meletakkan tangannya di dada Aldi, menciptakan sengatan tersendiri bagi pria itu.


Aldi menahan tangan Amel dan memindahkan agar wanita itu menaruh tangan nya di tengkuk Aldi.


Amel menurut, ia menaruh kedua tungkai kakinya di pinggul Aldi. Pria itu membuat penyatuan mereka lebih dalam lagi. Saat ini terasa waktu hanya milik mereka berdua saja dalam er*ngan tak tertahankan.


********


Aldi menjatuhkan tubuhnya di samping Amel setelah ia selesai membersihkan diri.


Ia merentangkan salah satu tangannya, ia meminta Amel untuk datang kepelukannya dan gadis itu menurutinya.


Amel membaringkan kepalanya di dada bidang pria itu, dan menikmati dekapan hangat dari tubuh yang hanya di baluti selimut.


"Mel, ayo kita pulang ke Inggris" ucap Aldi lalu mencium puncak kepala Amel.


"Aku tidak bisa! Masih banyak hal yang belum aku selesaikan." Amel memeluk Aldi lebih erat.


"Apa? menyelesaikan apa? sudah cukup Amel, lupakan dendam itu. jika keluargamu tidak ada yang peduli denganmu, masih ada aku.


Kita pulang saja ke Inggris, lalu membangun keluarga kecil kita sendiri di sana?"


"Kamu tidak akan mengerti Aldi, aku tidak akan pergi kemanapun sebelum membalas semuanya. Zella harus merasakan apa yang aku rasakan, sejak aku kecil dia telah merebut kasih sayang dan segala hal yang seharusnya menjadi milikku."


"Tapi sampai kapan, kamu harus hidup dengan dendam seperti ini? Sudahlah lupakan saja semuanya. Ayo kita pulang saja!"


"Tidak! Lagi pula kamu sudah janji padaku untuk membantuku kan? kenapa sekarang kamu ragu. Apa kamu mau ingkar janji padaku hah?" Amel menaikkan nada suara nya di hadapan Aldi karena marah melihat pria itu yang mulai ragu.


"Bukan! Bukan seperti itu honey.


Tentu aku akan tepati semua janjiku padamu, aku akan melakukan apapun untukmu asalkan kau selalu bersamaku." jawab pria itu lembut agar tidak memancing kemarahan wanita nya lagi.


"Aku mengantuk" ujar Amel tiba-tiba menghentikan perdebatan diantara mereka.


"Tidurlah sayang" Aldi menghela nafas pelan dan memeluk Amel erat memberikan kenyamanan pada wanitanya.


Aldi mencium kening Amel sekali lagi. Dia sangat mencintai wanita itu, belum pernah Aldi merasakan perasaan ini sebelumnya. Hanya saja ia merasakan firasat yang tidak enak, dalam hati Aldi sangat khawatir jika dendam dan kebencian Amel pada kakaknya hanya akan berakibat buruk untuk wanitanya.


Ia hanya takut kehilangan wanita yang ada di pelukannya tersebut.