Brondong Tengil

Brondong Tengil
Kisah Masa Lalu 3



Gerimis jatuh membasahi kota ini, cuaca yang mendung mengisyaratkan kesedihan hati seorang ibu yang larut akan kehilangan putrinya beberapa bulan yang lalu.


Setelah dua hari akhirnya Herlambang menemukan jejak siapa dalang di balik penculikan terhadap putrinya. Tetapi Yelsa begitu licin, wanita itu sangat lihai bersembunyi.


Hingga menghabiskan waktu berbulan-bukan untuk menemukannya.


Herlambang menatap Renata yang sedang duduk termenung di pinggir jendela, melihat Renata yang begitu terpuruk akan hilangnya Putri mereka membuat Herlambang bersedih.


Herlambang mengusap pundak istrinya dengan pelan, membuat Renata melepas lamunannya.


"Udara semakin dingin sayang, sebaiknya kamu istirahat dulu. Aku gak mau kamu sakit sayang," Renata menggeleng.


"Biarkan aku tetap di sini Mas, aku kangen putri kita Mas! Kira-kira sedang apa dia? Apa dia baik-baik saja sekarang." ucap Renata lirih, membuat hati Herlambang tercubit. Ia merasa ini semua salah nya.


Seandainya saja ia tahu di mana putrinya sekarang! Seandainya saja ia mencari tahu dulu dengan detail latar belakang seorang Erik William sebelum mengakuisisi perusahaannya tersebut, ia berpikir mungkin saja semua ini tidak akan terjadi.


Derrrtttt.... Derrrtttt ....


Ponsel di saku celana Herlambang bergetar, Herlambang melihat orang kepercayaannya yang menelponnya. Dengan cepat Herlambang mengangkat panggilan itu, ia berharap orang kepercayaan nya akan memberikan kabar baik tentang pencarian putrinya itu.


"Bagaimana? Apa ada kabar baik?" tanya Herlambang begitu tak sabaran.


"Benar tuan, kami sudah menemukan di mana keberadaan nyonya Yelsa sekarang. Ia tinggal di sebuah pemukiman di kota B, yang letaknya sedikit jauh dari kota."


"Cepat kamu sharelok segera pada saya, biar kita bisa langsung menyusul kesana. Saya tidak mau mengundur-ngundur waktu lagi. Saya ingin kalian cepat menemukan putri saya," perintah Herlambang tegas.


" Baik tuan," jawab orang di seberang telepon, lalu mematikan sambungannya.


Renata yang mendengar pembicaraan itu mulai mendekat.


"Cepat pergi mas, cepat temukan putri kita mas!" pinta Renata penuh harap. Renata menatap suaminya dengan mata yang berbinar, hatinya begitu senang mendengar kabar keberadaan putrinya. Itu artinya ada harapan mereka menemukan gadis kecil kesayangannya.


Herlambang menggangguk dan mengecup kening istrinya sebelum bergegas pergi ke alamat yang di kirim oleh anak buahnya.


*************


Setelah membelah keramaian kota hingga malam hari, akhirnya Herlambang dan beberapa anak buahnya tiba di tempat yang mereka tuju.


Herlambang membuka pintu mobil dan terkejut dengan pemandangan yang ada di depan matanya, sebuah rumah tua yang cukup luas serta reot yang ada di pinggiran kota.


Ia menatap ke sekeliling, begitu gelap dan sepi.


"Apa kalian yakin ini tempatnya?" Herlambang melontarkan pertanyaan kepada Frans, salah satu anak buahnya.


"Betul tuan, memang ini tempatnya. Ini adalah tempat persembunyian nona Yelsa sejak ia menjadi buronan karna tanpa sengaja telah membunuh suaminya sendiri." Jawab Frans.


Herlambang tidak menyangka begitu menyedihkannya hidup Yelsa saat ini, sungguh memperihatinkan.


"Kita masuk pelan-pelan, biar aku yang di depan. Jika ada sesuatu yang mencurigakan atau aku terdesak baru kalian bertindak. Ingat! aku tidak mau kalian melakukan kesalahan hingga membahayakan nasib putriku!" Perintah Herlambang tegas, semua anak buahnya menggangguk.


Herlambang melangkah maju di ikuti dua orang di belakangnya, sedangkan tiga orang lagi berpencar ke sekeliling rumah ini untuk mengepung.


Braaakkkkk...


Herlambang menerjang pintu tua itu keras hingga pintu itu hampir terlepas.


Debu-debu bertebaran menerpa tubuhnya, membuat ia merasa sesak memasuki ruangan yang pengap dan berdebu itu. Tak ada satupun pencahayaan di dalam rumah itu selain lilin serta sinar rembulan yang masuk lewat celah-celah jendela.


Matanya mengedar ke sekeliling ruangan yang tampak kosong tak berpenghuni. Begitu sepi dan mencekam.


Hingga tatapan matanya terkunci pada seseorang yang duduk di sofa yang ada di sudut ruangan itu. Wanita yang menggunakan pakaian lusuh dan sangat berantakan. Wanita itu menatap nanar kearah Herlambang. Sorot matanya penuh kebencian.


"Yelsa, apa itu kamu?" tanya Herlambang ragu.


"Iya, ini aku! Apa kau kaget?" Yelsa tersenyum sinis, ia berdiri dan menghampiri Herlambang. Tidak ada sedikitpun keterkejutan di wajahnya atas kedatang tamu yang tak di undang tengah malam ini.


"Dimana putriku? Kenapa kau menculik putriku Yelsa, katakan dimana putriku?" Mata Herlambang berkeliling mengamati setiap sudut ruangan yang gelap tersebut, keningnya berkerut.


"Siapa yang sedang kau cari tuan, putrimu yang mana? Aku tidak mengenalnya," ujar Yelsa dengan senyum mengejek.


"Aku sedang tidak bercanda Yelsa, katakan dimana putriku!" Herlambang berusaha menahan emosinya, rahangnya mengeras serta tangannya mengepal. Ia yakin Yelsa sudah mengetahui kedatangannya, dan menyembunyikan putrinya terlebih dahulu di suatu tempat.


Yelsa adalah tipikal wanita yang keras, jika ia menghadapinya dengan emosi hanya akan membuat Yelsa bungkam akan keberadaan putrinya.


"Apa aku terlihat sedang bercanda, Hem?" ujar Yelsa lagi.


"Jika kamu marah padaku, luapkan padaku jangan pada putriku. Ia masih kecil Yelsa, dia tidak tahu apa-apa!" ujar Herlambang yang membuat Yelsa tambah marah.


"Masih kecil kalian bilang, lalu bagaimana dengan putriku, hah! Apa dia bukan gadis kecil dimatamu Herlambang. Kau!" Yelsa menunjung wajah Herlambang dengan murka.


"Kau membuat putriku terlahir sebagai seorang yatim bahkan sebelum ia hadir kedunia ini, kau lihat hidupku sekarang! Begitu menyedihkan. Sedangkan putri kesayangan kalian hidup dengan nyaman dan tenang. Apa itu adil herlambang! Katakan, apa putriku bukan gadis kecil yang tidak tahu apa-apa seperti putrimu Herlambang!" teriak Yelsa dengan lantang.