
Detak jam yang bergerak lambat menyisakan kegelisahan, suasana lorong rumah sakit yang begitu sepi serta bau obat-obatan yang menyeruak membuat Aldi merasa Dejavu.
Aldi menggerakkan kakinya gelisah dengan kedua tangan bertumpu di atas paha menopang dagu. Di rumah sakit ini, untuk kedua kalinya ia menunggu Amel yang berbaring lemas di balik pintu putih itu, beberapa orang perawat dan dokter yang keluar masuk memeriksa, tapi tak ada satupun yang memberi tahukannya bagaimana kondisi wanitanya di dalam.
"Tenang Al! Aku yakin dia baik-baik saja di dalam sana," ujar Rimba menenangkan, walau ia tak yakin kata-katanya akan cukup membantu.
Rimba tahu pasti apa yang dirasakan pria di sebelahnya ini. Khawatir, takut, cemas, menyesal dan rasa bersalah seperti yang pernah ia rasakan saat Zella masuk kerumah sakit dulu.
Bagi seorang pria, tak ada yang mereka takutkan dalam hidupnya selain keadaan wanita yang mereka sayangi.
"Keluarga Ibu Amelia?" Tiba-tiba Dokter ke luar dengan wajah lelah tapi cukup tenang.
"Saya, Dok!" sahut Aldi cepat. Pria itu berdiri dan menghampiri sang Dokter.
"Anda ...."
"Saya, suaminya!" jawab Aldi meyakinkan.
"Saat ini kondisi istri anda sudah mulai stabil, untung saja anda cepat membawa istri anda kemari, sehingga pendarahannya cepat ditangani dan janinnya masih bisa tertolong. Saya harap untuk kedepannya anda dapat lebih berhati-hati lagi, ya, pak!Karena usia kehamilan istri anda masih sangat muda, sangat rentan keguguran. Jadi, jaga moodnya baik-baik, serta jangan bikin dia stres!" ujar Dokter itu panjang lebar lalu pamit undur diri.
Sekarang Aldi bisa sedikit bernapas lega, Amel serta calon anaknya dapat tertolong dan dalam kondisi baik-baik saja sekarang.
Aldi menoleh ke arah Rimba yang ada di sebelahnya, "sebaiknya kamu pulang saja sekarang, biar Amel aku yang jaga disini. Kasihan Zella dan bayi kalian di rumah. Aku yakin istrimu pasti lagi kerepotan," ujar Aldi.
Rimba mengangguk, "baiklah aku pulang dulu, jika ada apa-apa kamu kabari aku," jawab Rimba. Ia pamit pergi meninggalkan Aldi yang menatap kepergiannya.
Aldi menghela napas, mengeluarkan sebuah ponsel di saku celananya. Ia menghubungi seseorang, Aldi memutuskan untuk berangkat ke Inggris secepatnya. Ia tidak mau jika terus berada di sini, wanitanya akan hidup dalam kesedihan dan membahayakan janinnya.
Aldi pikir semakin cepat mereka pergi akan semakin baik.
*****************
Semalaman Aldi menginap di rumah sakit, di sebelah Amel. Ia mengusap wajah cantik wanitanya dengan lembut, lalu berpindah keatas perut Amel yang datar. Tangannya mengusap-usap perut itu dengan sayang, sebuah senyum terbit di hatinya. Ada rasa bahagia yang ia rasakan saat mengetahui calon anak mereka baik-baik saja.
"Tumbuhlah yang sehat dan kuat, Nak! Papa sangat menantikan kehadiranmu," ujar Aldi lirih. Bibirnya mengecup perut itu lalu berpindah ke dahi Amel.
Ceklekkkk!
Sorang perawat masuk ke dalam ruangan dengan beberapa peralatan kesehatan.
"Permisi Pak, saya mau mengecek selang infus dan membersihkan tubuh Ibu Amel," ujarnya.
"Kenapa istri saya belum sadar juga, Sus?" tanya Aldi bingung, sudah semalam Amel tidak sadarkan diri. Ia terlihat tidur dengan nyenyak sekali.
"Tidak apa-apa pak, mungkin efek obat yang di berikan Dokter, agar Ibu bisa istirahat. Sebentar lagi pasti sadar kok, Pak," jawab suster itu ramah.
"Bisa minta tolong, bapak keluar sebentar, Pak?" tanya suster yang bertulis nama Ariani di seragamnya. Aldi mengangguk dan keluar dari rawat inap Amel, ia berjalan menuju kafetaria rumah sakit.
Minum segelas kopi hitam dan sarapan pagi mungkin akan membantu perutnya yang mulai pedih, karena belum terisi sejak kemarin. Tidak lupa pula ia menelpon asisten pribadinya nanti, untuk membawakan satu stel pakaian bersih untuknya.
Suara tangis membangunkan Zella dari tidurnya, matanya mengerjap menyesuaikan cahaya mata hari yang masuk ke dalam retina matanya. Zella menatap box bayi yang ada di sampingnya, kosong? Membuat ia bingung di mana bayinya. Bukankah ia tidurkan di box Yang ada di sebelahnya?
Baru saja Zella bangkit dari ranjangnya, Rimba masuk ke dalam kamar bersama bayi mereka yang ada di dalam gendongannya.
"Lihat sayang, itu Mama sudah bangun. Aydan pasti sudah lapar, ya, Nak?" ucap Rimba lembut pada bayi yang baru berumur tiga Minggu itu.
"Sayang, ini jam berapa? Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Zella. Ia duduk di tepi ranjang merenggangkan pinggangnya yang terasa sakit.
"Sudah jam sepuluh, aku lihat kamu tidurnya nyenyak sekali, jadi gak tega banguninnya. Aku yakin kamu pasti kelelahan sekali," jawab Rimba, membuat senyum terukir lebar di bibir Zella. Ia merasa sangat beruntung memiliki suami pengertiannya seperti ini.
Bayi di gendongan rimba semakin menangis dengan kuat, suaranya yang melengking begitu memekakkan telinga.
"Sini, berikan Aydan padaku, dia pasti lapar," pinta Zella. Ia merentangkan kedua tangannya.
Rimba menghampiri Zella, dan menyerahkan bayi yang ada di gendongan setelah ia mencium terlebih dahulu kedua pipi putranya itu dengan sayang.
Zella mengambil alih bayinya yang masih menangis, kemudian memasukkan ****** payud*ranya yang terasa keras dan sakit kedalam mulut kecil itu.
Bayi tampan duplikat Rimba itu menyedot payud*ranya dengan rakus, rasa sakit yang tadi Zella rasakan sedikit berkurang.
Rimba duduk di samping Zella, memandangi anak dan istrinya yang cantik tanpa bosan.
"Dia sangat menggemaskan," ujar Rimba bahagia. Suaranya terdengar begitu lembut, Zella menatap Rimba yang ada di sebelahnya, pria itu juga beralih menatapnya.
Bibirnya mendarat lembut di kening istrinya, Zella kembali tersenyum, tak terkira kebahagiaan yang ia dapatkan saat ini. Tak henti-hentinya ucap syukur ia lantunkan dalam hati atas anugrah yang tuhan berikan padanya.
"Bagaimana dengan Amel? Apa dia baik-baik saja?" tanya Zella saat ia teringat tentang kejadian semalam.
"Alhamdulillah, ia dan calon anaknya selamat dan sehat,"
"Syukurlah, aku senang mendengarnya," Rimba merengkuh tubuh Zella dan kembali menciumi pipinya dengan mesra.
"Aku senang akhirnya wanita itu sadar dan tidak akan mengganggu kita lagi, apalagi sekarang sudah ada si kecil ini diantara kita," ucap Rimba. Zella mengangguk.
Rimba menyentuh pipi Aydan tanpa suara, lalu beralih membelai rambut pendek bayinya.
Seperti mengerti, Aydan melepas mulutnya dan seolah tersenyum pada kedua orang tuanya. Bayi itu baru berumur tiga Minggu, tapi matanya seolah awas dan mengerti.
"Lihat senyumnya, seperti senyummu, sayang," ujar Rimba.
"Tentu saja, aku kan ibunya, tidak adil rasanya kalau semua mirip kamu saja!" sahut Zella seolah merajuk membuat Rimba terkekeh.
"Jangan khawatir sayang, kita masih bisa buat satu lagi yang mirip banget denganmu," ucap Rimba menggoda dengan senyum jahilnya. Membuat mata Zella melotot.
"Dasar! Itumah maunya kamu!" jawab Zella sambil mengerucutkan bibirnya kesal. Rimba mengecup bibir itu cepat, lalu tertawa.
Mereka berdua tertawa bersama, keluarga kecil yang sangat harmonis membuat siapa saja akan menjadi iri, melihat kebersamaan mereka berdua yang tampak sangat serasi.