
Saat Rimba di sibukkan dengan segudang aktifitas serta rasa cemas yang masih menggelayuti fikiran nya, Zella justru sedang berbahagia memilih aneka perlengkapan bayi di sebuah babyshop terbaik di kota itu.
Bagian depan toko tersusun aneka Baby stroller dari berbagai bentuk dan corak motif khas bayi, serta aneka perlengkapan bayi lainnya dari seperti topi, kaos kaki celana dan baju-baju bayi yang sangat cantik hingga membuat Zella khilaf.
"Zel, baju model ini cantik deh, udah satu set topi sama kaos kakinya juga" ujar Dinda pada Zella dengan menunjukkan 1 set baju bayi yang di pilihnya.
Dinda memang seorang shopaholic sejati, ntah itu karna hobby ntah itu memang penyakit. Itu sebabnya saat Zella meminta nya menemani membeli perlengkapan bayi Dinda langsung ia menyanggupi dengan senang hati.
"Ini bagus, aku suka motifnya. Tapi kok warna pink? Anakku kan belum tentu cewek." jawab Zella.
"Nanti di pilih yang warna netral aja dong Ndut, itu banyak kok pilihan warnanya" Dinda menunjuk kearah deretan gantungan baju bayi, tempat dimana ia tadi mengambil baju yang berada tangannya.
"Ihhh kebiasaan deh lo ngatain gue gendut, nanti juga kalau udah lahiran gue langsing lagi kok!" ucap Zella saat melangkah kederetan baju tersebut. Dinda terkekeh geli melihat raut wajah Zella yang berubah masam karna panggilan gendut yang ia sematkan.
Setelah beberapa jam mereka asik berbelanja dari satu toko ke toko yang lain. Tiba-tiba Zella merasakan nyeri yang sangat hebat pada bawah perutnya.
"Zel, elo kenapa?" tanya Dinda yang panik saat melihat Zella tiba-tiba meringis sambil memegang perut bagian bawahnya.
Saat Dinda masih di Landa rasa panik salah satu bodyguard justru menyerahkan semua belanjaan yang ada di tangannya pada rekan kerjanya di samping, dan langsung dengan sigap menggendong tubuh Zella dan membawa Zella kerumah sakit secepatnya.
Karna ia tahu jika terjadi sesuatu dengan istri tuannya ini, maka nasib buruk akan menghampiri mereka.
*****
Seorang pria turun dari mobil yang baru saja teparkir dengan tergesa-gesa, bahkan hampir seperti orang berlari hingga ke lorong rumah sakit . Saat ini hati dan fikirannya hanya tertuju pada sebuah ruangan yang menjadi tempat di rawat istrinya.
Rimba benar-benar panik saat menerima telfon dari para bodyguard yang ia tugaskan untuk menjaga istrinya.
"Dimana Zella? Bagaimana keadaannya?" tanya Rimba mencengkram kedua bahu Dinda dengan kuat, saat menemukan Dinda yang sedang berdiri dengan gelisah di depan sebuah ruangan.
"Dia lagi di periksa di dalam" jawab Dinda gugup melihat amarah di mata Rimba serta meringis menahan sakit di kedua bahunya akibat genggaman kuat tangan Rimba.
"Kenapa bisa jadi begini, jika terjadi apa-apa dengan mereka! Kamu akan tanggung akibatnya" Hardik Rimba pada Dinda sambil melapas tangannya dengan kasar, yang membuat Dinda gemetaran dan cemas akan nasibnya. Ia tidak henti berdoa agar tidak terjadi sesuatu pada Zella. Karena jika itu terjadi Dinda tidak dapat membayangkan apa yang akan di lakukan Rimba padanya.
Clekkkk... Suara pintu yang terbuka seketika mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu tersebut.
"Bagaimana keadaan istri dan calon anak saya? Apa mereka baik-baik saja?"
"Tenang tuan, istri anda serta kandungannya baik-baik saja. Nyonya Zella hanya mengalami kram pada perut nya karna akibat kelelahan. Dengan kondisi kandungan yang mulai membesar dan sedikit lemah, saya rasa sebaiknya untuk beberapa hari kedepan nyonya Zella harus bedtrest dulu dirumah. Tolong diawasi dengan baik ya tuan!" ujar dokter Yola lembut tapi tegas agar Rimba benar-benar menjaga pasiennya yang sedikit bandel ini dengan lebih baik lagi.
"Silahkan jika anda mau melihat kondisi istri anda tuan, tapi dia sedang istirahat" ujar dokter Yola lagi.
"Baik Dok, terima kasih" jawab Rimba pada dokter Yola sebelum wanita itu pergi dari hadapannya untuk memeriksa pasien yang lain.
Setelah beberapa jam Zella terbangun dari tidurnya, menatap ruangan yang dari aroma saja ia sudah tahu kalau sekarang ia sedang berbaring di rumah sakit. Zella menggerakkan tubuhnya untuk duduk tapi sebuah tangan menahan bahunya agar ia tetap pada posisinya.
"Sebaiknya kamu istirahat saja dulu!"
"Kamu?" ujar Zella heran bukan dengan kata kamu tapi pada nada tinggi yang tidak biasa di ucapkan Rimba padanya.
"Sayang apa kamu marah padaku? hmmm?" ujar Zella lagi, tangan nya terangkat mengusap lembut rahang pria tampan yang menatapnya dengan expresi marah,cemas yang sangat kentara.
Rimba menggenggam tangan Zella yang berada di wajahnya, seketika amarahnya meluap ntah kemana mendapati perlakuan manis istrinya ini. Ia mencium tangan istrinya itu dan menikmati setiap belaian tangan zella di wajahnya.
"Jangan ceroboh lagi!"
"Maaf" jawab Zella sedih, ia tidak bermaksud membuat Rimba khawatir.
"Sudah jangan sedih, yang penting kamu dan anak kita baik-baik saja. Lain kali jangan di ulangi lagi, kamu harus ingat kalau kamu itu sedang hamil jadi jangan pecicilan terus" Rimba memencet ujung hidung Zella dengan sayang, yang di sambut dengan senyum bahagia Zella.
Saat Zella dan Rimba masih asik bercanda ria , tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat mereka dari luar dengan tatapan iri.
"Ahhhh, aku jadi pengen nikah juga kalau gini" Dinda mendesah pelan dengan sendu.
"Kalau anda mau nikah, saya siap kok untuk melamar anda nona" ujar Rizky dengan tatapan genit yang di sambut tawa oleh yang lain.
Dinda menghentakkan kakinya karna kesal dan berlalu pergi dengan muka yang merah merona. Rizky adalah salah satu bodyguard yang menggendong Zella tadi, sebenarnya Dinda sangat berterima kasih pada Rizky atas sikap sigapnya membawa Zella sehingga Zella dan kandungannya baik-baik saja. Hanya saja Dinda risih dengan sikap genit yang selalu di tunjukkan padanya.