Brondong Tengil

Brondong Tengil
POV Rimba



"Lunaa!! Apa kamu pikir saya memberimu gaji hanya untuk membuat laporan sampah ini?hah!!"


Teriak Rimba lantang dan di sertai dengan melempar lembaran-lembaran kertas laporan yang ada ditangannya. Membuat wanita yang yang duduk di hadapan nya tertunduk karna takut akan kemurkaan bos nya itu.


Luna Larasati seorang wanita dewasa berumur 28tahun yang bertugas menggantikan semua tugas-tugas Zella sebagai sekretaris Rimba.


Tidak pernah sedikitpun dalam bayangan Luna, ia akan bekerja untuk seorang pria arogan, dingin serta sedikit pemarah.


Yahhh seperti itu lah gambaran karakter Rimba di hadapan orang lain.


"Maaf pak, akan saya perbaiki lagi laporannya pak" ujar Luna lemah.


"Saya mau besok pagi laporan itu sudah ada di atas meja saya! Jika tidak..! kamu akan tahu sendiri akibatnya! Sekarang pergi dari hadapan saya" Ucap rimba tajam penuh intimidasi hingga membuat wanita itu meremas ujung rok nya dengan kuat karna takut. Luna berdiri dari duduknya lalu menundukkan sedikit kepala untuk memohon izin keluar, ia melangkahkan kakinya untuk beranjak dari ruangan Rimba.


Ben yang sedari tadi diam dengan posisi berdiri di samping Rimba hanya bisa menggelengkan kepala pelan. Ia merasa tempramen Bos nya hari ini benar-benar buruk.


Jadi menurutnya tidak ada gunanya iya membantah jika ia masih sayang dengan nyawanya.


"Ben bagaimana? Kamu sudah dapat kabar yang saya minta?" Rimba menggeser posisi tubuhnya agar dapat melihat langsung sosok asisten yang sudah melayaninya selama bertahun-tahun ini secara dekat, yang sekarang sedang berdiri pas disebelahnya dengan perasaan gugup.


"Belum tuan. Tapi..."


"Tapi tadi saya dapat info jika Nyonya mencoba menelpon semua nomor teman-teman nona Amel untuk mencari informasi tentang adik ipar anda itu" ujar Ben cepat saat melihat rahang wajah Rimba mengeras dan memerah saat ia sempat menjeda kalimatnya tadi.


"Terus?" Ujar Rimba singkat.


"Tenang saja tuan, saya sudah mengurus semuanya dengan aman"


"Bagus! Saya mau kamu secepatnya temukan wanita ular itu! Ingat Ben, lebih cepat itu lebih baik. Sebelum dia kembali dan menghancurkan segalanya!"


"Baik tuan saya laksanakan. Saya undur diri dulu tuan." Ucap ben yang hanya di tanggapi Rimba dengan wajah datar.


****


Dalam pertarungan pasti hanya mengenal dua kata akhir yaitu menang dan kalah.


Menurut rimba, begitu juga hal nya dalam bisnis dan kehidupan.


Beda orang, beda juga cara.


Jika dalam bisnis, Rimba dikenal pribadi yang anggkuh, arogan, dingin dan kejam tanpa belas kasihan pada rival bisnisnya.


Tapi tidak dengan kehidupan nya terutama untuk orang-orang dicintainya, ia akan berubah menjadi sosok lembut, penyayang dan hangat.180% berbanding terbalik seperti 2 orang yang berbeda. Hal itu ia lakukan agar orang yang dicintainya menjadi nyaman untuk tetap berada di dekatnya. Bagi seorang Rimba Ardiansyah Atmaja, mencintai bukan untuk melepaskan orang yang kita cintai bersama orang lain.


Jika kita bisa membuat orang yang kita cintai mencintai kita dan menjamin kebahagiaan nya saat berada disisi kita, kenapa kita harus memberikan orang yang kita cintai untuk orang lain yang belum tentu bisa menjamin kebahagiaannya.


Seperti hal bodoh yang di lakukan almarhum kakaknya 15 tahun yang lalu.


"FLASHBACK "


Seorang bocah laki-laki berumur 9tahun sedang membaringkan kepalanya di atas ranjang dengan tangan terlipat sebagai bantalan, sambil menangis pilu tanpa suara di samping tubuh kakak nya yang terbaring sakit di rumah sakit.


Yah... Bocah laki-laki itu adalah Rimba.


"Mama!Papa! kak Aldi sadar... Dokter!!kak Aldi sadar" Rimba kecil berlari keluar memanggil orang tuanya saat merasakan pergerakan tangan lemah Kakaknya membelai kepalanya pelan.


Tanpa menunggu lama Dokter datang masuk keruangan lalu memeriksa kondisi keadaan Aldi.


Rimba kecil hanya bisa melihat Papa dan Mamanya mondar-mandir dengan cemas menunggu hasil pemeriksaan Dokter tentang kondisi Kakaknya. Jujur dalam hatinya ada rasa cemas dan sedikit bahagia karna akhirnya kak Aldi sadar setelah sekian lama koma. Ia berharap ada keajaiban kesembuhan untuk Kakaknya seperti sedia kala. karena Rimba sangat menyayangi Aldi, ia adalah satu-satunya saudara yang Rimba miliki.


Clekkkkkk


Bunyi pintu rawat terbuka menampilkan sosok seseorang dengan raut wajah yang sulit di artikan.


Papa dan Mama Rimba mendekat untuk menemui seseorang yang keluar dari balik pintu tersebut, yang tidak lain adalah Dokter yang menangani Putra sulungnya.


"Dok, bagaimana kondisi Putra saya?" tanya Mama Rimba Dangan wajah sembab dan mata bengkak. Ntah sudah berapa liter air mata yang sudah Mamanya keluarkan seharian ini.


Dokter menghela napas berat dan meraup wajah lelahnya sebelum menjawab pertanyaan seorang ibu di hadapannya. Ada perasaan tidak tega di hatinya untuk menyampaikan berita buruk ini setelah melihat wajah sedih itu.


"Maafkan Saya, Saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan anak Bapak dan ibu. Tapi, anak Bapak dan Ibu seperti tidak ada semangat berjuang untuk hidup. Waktu yang di milikinya tidak banyak lagi dan pasien ingin bertemu dengan adik kecilnya sepertinya ada yang ingin dia sampaikan" ucap dokter itu untuk mempersilakan Rimba masuk lebih dulu untuk menemui Aldi.


Nyonya Atmaja hanya bisa menangis histeris dengan suara yang tercekat mendengar berita yang di sampaikan oleh Dokter tadi, tangan tuan atmaja suaminya membawa ia ke dalam ranggkulannya dan ikut menitikkan air mata dalam diam.


"Rimm-mba" ucap Aldi saat melihat rimba kecil melanggkahkan kaki mendekat ke arahnya.


"Heyyyy jagoannya kakak kenapa menangis?" Aldi mencoba tersenyum menghibur agar Rimba tidak bertambah kencang tangisan nya.


"Kakak ku mohon sembuh, jangan tinggalkan aku, Papa dan Mama" ucap Rimba pada akhirnya saat sudah duduk di kursi dekat ranjang.


"Rimba, Kakak tidak pergi kemana-mana kok. Kakak akan selalu disini mengawasi adik kecil kesanyangan kakak" ujar Aldi meletakkan jarinya tepat di jantung Rimba seolah mengatakan ia akan selalu berada di hati dan jantung Rimba. Membuat air mata Rimba tambah deras menetes.


"Tidak! Kakak tidak boleh pergi tinggalkan aku. Tidak boleh!" Rimba menggelengkan kepala nya cepat setelah mengerti madsut dari kakaknya barusan.


"Rimba, waktu kakak tidak banyak. Kakak mohon kamu jaga Papa dan Mama dengan baik, gantikan posisi kakak ya untuk selalu membuat mereka bahagia?! Titip pesan untuk Mama dan Papa kalau Kakak sangat menyayangi mereka. Kakak juga minta maaf karna belum bisa menjadi anak yang berbakti pada mereka" ucap Aldi dengan derai air mata dan menarik nafas dalam-dalam karena mulai terasa sesak.


"Rim..mba... hiduplah dengan bahagia. Jangan pernah lakukan kesalahan yang selama ini pernah Kakak lakukan dulu, Kakak mohon akkhh" ucapan Aldi terputus sambil menahan sakit memegang dadanya beberapa saat lalu terkulai lemah menghembuskan nafas terakhir.


"Kakak!!!!"


Rimba berteriak histeris sambil tangannya mengguncang-guncangkan tubuh aldi berharap pria itu bangun dan membuka matanya. Karna teriakan Rimba yang keras dan histeris membuat Dokter dan kedua orang tua nya masuk keruangan itu.


Dokter memeriksa keadaan Aldi lalu menggelengkan kepala pelan kepada tuan dan nyonya Atmaja saat tidak merasakan lagi detak jantung pasien. Mama Rimba menangis tertahan lalu pingsan saat mengetahui putra sulung nya pergi untuk selama-lamanya.


...****************...


Cinta itu seperti sebuah pedang yang tajam!


Ia bisa menyelamatkan juga bisa membunuh tergantung bagian mana yang engkau genggam?


Jika yang engkau genggam gagangnya maka pedang itu bisa menyelamatkanmu dan membawamu pada kebahagiaan.


Tapi, jika yang engkau genggam adalah bagian matanya yang tajam. Maka engkau hanya akan mendapatkan luka yang tak berkesudahan dan membawamu pada kehancuran seperti yang sedang aku alami sekarang!


(Aldiansyah Putra Atmaja)