Brondong Tengil

Brondong Tengil
POV Rimba part 2



Setelah prosesi pemakaman selesai dan para pelayat sudah pada pulang. Tuan Atmaja berdiri dan melangkahkan kaki berjalan ke arah putra bungsunya yang masih menangis dalam diam membelai batu nisan berukir sebuah nama.


Aldiansyah Putra Atmaja


Putra sulung keluarga Atmaja harus meninggal secara tragis di usianya yang masih sangat muda yaitu 22 tahun. kenyataan ini cukup membuat pria tua ini sangat terpukul.


Tapi tuan Atmaja sadar ia tidak bisa berlarut-larut dalam kesedihan karna ada putra lain yang masih sangat membutuhkannya.


"Rimba, ayo kita pulang nak! hari sudah mendung, sepertinya akan turun hujan" ujar tuan Atmaja lembut pada putra bungsunya yang masih setia duduk di samping pusara kakaknya.


"Tidak pa, Rimba masih mau di sini. Papa pulang saja dulu, temani Mama yang sedang sakit di rumah.


Biar Rimba di sini dulu bersama Pak Amin, nanti rimba pulang sama pak Amin saja" ucapnya dengan datar.


Tuan Atmaja hanya bisa mengangukkan kepala mengabulkan permintaan Rimba, karna tuan Atmaja pikir mungkin rimba masih butuh banyak waktu untuk menenangkan hatinya yang sedih.


Aldi adalah sosok kakak yang sangat lemah lembut dan selalu menjaga Rimba, ia kerap mengalah dan memanjakan Rimba. Selisih umur yang cukup jauh antara mereka yaitu 13 tahun membuat Aldi menjadi sosok ayah pengganti bagi Rimba saat tuan Atmaja sibuk dengan bisnisnya.


Rintik-rintik hujan mulai turun dan dalam sekejap berubah menjadi hujan yang deras. Tapi tidak membuat Rimba kecil bergerak dari posisinya.


"Tuan muda, ayo kita pulang tuan. Hujan semakin deras nanti tuan sakit" ucap Pak Amin supir pribadi tuan Atmaja khawatir. Tapi Rimba sama sekali tidak menggubris perkataannya, hingga akhirnya bocah itu jatuh pingsan dengan badan yang panas. Pak Amin langsung mengangkat tubuh tuan mudanya serta membawanya pulang. ia benar-benar khawatir terjadi apa-apa pada anak majikan nya ini.


"FLASBACK END "


Rimba membuka mata nya yang terpejam beberapa saat untuk mengenang luka masa lalu nya. Sekarang dia benar-benar paham apa yang di rasakan oleh kakaknya dulu, yaitu rasa takut dan sakit saat kehilangan orang yang kita cintai dengan segenap jiwa.


Dulu Aldi mencintai sahabatnya bernama Amora, rasa cinta nya yang dalam terhadap Amora membuat Aldi melakukan segala hal untuk kebahagiaan gadis itu. Tapi sayangnya cinta tulus seorang Aldi harus bertepuk sebelah tangan. Amora justru mencintai pria lain, pria brengsek yang hanya mempermainkannya. Membuatnya hamil dan tidak mau bertanggung jawab, alih-alih bertanggung jawab pria itu justru memaksa Amora untuk melakukan aborsi yang akhirnya membuatnya meregang nyawa karna pendarahan.


Bahkan kematian lelaki berengsek itu tidak cukup untuk membayar rasa sakit yang mereka alami.


"Hahahhaha"


Sekarang ia benar-benar sadar arti dari kata-kata kakaknya cinta adalah pedang bisa membuat bahagia bisa pula membunuh tergantung bagian mana yang kita pegang.


Kenapa manusia benar-benar bodoh saat mereka jatuh cinta?


Seandainya saja Amora lebih memilih cinta kakaknya dan meninggalkan pria itu?


Seandainya saja Amora menerima kakaknya untuk bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya. Mungkin saja ia tidak perlu aborsi, dan kakaknya tidak akan kecelakaan karna depresi atas kematiannya!.


ahhhhh seandainya saja.


Drrrrttt..drrrrt.


Getar ponsel di hadapan Rimba membangunkannya dari seandai-andainya yang dari tadi berputar diotaknya.


"Hallo?" ucap Rimba datar mengangkat telpon tanpa melihat nama siapa yang tertera di sana.


" Sayang kamu masih sibuk? kamu kan janji sama aku mau jemput aku di rumah Mama. Ini udah malam sayang" ujur wanita di seberang sana manja.


Rimba mengangkat sebelah tangannya dan melihat jam mewah yang melingkar indah di pergelangan tangannya itu.


"Maaf, aku baru sadar jika hari ini sudah jam 10. Jangan marah sayang ini aku langsung bergegas jemput kamu ya" ucap Rimba lembut, ntah kenapa setelah mendengar suara manja istrinya membuat moodnya sedikit membaik.


"Baiklah aku tunggu! Tapi jangan ngebut-ngebut di jalan ya, I Miss you honey"


"I Miss you to baby" Rimba menarik senyum tipis di sudut bibirnya setelah menutup telpon dari istrinya. Ia berdiri dari kursinya dan melangkahkan kaki bergegas pulang menemui istrinya.


Rimba sangat mencintai istrinya seperti cinta yang dulu di miliki Aldi untuk Amora, hanya saja yang berbeda Rimba tidak akan melepas Zella pergi dengan orang yang dicintainya. Ia akan berusaha mati-matian agar Zella mencintainya dan menjamin kebahagiaan Zella bersamanya.


Rimba sangat bersyukur karna segala usahanya untuk mengikat Zella di sisinya tidaklah sia-sia. Ia yakin perlahan-lahan Zella mulai mencintainya walau pun kata cinta itu tidak terucap dari bibirnya. Apa lagi sekarang sudah ada Rimba junior yang tumbuh di rahim istrinya membuat Rimba bertambah bahagia, ia benar-benar tidak sabar untuk sampai ke rumah untuk memeluk dan mencium istri dan calon babynya.