
Follow IG me @mhemeyyy
Beberapa bulan berlalu begitu cepat, begitu juga dengan kehamilan Ellena.
Perutnya benar-benar sudah membuncit dan sangat besar daripada kehamilan pertamanya.
Kedua pasangan tersebut memang sengaja tidak melakukan pemeriksaan lebih lanjut mengenai jenis kelamin dan lain-lain, biarkan menjadi kejutan alasannya.
Setelah menyelesaikan sarapan, Ellena mengantarkan Rian ke pintu utama
Sebab Rian harus pergi karena ada pekerjaan yang mengharuskannya datang ke perusahaan, mau tidak mau dia harus pergi.
Rian berjanji pada sang istri tidak akan lama, setelah pekerjaannya selesai dia akan langsung pulang.
"Tenanglah, di sini banyak maid dan penjaga aku akan baik-baik saja," ucap Ellena menenangkan sang suami.
"Tapi aku khawatir," jawabnya masih menunjukkan wajah tidak rela.
"Jangan menunjukan wajah seperti itu R, huh! Sudah sana berangkat." kesal Ellena sambil mendorong tubuh suaminya pelan.
"Baiklah aku pergi, jaga dirimu Sweetheart."
Cup!
"Aku hanya akan masuk ke dalam mansion bukan ingin pergi berperang," jawab Ellena pergi meninggalkan Rian yang masih menatapnya.
Ellena pergi ke ruang baca seperti bias , dia akan menyibukkan dirinya dengan membaca, entah itu membaca buku bisnis atau hanya sekedar iseng membaca novel.
Setelah mengambil beberapa buku dan membawanya ke sofa santai, dia mencari posisi nyaman untuk dirinya berbaring.
Lelahnya! kenapa perutku lebih besar daripada biasanya ya, tapi kata dokter kehamilanku normal dan tidak ada masalah, apa karena aku lebih banyak makan? entahlah!
batin Ellena sambil mengelus lembut perutnya
Dokter memperkirakan Ellena akan melahirkan sekitar dua minggu ke depan , tapi terkadang perkiraan dokter bisa saja maju atau mundur โkan?
Ellena tak terlalu memperhatikan itu, dia sudah dalam posisi yang nyaman dengan fokus hanya pada buku yang ada di tangannya saat tiba-tiba pintu terbuka.
"Mommy!" sapa bocah kecil yang baru saja membuka pintu masih lengkap dengan baju seragam sekolahnya.
"Halo anak Mommy tersayang," jawab Ellena dengan senyum manisnya.
"Jangan memanggilku sayang Mommy, aku sudah besar."
"Wah, benarkah?" tanya Ellena meledek putranya.
"Yes, of course."
"Jadi kalau anak Mommy udah besar sudah tidak ingin di peluk lagi, begitukah?"
"Tentu saja Mommy, yang boleh memelukku hanya kekasihku karena aku sudah besar sekarang."
"Jadi Tuan muda kecil kau sudah memiliki kekasih?"
"Tentu saja Mom, gadis kecil itu sangat cantik."
"Siapa?" selidik Ellena penasaran.
"Namanya Lily, dia gadis kecil yang sangat cantik Mom. Aku menyukainya."
Max , kau menurunkan sikapmu pada bocah kecil kita!
"Teman sekolahmu?"
"Ya, kalau aku sudah besar aku akan menikahinya Mom," ucapnya sungguh-sungguh.
Ellena benar-benar speechless mendengar ucapan putranya.
"Ya, kau bisa menikah kalau kau sudah dewasa. Sekarang kau hanya perlu belajar agar menjadi orang sukses dan bisa menikahi gadis kecil itu."
"Ya aku akan berusaha Mom."
"Sekarang pergilah ganti baju, basuh dirimu dan kita makan! Mengerti?"
"Siap Nyonya tua." jawabnya kemudian berlari keluar dari ruang baca sebelum terkena omel Ellena karena memanggilnya nyonya tua.
Benar-benar anak nakal....!
***
Hari sudah beranjak sore, setelah membersihkan diri Ellena dan Raffa berada di gazebo taman sambil menikmati pemandangan taman bunga yang mulai bermekaran.
"Bagaimana kabar Daddy Maxim?" tanya Ellena membuka obrolan ketika bocah kecil itu sibuk menikmati sekotak ice cream yang sangat lezat.
"Baik Mom, satu minggu lagi Daddy Max akan menikah, apakah Mommy dan Daddy Rian akan datang?" tanyanya penuh harap.
"Tentu saja sayang, Mommy akan selalu menemanimu."
"Kemana Daddy Rian? Kenapa belum pulang juga."
"Daddy Rian sedang ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan sayang, sebentar lagi pasti akan pulang," terang Ellena menjelaskan.
Saat akan bangun tiba-tiba Ellena merasakan sakit yang amat dalam di perutnya. Bahkan tanpa sadar Ellena merintih karena tidak kuasa menahan kesakitan yang luar biasa.
Raffa yang berada di sana kebingungan menatap ibunya yang kesakitan.
"Mom, kau baik-baik saja?"
"Perut Mom sakit, sepertinya Mom akan melahirkan," ucap Ellena yang mencengkram erat bajunya sambil meringis kesakitan.
Mendengar itu Raffa langsung saja berlari masuk ke dalam mansion dan berteriak.
"Cepat angkat Mommy, ayo ke rumah sakit sekarang."
Buru-buru dua pengawal tersebut mengangkat Ellena yang sudah dibanjiri keringat dingin.
Mobil yang ditumpangi oleh Ellena, Raffa, Sofi dan beberapa pengawal segera melaju dengan cepat meninggalkan mansion.
Di dalam mobil Ellena merintih kesakitan dan tak kuasa meneteskan air mata karena sakit yang luar biasa.
"Paman, apa kau membawa ponsel? Aku akan menghubungi Daddy," tanya Raffa pada bodyguard yang duduk di sebelah kemudi.
"Ini Tuan muda," ucapnya menyerahkan ponselnya pada anak majikan tersebut.
Dengan cepat Raffa mengetik nomor ponsel Daddy nya, hanya dalam deringan ketiga sambungan itu sudah diangkat.
"Hallo."
"Dad, Mom akan melahirkan!"
"Ya Daddy akan segera pulang."
"Aku sudah berada di mobil yang akan mengantarkan Mom ke rumah sakit."
"Baik, tolong berikan ponselnya pada paman pengawal, Dad ingin bicara."
Setelah menyerahkan ponselnya kembali, Raffa mengenggam tangan sang Mommy dengan perasaan takut.
Tak beberapa lama kemudian tibalah mereka di rumah sakit besar.
Ellena langsung di naikan ke atas brangkar dan dengan cepat di bawah menuju ke ruangan bersalin.
Semua orang menunggu dengan tegang di depan ruangan, tidak lama terdengar suara derap langkah kaki berlari ke arah mereka
"Bagaimana?"
Itu adalah Rian yang datang terburu-buru sambil berlari.
"Nyonya berada di dalam Tuan."
Tanpa banyak bertanya Rian langsung memasuki ruangan bersalin, dilihatnya istri cantiknya sedang merintih kesakitan.
"Sweetheart."
"Aku tidak kuat R, ini sangat menyakitkan," ucapnya dengan nafas tersengal.
"Kau pasti kuat, demi anak kita," ucap Rian memberikan semangat.
"Baik Nyonya, ini sudah waktunya
," ucap dokter tersebut.
"Kau bisa Sweetheart," bisik Rian lirih sebelum mencium kening sang istri.
Hanya butuh beberapa kali dorongan dan tarikan nafas, suara bayi sudah terdengar di ruangan tersebut.
Tiba-tiba...
"Dokter, perutku sakit lagi," teriak Ellena kembali.
"Tarik nafas Nyonya, bayi anda masih ada satu lagi."
"Ma-ma-maksud dokter, bayi saya ada dua? " tanya Rian dengan suara terbata karena terkejut.
"Iya Tuan."
"Kau dengar Sweetheart, bayi kita kembar! Kau pasti bisa," ucap Rian sambil menciumi dahi Ellena.
Tak beberapa lama kemudian, bayi itu kembali lahir.
Hanya selisih sepuluh menit dari yang pertama.
"Selamat Nyonya, Tuan, putra anda lahir dengan sehat dan semuanya tampan," ucap dokter tersebut sebelum pergi dari ruangan.
Terimakasih Tuhan,
Kau memberikan sekaligus dua hadiah terindah pada keluarga kecilku.
***
Kini Ellena sudah dipindahkan ke ruangan VVIP khusus pemilik rumah sakit, semua orang telah berkumpul dalam satu ruangan termasuk keluarga Alexander dan juga keluarga Aljendra.
Wajah-wajah bahagia terlihat dari diri semua orang.
Bahagia karena telah mendapatkan tambahan anggota keluarga.
Baik Rian maupun Ellena tidak menyadari bahwa sebenarnya anaknya kembar.
Tapi Ibu Rian menjelaskan bahwa neneknya Rian sebenarnya adalah kembar, maka dari itu tidak heran jika Ellena dan Rian bisa memiliki keturunan kembar juga.
Sungguh hadiah yang sangat indah.
"Jadi siapa nama mereka?"
"Reno Alexander Aljendra dan Rama Alexander Aljendra."
Welcome to the world my boy twins!
END~