Billionaire Husband

Billionaire Husband
Extra part 4



Follow IG me @mhemeyyy


Di dalam mansion yang megah itu terlihat wanita cantik yang perutnya sudah membesar.


Wanita cantik itu tengah merenggangkan ototnya yang kaku karena hanya berdiam diri di mansion yang megah ini tanpa melakukan apapun.


Kehamilan membuat suaminya sangat overprotektif padanya.


Jangankan untuk sekedar melakukan pekerjaan kantor, ketika dia tengah berjalan-jalan memutari mansion suaminya akan mengomelinya seperti ibu-ibu yang kekurangan jatah belanja.


Rian memilih melakukan pekerjaannya dari rumah karena dia sangat tahu bahwa wanita yang kini menjadi istrinya adalah pribadi yang sangat keras kepala , maka dari itu dia memilih mengalah dan menemani istrinya 24 jam penuh di mansion.


Saat ini mereka bertiga dengan Raffa tengah berada di dalam ruang baca.


Ruangan itu telah disulap menjadi ruang santai dengan karpet bulu yang sangat halus.


Tidak banyak yang dilakukan mereka selain bermalas-malasan dan menonton sebuah film kartun menemani si bocah kecil yang tengah asyik menatap layar yang ada di hadapannya.


"Mommy!"


"Kapan adik lahir?"


"Kenapa?" tanya Ellena balik tanpa menjawab pertanyaan dari putranya.


"Aku sudah tidak sabar, aku akan punya teman main."


"Kan ada Mommy yang selalu menemanimu."


"Mommy membosankan," jawab bocah kecil itu sambil mengerucutkan bibirnya.


"Hei anak nakal, apa yang kau katakan?" Ellena pura-pura marah.


"Daddy," rengek bocah kecil itu pada Rian yang berada di sampingnya.


"Mommymu hanya bercanda sayang, dia hanya sedang kesal karena kau mengabaikannya."


"Really?" tanyanya menatap sang Mommy.


"Yeah, Mommy ingin dipeluk," balas Ellena membuka kedua tangannya.


Tanpa menjawab, bocah kecil itu beralih di depan Ellena dan memeluknya.


"I love you Mom, kau yang terbaik."


"Love you more son," jawab Ellena menciumi pipi Raffa gemas.


"Hei kesayangan, jangan lupakan Daddymu ini. You are a treasure in this life, love you more all," ucap Rian ikut memeluk keduanya.


Tanpa sadar matanya berkaca-kaca, sungguh dia sangat bahagia saat ini.


Bahagia mendapatkan kado terindah yang nyata.


Impiannya


Harapannya


Dan segala sesuatu tentang Ellena telah terwujud.


"Aku bahagia Sweetheart, thankyou."


"Aku juga."


Setelah moment yang mengharukan, tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang berbunyi cukup nyaring terdengar.


Ternyata perut Ellena yang berbunyi, dia hanya tersenyum malu-malu ke arah Rian.


Sedangkan Rian dan Raffa hanya bisa menahan tawa dengan menutup mulut mereka.


Tentu saja mereka tidak akan tertawa karena tidak ingin mendapat tatapan mematikan dari wanita kesayangannya.


Ibu hamil sangat sensitif, dia bisa dengan mudah mengubah mood hanya dalam waktu singkat.


Dan


Pasangan anak dan ayah itu sudah sering kali mengalaminya.


Jadi mereka memilih diam saja walau pada dasarnya mereka ingin sekali tertawa.


"Kau lapar?" tanyanya mengusap perut Ellena yang besar.


"Ya aku lapar, aku mau makan."


"Kau ingin sesuatu?" tanyanya lagi.


"Aku ingin kau membuat brownies," jawab Ellena pelan.


"Baiklah , kau tunggu saja di sini dan jangan turun ke bawah biar aku saja yang ke bawah," jawab Rian sambil mengangguk.


Saat sudah mendekati pintu terdengar suara langkah kaki yang menyusulnya dari arah belakang.


"Aku ikut Dad."


***


Setelah mendengar permintaan istrinya, Rian dan Raffa melangkah menuju ke lantai dasar dimana letak dapur berada.


Rian mendudukan Raffa di meja bar yang ada di dekat dapur, dia sudah berpesan pada sang putra bahwa dia hanya akan melihat saja tanpa membantu.


Bukan apa-apa hanya saja dia ingin cepat selesai karena jika Raffa sudah membantu, bukan cepat selesai tapi mereka akan bermain perang-perangan terlebih dahulu dan itu akan membuat istrinya menunggu lama dan berujung merajuk karena lama menunggu.


Rian sudah memakai apron dan mulai berkutat dengan bahan-bahan yang telah disiapkan.


Walaupun penampilan Rian sedikit acak-acakan jangan lupakan dia masih sangat tampan dan juga sexy ketika dengan lincah tubuhnya bergerak ke sana ke mari.


Sekitar kurang lebih satu setengah jam berada di dapur dan brownis permintaan Ellena telah siap, Rian dan Raffa kembali menghampiri ruang baca.


"Dad."


"Yaa?"


"Mommy tertidur, Dad saja yang membangunkan Mom."


Rian menelan ludah kasar, pasalnya semenjak hamil Ellena menjadi gampang tidur di manapun.


Dia akan sangat kesal ketika tidurnya diganggu.


Dan,


Akan mengomel seharian penuh demi melampiaskan kekesalannya.


"Bantu Dad bangunkan Mommy y, " balas Rian memelas menatap Raffa.


"No Dad, aku takut Mom akan marah," jawabnya langsung.


Rian mendesah pasrah, dia mendekati Ellena dan mengelus pipi wanita itu lembut.


"Sweetheart, bangun aku sudah membutkanmu brownies," ucapnya lembut masih dengan tangan yang mengusap pipinya.


Tidak ada pergerakan apapun dari wanita hamil tersebut.


"Sweetheart, hei! Bangunlah sebentar, kau bilang lapar aku sudah membuatkanmu brownies makanlah lebih dulu mumpung msih hangat," ucapnya lagi sambil menutup hidung Ellena yang mancung.


Seketika Ellena langsung terbangun karena susah bernafas walau hanya beberapa detik saja.


Dengan setengah sadar dia langsung duduk dan menatap tajam pelaku yang berani mengganggunya.


Dengan cepat Raffa langsung menunjuk Rian dengan dagunya.


"Kau selalu menganggu tidurku," gerutu Ellena menatap Rian.


"Maaf Sweetheart, brownies pesananmu sudah matang. Makanlah dulu lalu kau boleh tidur lagi, tidak baik tidur dalam keadaan perut lapar apalagi di sini ada yang menunggu," jawabnya menjelaskan dan memegang perut Ellena.


Rian meletakan brownies yang di hadapan Ellena.


"Aku tidak ingin makan R."


"Kau tadi kan memintanya Sweetheart."


"Aku sudah kenyang, aku menghabiskan cookies dari Mommy," tunjuk Ellena pada toples yang sudah kosong.


"Makanlah sedikit saja, tadi kau bilang ingin makan itu," jawabnya masih membujuk Ellena.


"Aku hanya mengatakan ingin kau membuatnya bukan berarti aku ingin memakannya," terang Ellena kembali merebahkan diri.


Seketika Rian langsung mendekati Raffa dan duduk di sampingnya.


Raffa hanya tertawa kecil melihat itu.


Sedangkan Rian,


Ingin sekali dia memarahi istrinya yang mengerjainya.


Tapi apalah daya dia tidak berani melakukan itu.


Dia hanya menghela nafas dan memijit pelipisnya yang pusing.


"Bersabarlah Dadi, ini karena kau juga telah membuat perut Mom besar."


❤️❤️❤️❤️❤️


JANGAN LUPA LIKE KOMENT DAN BERIKAN VOTE 🤗🙏


*


Ajak temen kalian buat baca cerita ini yaaa 😚❤️