Become Rich In Another World

Become Rich In Another World
Chapter 08 | Pompa air dan Teman lama



...Chapter 08. Pompa air dan Teman lama....


Setelah malam yang panjang berlalu. Kini, matahari baru mulai terbit di desa Raflesia.


Aku pun mendengar bahwa ada warga yang juga petualang memeriksa keadaan sarang Goblin dan dia pun terkejut lantaran sarang Goblin sudah dimusnahkan dan tidak ada satu pun yang tersisa meski begitu, mereka pun menduga adanya pahlawan yang menyelamatkan warga dengan diam-diam dan hal itu membuat semua warga desa bersukacita.


Seusai memandangi alam sejenak, aku pun pergi menimba air dan memasukkan nya kedalam kamar mandi. Jujur hal ini sangat melelahkan maka dari itu, aku membuat saluran air yang langsung ke kamar mandi.


Pertama-tama, aku membeli beberapa barang diantaranya;


Pompa air tenaga Surya, 2m;


Toren, 1000 liter, 2m;


Gergaji besi, 100k;


Pipa, 200k;


Sambung pipa, 50k;


Lem pipa, 10k;


Paku, 10k;


Dan, Palu, 50k;


Setelah membeli semua itu, aku pun merakitnya dibelakang rumah dan menyambung pipa kedalam sumur ke toren. Lalu, dari toren aku menyambungkan pipa ke kamar mandi. Hal hasil, air pun bisa keluar langsung ke kamar mandi melalui pipa langsung.


Melihat air yang begitu deras keluar ke kamar mandi, aku pun membeli kran seharga 20k untuk mengatur pengeluaran air dan hal hasil kamar mandi tradisional sudah memiliki teknologi modern.


Seusai itu, aku membuat persembahan untuk Dewi Alam berupa apel Fuji premium seharga 500k per keranjang nya.


Lalu, aku juga memberikan persembahan sop buah untuk Dewa Kehidupan, 25k dan semangkuk bakso porsi lengkap, 30k untuk Dewi Jahat.


Beberapa lama kemudian, aku mendengar suara Clara seraya mengetuk pintu.


"Permisi, Rudi!" Seru Clara seraya mengetuk pintu.


Mendengar itu, aku pun membukakan pintu.


"Hei, Clara. Selamat pagi!" Sapa ku.


"Selamat pagi juga Rudi! Aku kesini membawa sarapan."


"Maaf, merepotkan!"


"Tidak. Tidak sama sekali." Clara menundukkan kepalanya dan tersipu malu. "Karena saya sangat senang membuat makanan untuk Rudi."


"Iya, aku juga senang menyantap makanan buatan Clara."


Mendengar ucapan ku, Clara sontak melihat ku dengan senyuman lebar.


"Benarkah?"


"Iya."


Dan, jawaban ku itu membuat senyuman semakin lebar.


Sesudah itu, aku pun sarapan bersama Clara didalam dan setibanya, didalam Clara terkagum-kagum melihat kebersihan dan kerapihan dari rumah ku itu.


"Saya tidak menyangka rumah kumuh ini bisa sebersih ini dan wangi. Sungguh nyaman nya!"


Bicara soal wangi, di beberapa ruangan aku menempatkan pewangi ruangan otomatis yang ku beli seharga 100k per item nya.


Beberapa saat kemudian, Clara teringat sesuatu. "Ah, benar. Saya ingin baru teringat." Clara menghampiri ku dan memegang tangan ku. "Tadi malam, ada serangan Goblin? Apakah Rudi, baik-baik saja?"


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja."


"Tetap saja, saya sedikit cemas dan ayo kita ke gereja?"


"Gereja?"


"Iya, saya dengan semalam ada suster yang baru datang ke desa. Dia langsung memeriksa dan menyembuhkan beberapa warga yang terluka akibat serangan Goblin tadi malam."


Mendengar itu, aku pun sedikit penasaran dengan suster itu meski aku sebenarnya tidak terluka namun, ini bisa menjadi alasan untuk menemui nya.


Mungkin saja, suster itu cantik dan bisa menjadi salah satu Harem ku meski, aku sudah mengincar Clara lantaran dia juga cantik dan memiliki payudara yang besar.


Beberapa kali aku sempat menikmati empuk buah dada nya hingga membuat ku jatuh cinta kepada nya.


Sebenarnya, aku bisa saja mengunakan aplikasi hipnotis kepada nya agar aku bisa menikmati seluruh tubuh nya namun, jika aku melakukan itu sama saja melakukan hubungan *** dengan boneka.


Aku hanya ingin berhubungan tanpa ada paksaan.


Mendengar pertanyaan Clara, aku pun melepaskan lamunan.


"Iya, aku juga merasa tidak enak badan."


Setelah itu, aku dan Clara pun pergi ke gereja yang ada di pusat desa. Sebenarnya, di desa Raflesia ini belum ada gedung gereja namun, para warga mempersiapkan gereja di sebuah rumah yang cukup besar.


Dan, kami pun tiba di gereja dan masuk ke dalam.


Setibanya disana, kami disambut oleh sosok gadis cantik dengan kerudung tipis nya namun, aku mengenalnya.


"Selam-. Rudi, kamu tinggal disini?!" Ucap kaget gadis berkerudung.


Saat dirinya kaget, aku pun juga sama kaget nya lantaran gadis yang ada di hadapanku adalah salah satu dari teman sekelas, dia bernama ...


"Nabila, apa kabar mu?"


"Baik, kamu?"


"Seperti yang kamu lihat."


Lalu, aku dan Nabila pun saling bertukar senyum.


Melihat tatapan kami, Clara sontak batuk sengaja.


"Hugh! Bisa bicara nya nanti saja? Kami kesini untuk memeriksa Tuan Rudi!"


"Oh, iya. Mari Tuan Rudi, silahkan duduk! Biar saya periksa!" Seru Nabila dengan senyuman kecil karena dia mengikuti panggilan Clara.


Aku pun hanya menghela nafas panjang dan mengikuti arahan dari Nabila.


"Baiklah, saya akan memulai sihir pengobatan nya."


Seusai mengatakan itu, Nabila meluruskan kedua tangan nya kearah ku seraya merapalkan sihir nya.


"Recovery."


Sesaat merapalkan itu, aku pun diselimuti oleh cahaya hijau dan rasa lelah pun hilang.


"Jadi, inikah sihir penyembuhan!"


"Bukan, ini skill unik penyembuhan, Recovery. Sebuah skill unik yang mampu menyembuhkan segala penyakit apapun."


"Wow! Bukankah, itu sangat luar biasa!"


"Tidak juga, itu biasa saja karena recovery tidak bisa menyembuhkan luka luar maka dari itu lah, aku belajar sihir penyembuh dan itu juga belum bisa mengobati luka luar yang berat. Hehehe..." Jawab Nabila yang diakhiri dengan tawa kecil.


Aku pun juga tertawa kecil.


Lalu, tanpa aku dan Nabila sadari. Clara menjadi kesal melihat kami.


"Nona Nabila, bisakah lebih cepat?! Tuan Rudi, sangat sibuk hari ini!" ketus Clara.


"Iya. ya. Sabar ya cantik," jawab santai Nabila.


Memahami itu, aku pun bangkit diri dan bergantian duduk dengan Clara.


Lalu, Nabila mengunakan skill unik nya untuk menyembuhkan luka dalam Clara.


"Baiklah, sudah selesai. Nona bisa berdiri!" Ucap Nabila seraya menurunkan tangan nya.


Clara yang mendengar itu, dia sontak berdiri dan tanpa bahasa, dia melangkah ke samping ku.


Nabila yang melihat sikap Clara, dia pun tertawa kecil dan menatap ku.


Aku pun hanya memberikan respon senyuman kecil.


"Semua nya berapa?"


"Satu koin emas saja." Jawab Nabila.


Mendengar itu, aku mengambil satu koin emas dari sihir item box. "Ini uang nya!"


"Terimakasih," jawab Nabila seraya menerima satu koin emas dari ku.


Sesudah itu, Clara sontak menarik ku keluar gedung, "Ayo kita pergi dari sini, Tuan Rudi!"


"Iya. ya," jawab ku sambil berjalan paksa karena di gandeng oleh Clara yang sedang berjalan.


Dengan senyuman lebar, Nabila melambaikan tangan. "Sampai berjumpa lagi!"


Dan, aku pun mengantar Clara pulang.