Become Rich In Another World

Become Rich In Another World
Chapter 26 | Juan



...Chapter 26. Juan...


Juan bukanlah orang asing bagiku. Dia lah salah satu teman di kelas meski begitu jika aku di bully. Dia tetap diam walaupun begitu itu hal yang wajar karena dia juga sosok yang lemah seperti itu.


Melihat nya, aku jadi teringat sebuah kejadian yang mana saat itu, kami baru selesai ujian dan walikelas masuk membawa setumpuk kertas.


"Ayo anak-anak! Semuanya duduk!"


Semua para murid dikelas pun bergegas kembali ke bangku mereka dan duduk dengan rapih.


Aku yang terbiasa tidur di kelas jadi terbangun akan kehadiran walikelas kami. Lalu, Bu guru duduk dan menaruh tumpukan kertas itu diatas meja nya.


"Anak-anak hasil ujian kalian sudah keluar. Jadi, persiapan diri kalian!"


Beberapa murid merasa antusias terutama para murid wanita yang mungkin sudah bekerja keras untuk belajar namun tidak sedikit yang cuek dan tidak peduli dengan hasil ujian termasuk aku.


"Oke, Ibu akan bagikan!"


Walikelas pun memanggil kami satu persatu muridnya sesuai absen dan tibalah nama ku disebut. Sebelum menerima itu, teman-temannya sudah tertawa kecil dan berbisik-bisik seraya melihat ku.


Meski, aku menyadarinya. aku lebih memilih diam dan terus melangkah kedepan menghampiri walikelas untuk mengambil hasil ujian.


Setibanya di dekat walikelas, beliau menatap tajam sambil memberikan kertas ujian.


"Rudi, ikut ibu ke kantor jam istirahat nanti!"


"Baik, Bu."


Aku pun menerima hasil ujian itu dan membalikan badan untuk kembali ke bangku sambil melihat hasil nilai yang didapatkan nya dan aku pun mendapatkan nilai 30.


Salah satu teman pria sekelas sontak menghampiri dan langsung merangkul ku. Dia bernama Jack, murid yang bandel juga selalu mendapatkan nilai yang jelek


"Rudi, kamu dapat berapa?" tanya Jack seraya mengambil kertas ku dan melihat nilainya.


Jack pun mengambil kertas itu dan memamerkannya. "Semuanya, Rudi peringkat pertama bawah dan saya jadi peringkat kedua terbawah. Hahaha ..."


Semua murid disana pun menertawakan nya. Aku hanya bisa menghela nafas lantaran itu bukan sekali dua kali aku mendapatkan perlakuan seperti itu.


Lalu, aku hanya berjalan kembali ke bangku dan walikelas juga hanya menggelengkan kepalanya.


Ada juga siswi yang mencuri pandang kepada ku dengan tatapan simpatik namun, disaat aku melihatnya kembali. Dia membuang muka. Dia Nabila.


Sedangkan, Juan yang duduk didepan ku sontak berbalik badan dan bergumam.


"Maaf!"


Aku pun hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.


Dan, saat ini Juan berada dihadapan ku dengan memohon pekerjaan.


"Kalau begitu, izinkan aku menjadi bawahan mu! Aku mohon!"


"Eh? Kamu sungguhan?"


"Iya, saya tidak menyangka kalau hidup di dunia lain juga sulit tidak seperti di novel dan anime. Uang tetaplah nomor satu."


"Aku mengerti. Jadi, apa kemampuan mu?"


"Saya memiliki skill Job Chef. Jadi, saya akan berguna selama kamu memperkerjakan ku di kedai ini dan pasti nya kamu harus membayar saya. Hahaha ..."


Aku yang melihat ekspresi Juan membuat ku ikut tertawa kecil juga. "Sebelum itu, aku ingin kamu menunjukkan kemampuan mu."


"Tentu saja. Oiya, sebenarnya apa kemampuan mu?"


Aku sudah tahu bahwa pertanyaan itu cepat atau lambat yang dilontarkan kepada ku maka aku akan menjawab satu kemampuan ku saja.


"Toko online. Aku bisa membeli benda apapun di bumi melalui aplikasi Online," seru ku seraya memamerkan smartphone ku yang sudah berubah menjadi IPHONE Pro Max 15 yang telah ku beli seharga 40 juta rupiah sebagai ponsel kedua ku.


Terlebih lagi, aku telah menempatkan sistem baru yang ku buat sendiri dengan mengunakan Aplikasi 1.000 Account.


Dalam penjelasan dan pemahaman ku, aplikasi seribu Akun memiliki kemampuan untuk membuat duplikat aplikasi dan aplikasi yang ku duplikasi yakni aplikasi Online Store di iPhone pro max 15.


Mendengar kemampuan ku, Juan pun terkagum-kagum. "Saya tahu, Rudi. Kamu bukan orang biasa."


"Kamu terlalu berlebihan."


Lalu, aku dan Juan saling bertukar senyum.


"Jadi, bagaimana kabar teman-teman yang lain?"


Juan pun bercerita tentang perbedaan pendapat saat Haikal jatuh dari jurang dan semua teman-teman sekelas memutuskan untuk berpisah dan keluar dari akademi.


"... termasuk Dina."


Mendengar itu, aku pun menghela nafas panjang.


"Oh, begitu. Seperti nya mereka meremehkan dunia ini dan merasa sombong."


"Termasuk saya. Hehehe ... Bagaimana tidak sombong. Masing-masing dari kita mendapatkan kemampuan yang luar biasa meski begitu ... masalah malah lebih banyak dan lebih bahaya dibandingkan bumi."


"Benar juga sih ya."


Lalu, Juan mengalihkan topik pembicaraan.


"Ne .. Rudi, apakah kamu masih suka sama Dina?"


"Kalau dibilang suka iya. Tapi ... aku beda dunia."


"Aish ... ini dunia lain bukan di bumi dan ku merasa kamu itu lebih kuat."


"Alah, kamu berlebihan. Baiklah, kembali ke topik. Aku akan mengadakan ujian dengan membuatkan masakan untuk kami."


"Kami?"


"Aku, Fina dan Y'shtola."


Lalu, aku pun memperkenalkan Fina dan Y'shtola yang membuat Juan sangat senang mengenal mereka begitu juga Fina dan Y'shtola, mereka juga terlihat senang bertemu dengan Juan.


Setelah itu, aku pun menguji nya dengan menyuruh Juan untuk membuatkan nasi goreng spesial.


Dan, tanpa berat hati. Juan memasaknya.


Juan yang memiliki Skill Job Chef memiliki kemampuan khusus yakni alat dapur serba bisa.


Lalu, aku, Fina dan Y'shtola memperhatikan Juan dalam memasak.


Pertama-tama, Juan menyalakan kompor portabel yang mengunakan baterai. Lalu, dia pun memanggil alat nya.


"Datang. Penggorengan."


Sesaat kemudian, muncul penggorengan hitam pekat dengan ukuran kecil namun, Juan merapalkan skill lanjutan nya.


"Resize."


Penggorengan yang kecil berubah menjadi penggorengan sedang.


Lalu, Juan mengambil minyak goreng dan menunggu panas. Seusai itu, memasukkan telur dan beberapa bumbu serta diaduk rata.


Setelah nya, Juan memasukan nasi yang sudah dimasak sebelum nya di rice cooker baterai.


Seusai itu, Juan mengaduk rata dan memasukkan beberapa bahan lagi seperti daging, sosis dan sebagainya. Lalu, diaduk rata.


Setelah terlihat matang, Juan pun menyajikan nasi goreng itu diatas piring dan memberikan nya kepada kami bertiga.


"Silahkan!" seru Juan.


Fina dan Y'shtola yang melihat nasi goreng itu tidak sabar ingin segera mengicipinya.


"Ayo kita makan!" seru ku.


Mendengar itu, Fina dan Y'shtola sontak melahap nasi goreng itu dengan lahap dan cepat.


"Rudi, cepat makan dan nilai masakan ku!" seru semangat Juan.


Lalu, aku pun menyantap nasi goreng itu dan rasa nya sungguh lezat.


"Enak! Kamu memang berbakat!" ucap ku seraya mengacungkan jempol kepada Juan.


"Hehehe ... Terimakasih, Rudi. Fina, Y'shtola." Lalu, Juan menghampiri ku. "Bagaimana hasil nya? Apakah aku diterima?"


Aku pun mengangguk kepala dan tersenyum. "Iya, kamu diterima, Juan."


Mendengar itu, Juan sontak meraih tangan ku. "Terimakasih, Rud-. Ketua. Mulai saat ini, saya akan bekerja sebaik mungkin."


Setelah itu, Juan bekerja sebagai koki di Kedai Fina dan membuat kedai semakin ramai di kunjungi.